Berita Bekasi Nomor Satu

Ujungan Bekasi Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia

RUMAH TUA: Rohayati berada di rumah peninggalan kakeknya Siran Bin Kidin di Kampung Pangkalan, Desa Sukamekar, Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi, pekan lalu. FOTO: ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Sebuah rumah tua masih berdiri di tengah pesatnya modernisasi Kabupaten Bekasi. Bangunan peninggalan era kolonial Belanda itu berada di Kampung Pangkalan, Desa Sukamekar, Kecamatan Sukawangi. Dahulu, rumah tersebut merupakan kediaman megah milik seorang tuan tanah di wilayah itu.

Rumah yang semula memiliki luas sekitar 500 meter persegi tersebut kini hanya menyisakan bagian depan dan dapur yang masih mempertahankan struktur aslinya.

Meski kondisinya terus dimakan usia, jejak kemegahannya masih terlihat dari tiang dan pintu berbahan kayu nangka utuh, lengkap dengan kokot (pengunci pintu kuno), teralis besi bulat, serta anyaman bilik bambu yang diperkirakan telah berusia lebih dari satu abad.

Rohayati (61), cucu kandung Siran sekaligus putri almarhum Mihad, mengatakan dirinya lahir di rumah tersebut pada 1965. Menurutnya, sang kakek dikenal sebagai jawara sekaligus tuan tanah yang disegani.

DAPUR: Rohayati berada di bagian dapur rumah peninggalan kakeknya Siran Bin Kidin di Kampung Pangkalan, Desa Sukamekar, Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi, pekan lalu. FOTO: ARIESANT/RADAR BEKASI

“Pas engkong saya meninggal, saya baru kelas 1 SD. Kata bapak saya (Mihad), Engkong Siran wafat di usia 120 tahun,” ujar Rohayati kepada Radar Bekasi, pekan lalu.

Berdasarkan cerita keluarga, Siran disebut menguasai sekitar 1.200 hektare lahan pertanian di wilayah Sukawangi. Siran digambarkan bertubuh tinggi besar, mengenakan pangsi hitam khas Betawi dan tudung lebar saat mengawasi hamparan sawah serta ratusan ekor kerbau miliknya.

“Dulu wilayah ini hamparan perkebunan mangga, kelapa, jeruk, dan cabai yang luas sebelum padat rumah warga,” ucapnya.

Pada masa itu, rumah tersebut menjadi pusat berkumpulnya keluarga besar, terutama saat musim panen tiba. Anak, cucu, hingga cicit berkumpul untuk makan bersama.

RUMAH TUA: Rohayati berada di balik jendela rumah peninggalan kakeknya yakni Siran Bin Kidin di Kampung Pangkalan, Desa Sukamekar, Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi, pekan lalu. FOTO: ARIESANT/RADAR BEKASI

“Rumah ini menjadi pusat keluarga besar berkumpul, terutama saat musim panen tiba. Kami makan ramai-ramai bersama anak, cucu, hingga cicit, sehari bisa menghabiskan sampai 10 liter nasi,” tutur Rohayati.

Selain menjadi pusat aktivitas keluarga, rumah itu juga menyimpan kisah perjuangan kemerdekaan. Rohayati menuturkan, di bagian yang kini menjadi dapur dahulu terdapat bunker rahasia yang mampu menampung sekitar lima orang dewasa.

Bunker tersebut diakses menggunakan bangku kayu dan dimanfaatkan keluarga untuk bersembunyi dari kejaran tentara Belanda sekaligus menyimpan harta benda.

“Dulu ada bunker buat sembunyi dari Belanda dan menaruh harta. Kalau turun ke bawah pakai bangku, muat sekitar lima orang bungkernya. Namun, karena alasan keamanan, bunker itu akhirnya diurug dan ditutup sekitar 2007 lalu,” katanya.

Menurut cerita yang diwariskan keluarga, Siran juga disebut memiliki kedekatan dengan pahlawan nasional asal Bekasi, K.H. Noer Ali. Keduanya disebut pernah belajar agama kepada guru mengaji yang sama.

Rohayati mengaku mengetahui kisah dari orangtuanya bahwa Siran pernah ditangkap dan disiksa tentara Belanda karena diduga mendukung perjuangan kemerdekaan.

“Cerita dari orangtua dulu, Engkong pernah disiksa sama tentara Belanda. Badannya dibungkus pakai karung, lalu digantung ke pohon pisang dan dijatohin berkali-kali. Tapi alhamdulillah beliau selamat,” tutur Rohayati.

Selain kisah perjuangan, nama Siran juga lekat dengan cerita yang berkembang di masyarakat. Salahsatunya mengenai seorang pencuri yang konon tersesat dan terus berputar-putar di kebun jeruk milik Siran hingga akhirnya tertangkap warga. Kisah tersebut masih menjadi bagian dari cerita lisan yang diwariskan turun-temurun di Sukawangi.

Seiring waktu, kondisi rumah terus mengalami penurunan. Setelah Mihad, yang dikenal dengan sapaan Engkong Kebon, meninggal dunia sekitar 2024, rumah tersebut tidak lagi dihuni karena seluruh anak dan cucunya telah memiliki tempat tinggal masing-masing.

“Waktu masih ada bapak saya (Mihad) dirawat. Rumah juga sempat diperbaiki di bagian belakang sama samping, dipernis-pernis sama dirubah struktur bangunan gentengnya,” katanya.

Berbagai benda kuno yang dahulu memenuhi rumah, seperti kendi bermotif naga, setrika arang berbentuk kepala jago, patung macan, hingga kuali kuning, kini sudah tidak ada. Sebagian dibawa kerabat, sebagian lainnya hilang saat banjir besar melanda kawasan tersebut.

Kini hanya tersisa tongkat kayu warisan keluarga, beberapa kendi tanah, tempayan, serta lemari piring kuno di sudut dapur.
Banjir yang berulang juga menyebabkan lantai rumah perlahan ambles sehingga posisinya kini lebih rendah dibandingkan permukaan lingkungan sekitar.

Meski tak lagi dihuni, rumah tua berbahan kayu nangka tersebut masih menarik perhatian masyarakat. Bangunan itu beberapa kali dijadikan lokasi swafoto, pemotretan pranikah, hingga syuting iklan komersial. (ris)