Berita Bekasi Nomor Satu

Haji Wali Kota

Oleh: Miftakhudin

Wapemred Radar Bekasi, Miftakhudin, bersama Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, di Padang Arafah. FOTO: ISTIMEWA

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Setelah beberapa kali gagal bertemu, akhirnya saya bisa juga berjumpa dengan Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, di Tanah Suci. Pertemuan itu terjadi di Padang Arafah, di tengah deretan tenda putih yang membentang luas di bawah terik matahari gurun.

Sebelumnya kami sudah dua kali membuat janji bertemu di hotel tempat ia menginap di Makkah. Namun setiap saya datang, Tri sedang keluar menjalankan aktivitas ibadah maupun agenda lainnya. Baru saat puncak haji di Arafah, pertemuan itu akhirnya benar-benar terjadi.

“Alhamdulillah akhirnya kita ketemu juga,” ujar Tri sambil tersenyum ketika saya mendatanginya di Maktab 23, Selasa (26/5).

Maktab yang ditempatinya berada tepat di bawah kaki bukit. Lokasinya cukup jauh dari tenda saya di Maktab 18. Untuk mencapainya, saya harus berjalan kaki melewati lorong-lorong tenda yang dipenuhi jemaah dari berbagai negara. Di sepanjang jalan, lautan manusia tampak bergerak perlahan sambil membawa perlengkapan masing-masing untuk menjalani wukuf.

Tri menunaikan ibadah haji bersama istrinya, Wiwik Hargono. Keduanya tergabung dalam Kloter 25 JKS. Bagi Tri, perjalanan kali ini bukan yang pertama. Ia mengaku pernah berhaji pada tahun 2005.

“Dulu yang pertama tahun 2005,” katanya sambil mengenang perjalanan hajinya terdahulu.

Meski datang sebagai kepala daerah, suasana haji tetap dijalaninya layaknya jemaah biasa. Di tenda Arafah maupun Mina, ia membaur bersama jemaah asal Kota Bekasi lainnya tanpa pengawalan khusus. Ia duduk, beristirahat, dan beribadah bersama para jemaah lain dalam suasana yang sederhana.

Di sela pertemuan itu, Tri juga bercerita tentang pengalaman kurang menyenangkan saat keberangkatan menuju Arab Saudi. Pesawat yang ditumpanginya mengalami keterlambatan cukup lama akibat gangguan pendinginan.

“Seharusnya berangkat jam 5 sore, tapi baru takeoff jam 11 malam,” ujarnya.

Ia berangkat dari Jakarta pada 18 Mei 2026. Selama proses perbaikan pesawat, seluruh penumpang diminta tetap berada di dalam kabin.

“Kami tak boleh keluar pesawat, hanya di dalam saja,” katanya.

Namun dari situlah, menurut Tri, pelajaran tentang kesabaran mulai dirasakan seorang calon haji. Baginya, ibadah haji bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga latihan mental dan keikhlasan menghadapi berbagai ujian.

“Di situlah letak kesabaran seorang calon haji dimulai. Salah satu ibadah haji itu memang melatih kesabaran,” tuturnya.

Di tengah kesibukannya sebagai wali kota, Tri mengaku ingin memanfaatkan momentum haji untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus memahami kembali makna pengorbanan Nabi Ibrahim AS. Ia pun menitipkan pesan kepada masyarakat Kota Bekasi agar dapat mengambil hikmah dari ibadah kurban dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.

“Teladani Nabi Ibrahim. Maknai hakikat berkurban bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk masyarakat,” katanya.

Tri sendiri berencana kembali ke Indonesia lebih awal, yakni pada 13 Juni mendatang. Jadwal itu berbeda dengan sebagian jemaah asal Bekasi lainnya yang baru dipulangkan pada 25 Juni setelah lebih dulu masuk asrama haji.

Secara umum, kepulangan jemaah haji Indonesia telah diatur sesuai jadwal kloter oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Pemulangan berlangsung bertahap mulai 1 Juni hingga 1 Juli 2026. Adapun mekanisme pulang lebih cepat atau tanazul hanya diperbolehkan untuk kondisi tertentu, seperti alasan kesehatan atau kepentingan dinas yang mendesak.

Kepala Kemenag Kota Bekasi, Rian Fauzi, mengatakan pengajuan kepulangan lebih awal harus melalui proses verifikasi oleh Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH).

“Kalau wali kota pasti masuk dalam kondisi khusus,” kata Rian.

Meski demikian, pemerintah menegaskan fasilitas tersebut tidak bisa diberikan sembarangan karena tetap bergantung pada hasil verifikasi dan ketersediaan kursi penerbangan.

Di tengah hiruk-pikuk jutaan jemaah di Arafah, pertemuan singkat itu terasa hangat dan sederhana. Tidak ada jarak antara wali kota dan jemaah lainnya. Yang tampak hanyalah seorang tamu Allah yang sedang belajar sabar dan khusyuk menjalani perjalanan spiritual di Tanah Suci.(*)