Berita Bekasi Nomor Satu

Kaget Aturan Pulang Tiga Kali Setahun, Siswa Baru Sekolah Rakyat di Bekasi Pilih Pulang

SCREENING : Guru melakukan screening pada siswa baru di Sekolah Rakyat Terintegrasi di Desa Sukamahi Cikarang Pusat, Senin (31/8/2026). FOTO: ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Senin (31/8/2026) menjadi hari pertama siswa masuk Sekolah Rakyat Terintegrasi di Desa Sukamahi, Kecamatan Cikarang Pusat. Peralihan dari kehidupan di rumah ke sistem berasrama (boarding school) dengan disiplin ketat menjadi tantangan awal bagi sejumlah siswa baru.

Sebanyak 417 siswa terdaftar di sekolah yang berdiri di atas lahan seluas 5 hektare tersebut. Berbeda dengan sekolah umum, siswa hanya mendapat kesempatan pulang tiga kali dalam setahun. Aturan itu membuat beberapa siswa terkejut dan memilih kembali ke rumah pada masa awal orientasi.

Pada hari pertama, siswa baru, terutama jenjang Sekolah Dasar (SD), menjalani pemeriksaan kesehatan. Pemeriksaan meliputi tinggi dan berat badan serta kebersihan telinga. Selain itu, kemampuan dasar membaca juga diperiksa.

Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bekasi, Asep Surya Atmaja, mengatakan masa penyesuaian merupakan hal yang wajar bagi anak-anak. Meski demikian, sekolah akan memanggil kembali siswa yang pulang karena belum siap mengikuti pola pendidikan berasrama.

“Tadi juga ada beberapa siswa yang datang lalu pulang karena kaget. Di sini sistem liburnya hanya tiga kali dalam setahun. Hal ini tentu membuat sebagian anak kaget lalu ingin pulang, tapi insya Allah mereka akan dipanggil lagi,” ujar Asep di lokasi.

Menurut Asep, sistem tersebut dirancang untuk membentuk kemandirian dan karakter siswa. Anak didorong mengurangi ketergantungan terhadap orang tua dalam aktivitas sehari-hari.

Untuk mengobati kerinduan, kunjungan justru dilakukan oleh orang tua ke asrama. Siswa tidak diperbolehkan pulang setiap pekan seperti pola sekolah pada umumnya.

“Sekolah di sini dibentuk dan dibina karakternya. Jadi, bukan berarti sekolah lalu bisa pulang tiap minggu. Justru orangtuanya yang harus datang berkunjung ke sini. Sistem ini diterapkan demi pembentukan karakter untuk masa depan mereka,” tuturnya.

Kemandirian juga mulai dilatih melalui aktivitas sehari-hari, seperti mencuci pakaian, menjaga kebersihan kamar dan menjemur pakaian dengan benar. Pengelola bersama Dinas Pendidikan dan DPRD turut memberikan edukasi agar siswa mampu mengurus kebutuhannya sendiri sekaligus menjaga kebersihan untuk mencegah gangguan kesehatan.

“Kita harus memberikan edukasi mengurus keperluan sendiri,” katnaya.

Dari 417 siswa, sebanyak 237 merupakan anak dari Kabupaten Bekasi. Jumlah tersebut terdiri atas 57 siswa SD, 90 siswa SMP dan 90 siswa SMA.

Selain itu, terdapat 90 siswa pindahan dari Kota Bekasi yang terdiri atas 30 siswa SD, 30 siswa SMP dan 30 siswa SMA. Sebanyak 90 lainnya merupakan siswa dari Sekolah Rakyat rintisan Kota Bekasi, dengan rincian 12 siswa SD dan 78 siswa SMA.

Asep mengatakan penerimaan siswa mengacu pada Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah seiring pengembangan program.

“Ini masih awal, ke depannya pasti akan bertambah banyak,” kata Asep.

Sementara itu, Wakil Humas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Bekasi, Indri, mengatakan kompleks sekolah dilengkapi berbagai fasilitas penunjang pendidikan. Di antaranya ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, ruang kesenian, ruang Bimbingan Konseling (BK), Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), ruang paspor, ruang guru, masjid dan aula.

Menurut Indri, konsep asrama menjadi salah satu pembeda utama Sekolah Rakyat dengan sekolah umum. Pemerintah tidak hanya membebaskan biaya pendidikan, tetapi juga menanggung kebutuhan dasar siswa selama tinggal di asrama.

“Kadang-kadang orang bilang, apa sih bedanya Sekolah Rakyat sama sekolah umum lainnya? Kalau mau bilang sekolah lain pada umumnya juga gratis, itu hanya SPP saja. Bahkan pendukung-pendukung lainnya, transport pun juga membutuhkan biaya,” kata Indri.

Dengan sistem berasrama, siswa tidak perlu memikirkan kebutuhan seperti seragam, makanan dan tempat tinggal. Seluruhnya disediakan pemerintah sehingga anak dapat berkonsentrasi pada pendidikan.

“Kalau sekolah ini sudah berasrama, anak tinggal jalan kaki menuju gedung sekolah, sudah tidak ada hambatan. Dari seragam, makan, tempat tidur, semua sudah terjamin. Anak-anak tidak perlu memikirkan itu, anak-anak hanya fokus belajar,” sambungnya.

Untuk layanan kesehatan, sekolah masih mengajukan permohonan tenaga medis. Sementara ini, penanganan kesehatan dilakukan melalui kegiatan Palang Merah Remaja (PMR) dan kerja sama dengan fasilitas kesehatan terdekat.

“Untuk sementara kita masih dari PMR, tapi kita bekerja sama juga dengan Puskesmas terdekat. Kalau memang ada anak-anak yang butuh penanganan khusus, kami langsung ke Puskesmas atau ke IGD terdekat,” pungkasnya. (ris)