RADARBEKASI.ID, BEKASI – Sepekan menjelang dimulainya tahun ajaran baru 2026/2027, denyut perdagangan seragam sekolah di Pasar Kranji Baru, Bekasi Barat, belum menunjukkan geliat seperti tahun-tahun sebelumnya.
Lapak-lapak yang biasanya dipadati orang tua dan calon siswa masih tampak lengang. Pedagang pun mengaku omzet penjualan turun hingga sekitar 50 persen dibanding musim penerimaan siswa baru tahun lalu.
Salah seorang pedagang seragam di Pasar Kranji Baru, Rani mengatakan, perubahan kondisi tersebut sangat terasa. Pada musim masuk sekolah beberapa tahun lalu, pembeli sudah memadati tokonya sejak jauh hari. Kini, jumlah pengunjung jauh berkurang.
“Kalau dari pengalaman saya, dulu benar-benar sibuk. Sekarang jauh lebih sepi. Permintaan juga berkurang,” ujarnya kepada Radar Bekasi, Senin (6/7).
Menurutnya, perubahan pola belanja masyarakat menjadi salah satu penyebab lesunya penjualan. Jika sebelumnya orang tua membeli satu paket perlengkapan sekolah, kini banyak yang hanya membeli seragam dasar seperti putih-merah, putih-biru, atau putih-abu. Sementara seragam batik, olahraga hingga pramuka sebagian telah disediakan sekolah.
“Yang baru masuk sekolah sekarang banyaknya cuma beli kebutuhan dasar. Bahkan ada yang bilang seragam tertentu sudah disediakan sekolah, jadi pembelian di toko ikut berkurang,” katanya.
Rani memperkirakan omzet tokonya turun sekitar 50 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kondisi tersebut cukup mengejutkan karena biasanya pada pekan pertama Juli penjualan sudah memasuki masa puncak.
“Harusnya sekarang sudah ramai. Biasanya seminggu sebelum masuk sekolah atau sehari sebelumnya pembeli membludak. Tahun ini masih sulit diprediksi,” ucapnya.
Meski demikian, para pedagang masih menyimpan harapan. Mereka berharap lonjakan pembeli terjadi menjelang hari pertama sekolah pada 13 Juli mendatang.
Dari sisi harga, Rani memastikan tidak ada kenaikan signifikan. Penyesuaian hanya mengikuti harga bahan baku dengan kenaikan sekitar Rp1.000 hingga Rp2.000 per potong. Harga seragam yang dijual berkisar Rp60 ribu hingga Rp150 ribu, bergantung pada ukuran.
Lesunya pasar seragam menjelang tahun ajaran baru menjadi gambaran bahwa momentum yang selama ini menjadi andalan pedagang belum sepenuhnya mampu mengerek daya beli masyarakat.
Pedagang berharap sisa waktu menjelang masuk sekolah masih dapat mendatangkan lebih banyak pembeli sehingga penjualan kembali bergairah.
Di tengah lesunya penjualan, sebagian orang tua mulai melengkapi kebutuhan sekolah anak.
Nur Isneini, warga asal Tegal yang tengah menyiapkan anaknya masuk kelas 1 Madrasah Ibtidaiyah (MI), memilih membeli seragam lebih awal.
“Harganya masih terjangkau. Setelah ini mau beli sepatu, tas, sama alat tulis. Persiapannya sudah hampir selesai,” katanya.
Hal senada disampaikan Rohati, warga Kranji. Ia membeli seragam untuk anaknya yang akan masuk SMP. Menurutnya, harga seragam memang mengalami kenaikan setiap tahun, tetapi masih dalam batas wajar.
“Memang ada kenaikan, tapi tidak terlalu besar. Saya memang langganan beli di sini karena kualitasnya bagus,” ucapnya
Kendati demikian, ia berharap anaknya dapat memulai tahun ajaran baru dengan semangat dan perlengkapan yang memadai. (rez)











