Oleh: Dahlan Iskan
Anda sudah punya e-wallet: dompet elektronik. Apakah di saku atau tas Anda masih ada dompet lama?
Saya masih punya: isinya SIM dan KTP. Juga beberapa lembar mata uang negara lain sebagai tanda baru dari negara mana saja. Untuk pembayaran sudah selalu pakai QRIS –meski saya amat jarang belanja.
Sejak tahun 2020 praktis tidak ada uang kertas lagi di Tiongkok. Terutama setelah sukses melakukan uji coba e-money di empat kota: Shenzhen, Chengdu, Suzhou, dan Beijing. Indonesia termasuk cepat mengikuti langkah Tiongkok.
Tentu Tiongkok tidak mau dikejar. Ia terus berlari. Target berikutnya: e-wallet bukan untuk orang. Anda sudah tahu: Tiongkok sedang menciptakan e-wallet untuk negara. Uji cobanya dalam wujud proyek mBridge. Agak unik ada singkatan ”m” di depan Bridge. Awalnya saya menebak itu singkatan dari ”money”. Saya salah. Itu singkatan dari ”multiple”: semacam serbaguna. mBridge berarti jembatan multifungsi.
Tiongkok lari bukan karena kita kejar lewat QRIS. Ia berlari kencang dipicu oleh munculnya bitcoin. Lalu tersiar pula Facebook sedang menciptakan mata uang sendiri: Libra. Alibaba punya Alipay. Tencent punya WeChatPay. Berarti ada peluang bahwa dominasi dolar Amerika bisa diruntuhkan.
Tentu tidak mudah mencari cara agar dominasi dolar Amerika bisa dikurangi. Salah satu faktor dominasi itu adalah: pembayaran antarnegara masih memakai dolar Amerika. Karena itu cadangan devisa sebuah negara juga dalam dolar. Negara yang sehat harus punya cadangan devisa yang cukup untuk membiayai impor selama enam bulan.
Setiap kali Anda impor apa saja Anda perlu membeli dolar milik cadangan devisa itu. Secara sederhana cadangan devisa ibarat dompetnya negara yang berisi dolar Amerika. Negara perlu punya dompet berisi dolar karena belanja dari luar negeri pakai dolar: beli gandum, kedelai, HP, mobil, pesawat terbang, sampai mesin-mesin industri.
Waktu Anda impor mesin, Anda minta bank Anda yang membayarkan dalam dolar. Bank Anda akan menghubungi bank sentral (Bank Indonesia) agar berkomunikasi dengan bank sentral di negara yang jual mesin. Bank sentral di negara itu menghubungi bank pelaksana di mana pabrik mesin tersebut jadi nasabahnya.
Kadang antar bank sentral tidak ada perjanjian kerja sama. Maka bank sentral satu negara perlu memakai jasa bank besar kelas dunia –yang punya hubungan transaksi dengan lebih banyak bank di mana pun. Bank penghubung itu akan membantu terjadinya transaksi. Yang penting dapat uang jasa.
Semua transaksi antar bank tersebut bisa berjalan karena semua bank itu menggunakan ”aplikasi” yang sama: SWIFT. Tanpa SWIFT transaksi tidak terhubung. Rusia dan Iran adalah dua negara yang oleh Barat dilarang menggunakan SWIFT. Maka dua negara itu tidak bisa melakukan transaksi dengan negara lain.
SWIFT telah dipakai alat politik.
Bisa saja suatu saat Tiongkok juga akan terkena pelarangan menggunakan SWIFT.
Maka Tiongkok menciptakan cara baru. Bukan dipersaingkan dengan SWFT tapi beda binatangnya.
Tiongkok kelihatannya bisa menyerap aspirasi negara-negara dunia ketiga. Transaksi lewat SWIFT memerlukan jalur dari bank ke bank sentral, lalu dari bank sentral ke bank sentral negara lain, masih perlu lewat jasa bank besar kelas dunia, lalu dari bank sentral negara lain ke bank pelaksana di sana.
Total, satu transaksi perlu sekitar 3-4-5 hari. Biaya pun muncul di setiap perpindahan rekening bank itu.
Itulah yang dilihat Tiongkok sebagai kelemahan SWIFT.
Di zaman nan lalu, saat SWFT mulai diterapkan, transaksi internasional 3-5 hari sudah dianggap sangat cepat. Juga paling praktis. Anda sudah tahu: SWIFT mulai diberlakukan tahun 1977, ketika Anda baru belajar batingkaung.
Sebelum ada SWIFT transaksi internasional antar bank dilakukan lewat telex. Atau pengiriman dokumen fisik. Alangkah kunonya.
Tapi di zaman serba digital sekarang ini tiga hari adalah lama. Bahkan tiga jam saja sudah dianggap terlalu lama. SWIFT oleh Tiongkok sudah dianggap kuno.
Tiongkok punya gagasan: kalau setiap negara punya ”e-wallet” untuk apa harus melakukan cara transaksi muter-muter lewat banyak bank. Tinggal e-wallet ke e-wallet. Lewat ”aplikasi” yang disebut ”mBridge”. Dengan cara itu transaksi internasional bisa dilakukan real time. Bukan tiga hari atau tiga jam tapi cukup tiga detik. Biayanya pun diklaim bisa turun tinggal 30 persennya. Alangkah murahnya. Tiongkok tidak hanya berpikir jualan kancing baju yang murah tapi juga transaksi internasional yang murah.
Tentu setiap negara harus punya ”e-wallet” yang isinya Yuan (China Yuan, CNY). Itu secara tidak langsung membuat satu negara harus punya cadangan devisa dalam bentuk Yuan –tidak lagi hanya dolar Amerika.
Kapan ”mBridge” mulai berlaku? Anda mungkin bisa menebaknya. Saya tidak tahu. Yang jelas uji coba sudah dilakukan antara Tiongkok dan sejumlah negara ASEAN seperti Thailand. Juga dengan enam negara Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab. Harapannya: perdagangan minyak bisa dilakukan dalam Yuan.
Thailand dan UAE telah melangkah menjemput masa depan. Masa depan memang bisa dijemput. Bisa juga hanya ditunggu. (Dahlan Iskan)











