Berita Bekasi Nomor Satu

Saksi Mata Lihat Mobil MBG Menabrak Pedagang di Bekasi Timur Melaju Kencang

Kondisi mobil operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) program Makan Bergizi Gratis (MBG) ringsek usia menabrak lapak pedagang di depan sebuah minimarket Jalan Kalimantan Raya, Perumnas III, Kelurahan Aren Jaya, Kecamatan Bekasi Timur, Selasa (12/5). FOTO: RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Suara benturan keras memecah siang di Jalan Pulau Kalimantan Raya, Perumnas Tiga, Kelurahan Aren Jaya, Kecamatan Bekasi Timur, Selasa (12/5) sekitar pukul 11.15 WIB. Dalam hitungan detik, dua gerobak pedagang di depan minimarket luluh lantak dihantam mobil Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) program Makanan Bergizi Gratis (MBG).

Di tengah kepanikan warga, seorang pedagang tahu krispi bernama Sanoeri (41) terkapar dengan luka parah di kepala. Nyawanya tak tertolong setelah sempat menjalani perawatan di rumah sakit. Sementara seorang pedagang ayam goreng mengalami luka ringan.

Peristiwa itu masih membekas di ingatan Yuli (53), warga yang nyaris menjadi korban. Siang itu ia baru saja keluar dari minimarket dan menyeberang jalan ketika mobil SPPG melaju dari kejauhan dalam kondisi tidak stabil.

“Mobil ini dari arah sana sudah oleng, kalau nggak nyebrang pasti kita yang kena,” ujarnya saat ditemui di lokasi kejadian.

Menurut Yuli, kendaraan tersebut melaju cukup kencang di jalan yang relatif sempit. Mobil tidak berhenti setelah menabrak gerobak pertama milik pedagang tahu krispi. Kendaraan terus meluncur hingga menghantam pedagang ayam goreng yang berada tepat di depan minimarket.

“Suara tabrakannya keras banget, sampai saya aja kaget,” katanya.

Benturan keras membuat warga sekitar berhamburan. Beberapa orang berlari mendekati lokasi untuk menolong korban. Di antara reruntuhan gerobak dan barang dagangan yang berserakan, Yuli melihat kondisi Sanoeri paling memprihatinkan.“Kalau yang pedagang tahu krispi ini parah ya, posisinya di sini sudah kritis,” tambahnya.

Pedagang ayam goreng disebut mengalami luka di bagian tangan setelah sempat terjepit gerobak. Yuli juga melihat dua orang di dalam mobil SPPG mengalami luka di kepala.

Tidak lama setelah kejadian, warga bersama petugas mengevakuasi korban ke rumah sakit terdekat. Gerobak yang sehari-hari menjadi sumber penghasilan korban tampak hancur. Potongan kayu, kaca, dan peralatan dagang berserakan di tepi jalan.

Di rumah sakit, keluarga korban mulai berdatangan. Kakak Sanoeri, Sunendar (51), mengaku pertama kali mendapat kabar kecelakaan dari tetangga ketika sedang bekerja di Jakarta Timur.

“Saya cuma diinfoin, bang balik, adenya masuk rumah sakit kecelakaan,” ujarnya.

Tanpa berpikir panjang, ia langsung berangkat menuju Bekasi. Saat tiba di rumah sakit, kondisi adiknya sudah tidak sadarkan diri akibat luka parah di kepala.

“Kondisinya belum sadar,” katanya lirih.

Sunendar mengatakan pihak pengelola SPPG telah menemuinya dan menyatakan siap bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Namun, di tengah harapan keluarga agar korban selamat, kabar duka justru datang beberapa jam kemudian. Tepat pukul 14.40 WIB Sanoeri dinyatakan meninggal dunia setelah menjalani penanganan medis.

Jenazah kemudian dibawa ke rumah duka di kawasan Aren Jaya. Suasana haru langsung menyelimuti lingkungan tempat tinggal korban. Tangis keluarga pecah ketika jasad Sanoeri tiba di rumah.

Ketua RW 02 Kelurahan Aren Jaya, Sri Suryani, mengatakan Sanoeri dikenal sebagai sosok pekerja keras dan ramah di lingkungan sekitar. Sehari-hari ia berjualan tahu krispi untuk menghidupi istri dan seorang anak laki-lakinya yang masih berusia empat tahun.

“Sempat dibawa ke rumah sakit, meninggal tadi kurang lebih setengah tiga,” ujar Sri.

Hingga malam hari, warga terus berdatangan melayat ke rumah duka. Sebagian besar masih sulit percaya kecelakaan maut itu terjadi di jalan lingkungan yang sehari-hari ramai dilalui warga dan pedagang kecil.

Di sisi lain, polisi masih mendalami penyebab pasti kecelakaan tersebut. Kasatlantas Polres Metro Bekasi Kota, Gefri Agitia, mengatakan pihaknya telah melakukan olah tempat kejadian perkara, mengamankan barang bukti, dan memeriksa sejumlah saksi.

“Ini kita sementara masih di TKP. Tadi sudah dilakukan olah TKP. Sementara ini kita sudah mengamankan barang buktinya, kemudian kita juga sudah mengumpulkan para saksinya,” ujarnya kepada wartawan.

Polisi juga telah meminta rekaman CCTV di sekitar lokasi guna memperjelas kronologi kejadian.

“Sementara ini kita masih mendalami, kemudian untuk CCTV kita juga sudah minta,” katanya.

Dalam kejadian tersebut, Sopir mobil SPPG berinisial WS (57) juga mengalami luka ringan dan kini diamankan untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Menurut Gefri, berdasarkan keterangan sementara sopir, kecelakaan bermula ketika kendaraan melintas dari tikungan dan berusaha menghindari sepeda motor di depannya. Namun, sopir diduga salah menginjak pedal gas ketika hendak mengerem.

“Ketika mencoba menghindari kendaraan tersebut, tidak sempat menghindar dan tidak menginjak rem tetapi gas, informasi dari sopir. Sehingga dia banting setir dengan kecepatan penuh dan menabrak dua gerobak,” jelasnya.

Pernyataan itu memunculkan pertanyaan baru di tengah masyarakat. Warga sekitar mengaku mobil SPPG tersebut memang kerap melaju cepat di jalan sempit kawasan permukiman.

“Memang sering ada keluhan dari masyarakat, mobil ini kerap melaju dengan kecepatan tinggi di jalan sempit,” ungkap Gefri.

Fakta itu membuat kecelakaan ini tidak hanya dipandang sebagai musibah biasa, tetapi juga menjadi peringatan soal keselamatan kendaraan operasional program pelayanan publik di kawasan padat penduduk.

Polisi kini masih memeriksa kondisi kendaraan, termasuk uji kelayakan mobil SPPG. Tiga saksi telah dimintai keterangan, mulai dari juru parkir, pedagang di depan minimarket, hingga saksi lain yang berada di lokasi. Selain sopir, pihak pengelola dapur SPPG juga akan dipanggil untuk dimintai penjelasan.

“Iya, kita lagi dalami juga. Semua akan dipanggil untuk menemui titik terang,” tutup Gefri.

Di balik proses penyelidikan itu, keluarga Sanoeri kini hanya bisa menerima kenyataan pahit. Gerobak kecil yang selama ini menjadi sumber nafkah keluarga telah hancur, sementara seorang ayah muda harus pergi meninggalkan istri dan anaknya akibat kecelakaan yang terjadi hanya dalam hitungan detik.(sur/rez)