RADARBEKASI.ID, BEKASI – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi mengusulkan penyediaan satu toren air di setiap titik kekeringan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi, Dodi Supriyadi, mengatakan keberadaan toren dapat membuat penyaluran air dari mobil tangki lebih efisien. Menurutnya, selama ini proses pengisian air ke galon atau ember warga bisa menghabiskan waktu hingga dua-tiga jam untuk satu mobil tangki berkapasitas 5.000 liter.
“Salah satu untuk mengoptimalkan pendistribusian air bersih, kami menggagas untuk menyiapkan toren penampungan air,” ujar Dodi saat dikonfirmasi, pekan kemarin.
BPBD juga mengevaluasi bantuan toren yang pernah diberikan pada 2023-2024. Dari pendataan melalui kecamatan, sebagian toren masih ditemukan. Sedangkan sebagian lainnya tidak diketahui keberadaannya.
Karena itu, BPBD mengusulkan agar toren yang dibangun ke depan memiliki kapasitas minimal 5.000 liter dan ditempatkan secara permanen. Dodi menyarankan pembangunan dilakukan dengan konstruksi beton serta berada di fasilitas umum seperti masjid atau musala.
“Kalau bisa dibangunnya di masjid atau musala, sehingga bermanfaat jangka panjang,” ucapnya.
Untuk merealisasikan usulan tersebut, BPBD telah bersurat kepada Bupati Bekasi dan Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan (Perkimtan) Kabupaten Bekasi.
Dodi mengatakan skema serupa telah diterapkan di Kabupaten Bogor dan Karawang. Di Kabupaten Bogor, lebih dari 160 titik kekeringan disebut telah dilengkapi toren berkapasitas 5.000 hingga 8.000 liter.
“Mudah-mudahan di ABT ini bisa terealisasi pengadaan di Perkimtan,” ucapnya.
Sambil menunggu realisasi Anggaran Biaya Tambahan (ABT) APBD, BPBD mengandalkan bantuan dari sejumlah pihak. Empat unit toren dari PMI Pusat disiapkan untuk sejumlah desa terdampak, sedangkan 15 toren berkapasitas 2.000 liter berstatus pinjam pakai dari BPBPK JAMKET Kementerian PU ditempatkan di Desa Karangharja, Pebayuran.
BPBD juga memanfaatkan terpal bekas penanganan banjir sebagai penampungan air sementara. Kolam terpal tersebut dibuat bersama pemerintah desa menggunakan rangka bambu atau kayu dengan ukuran panjang lima meter, lebar tiga meter, dan tinggi satu meter.
“Terpal itu cukup satu kolam,” pungkas Dodi. (ris)











