Survei Tercepat, Internet Masih Lemot

Illustrasi

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Laporan situs penyedia pengujian kecepatan internet Speedtest menjadi perhatian di Bekasi. Pasalnya, Kota Bekasi ada di urutan 134 dari 170 kota di dunia atau paling cepat diantara kota lain di Indonesia. Namun, penilaian kecepatan internet ini masih mengundang pertanyaan, mulai dari metode yang digunakan hingga titik lokasi pengujian.

Kota dengan kecepatan internet tertinggi di dunia adalah Shanghai, kecepatannya mencapai 158,63 Mbps. Berada di posisi ke 134, kecepatan download di Bekasi tercatat 16,47 Mbps, kecepatan upload 11,64 Mbps, dengan latensi 23ms.


Kota lain di Indonesia yang masuk dalam daftar adalah Jakarta Selatan, dengan kecekatan download 16,14 Mbps, kecepatan upload 10,90 Mbps, dengan latensi 24ms. Angka ini tercatat pada kategori mobile.

Pada kategori Fixed Broadband Bekasi juga mengungguli Jakarta Selatan, dengan kecepatan download 27,04 Mbps, kecepatan upload 11,61 Mbps, dengan latensi 5ms. Dalam kategori ini, Bekasi berada di posisi 136, lebih rendah.


Mengukur kecepatan internet di wilayah Kecamatan Bekasi Selatan, hasilnya kecepatan download Kamis (20/10) siang tercatat 15,6 Mbps, sedangkan kecepatan upload 6,84, dengan latensi 4md.

Menjadi salah satu kota di Indonesia yang masuk daftar Speedtest Global Index, serta berada di peringkat lebih tinggi dari Jakarta Selatan menjadi perhatian. Kabar ini ikut direspon oleh Plt Walikota Bekasi, Tri Adhianto

“Alhamdulillah, Kota Bekasi menjadi kota di Indonesia dengan jaringan internet tercepat,”buat Tri saat membuka kegiatan monitoring dan evaluasi serta uji public Penerapan keterbukaan informasi public 2022, kemarin.

Mengantongi predikat jaringan internet tercepat di Indonesia, ternyata tak jaminan. Salah seorang tim penilai Uji Publik justru mengaku tak bisa mengakses internet melalui jaringan wifi yang ada di Gedung Pemerintahan Kota Bekasi,”Tidak bisa dibuka dari tadi. Ini saya pakai paket data sendiri, gak bisa pakai internet,”katanya.

Pengamat Internet Development Institute, Alfons Tanudjaya mengatakan bahwa kecepatan internet dapat dilihat dari penyebaran fiber optik di satu daerah, membawa koneksi internet tercepat dan terhandal. Daerah dengan koneksi internet paling cepat kata Alfons, adalah daerah yang memiliki sebaran fiber optik terluas.

Ia membandingkan dengan dengan sebaran fiber optik di kawasan Sudirman atau Thamrin, dan beberapa wilayah lain di Jakarta, termasuk Jakarta Selatan, seharusnya kecepatan internet paling cepat tidak di Bekasi.

“Bekasi kalau misalnya diadu dengan Sudirman Thamrin, rasanya sih di Indonesia belum ada yang bisa menangin Sudirman Thamrin ya speednya,” kata Alfons, Kamis (20/10).

Sementara pada kategori mobile, kecepatan internet akan sangat bergantung pada operator selular yang digunakan oleh masyarakat. Ia sempat memeriksa kecepatan internet di tempatnya berada, yakni di Jakarta Selatan.

Hasilnya, kecepatan download pada jaringan internet mobile miliknya mencapai 32,6 Mbps, kecepatan upload 10,0 Mbps. Sedangkan dengan metode Fixed Broadband, kecepatan download tercatat 79,69 Mbps, sedangkan kecepatan upload 80,21 Mbps.

Hasil pengujian kecepatan internet oleh Speedtest kata Alfons memiliki beberapa kemungkinan. Pertama, titik lokasi tidak sama, misalnya pengujian di satu lokasi dilakukan di tengah kawasan industri atau di kawasan bisnis dengan kecepatan internet yang baik, sementara di daerah lain dilakukan di tengah pemukiman warga, hal ini dapat mempengaruhi kecepatan jaringan internet.

Kedua, terdapat kemungkinan server Speedtest berada di Bekasi, jarak yang dekat antara titik pengujian dengan titik server juga akan mempengaruhi kecepatan internet. Apapun yang terjadi kata Alfons, laporan pengujian tersebut membawa kebaikan bagi Bekasi.

Namun, ia mengingatkan bahwa kecepatan jaringan internet bukan segala-galanya, terlalu lambat tidak produksi, terlalu cepat pun tidak memberikan banyak manfaat. Bahkan jika koneksi jaringan internet di satu wilayah super cepat, akan cenderung membawa masyarakat ke zona nyaman.

“Jadi jangan masyarakat mendapatkan kesan bahwa speednya kencang pasti bagus, pasti maju, tidak. Untuk masalah speed itu memang terlalu lambat tidak akan produktif, tapi kalau terlalu kencang juga tidak akan memberikan manfaat,” tambahnya.

Laporan ini juga bisa menjadi bahan evaluasi, bahwa koneksi jaringan internet di Indonesia masih perlu banyak perbaikan, jika dibandingkan berbagai kota di negara lain. Dari sisi perkembangan internet, secara umum Alfons menilai Indonesia sudah cukup baik, hanya kecepatan jaringan internetnya perlu ditingkatkan, kecepatan ideal menurutnya berkisar 50 Mbps.

Terpisah, Direktur Eksekutif ICT Institute, Heru Sutadi mengatakan bahwa ada banyak metode yang digunakan untuk menguji kecepatan koneksi jaringan internet. Metode yang pertama, pengujian kecepatan jaringan internet bisa dilakukan dari titik pengujian ke titik server, lokasi dimana data center ditempatkan.

Kedua, kecepatan jaringan internet di Bekasi bisa saja didukung oleh pembangunan menara BTS yang masif, serta mengadopsi teknologi terkini, seperti 5G.”Tapi bisa juga karena sekarang banyak data center di tempatkan di Bekasi dan juga Jakarta Selatan, sehingga dua wilayah ini kecepatan internetnya tinggi,” paparnya.

Dengan kecepatan jaringan internet yang tergolong tinggi dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia, Heru mengingatkan penggunaan internet tidak menyimpang, atau digunakan untuk hal-hal negatif. Sedianya, tingginya kecepatan jaringan internet bisa dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas bisnis dan lainnya.

“Melainkan harus gunakan internet untuk lebih kreatif, bisa mendukung bisnis, layanan pemerintahan, kesehatan, dan pendidikan, serta hal baik lainnya agar memberikan kemajuan bagi warga di sana,” tandasnya. (Sur)