Berita Bekasi Nomor Satu

SDN Pasirsari 03 Cikarang Tanamkan Cinta Alam Sejak Dini

ILUSTRASI: Kepala SDN Pasirsari 03, Kecamatan Cikarang Selatan, Hanifah, memberikan motivasi pembelajaran kepada siswa. FOTO: ISTIMEWA

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Membiasakan siswa menjaga lingkungan tak cukup hanya lewat teori di dalam kelas. Hal itu yang mendorong Kepala SDN Pasirsari 03, Kecamatan Cikarang Selatan, Hanifah, menghadirkan pembelajaran berbasis praktik melalui E-Modul Projek Berbasis Kearifan Lokal Sabilulungan.

Gagasan tersebut muncul setelah Hanifah melihat masih rendahnya kesadaran lingkungan siswa selama sekitar dua tahun bertugas di sekolah tersebut. Sebagian siswa masih membuang sampah sembarangan, sementara pembelajaran tentang lingkungan lebih banyak disampaikan secara teoritis.

“Selama kurang lebih dua tahun bertugas di SDN Pasirsari 03, saya melihat rendahnya kesadaran lingkungan siswa karena pembelajaran masih dominan teori tanpa praktik. Dampaknya, siswa memahami pentingnya menjaga lingkungan hanya di tingkat kognitif, tetapi belum berperilaku,” katanya.

Kondisi itu juga dipengaruhi lingkungan sekitar sekolah yang berada di kawasan padat penduduk dan di tepi jalan raya yang kerap menjadi tempat berhenti truk kontainer. Di sisi lain, nilai lokal Sabilulungan seperti gotong royong, kerja sama, dan tanggung jawab sosial dinilai semakin terpinggirkan dalam pembelajaran formal.

Hanifah kemudian merancang E-Modul Projek Berbasis Kearifan Lokal Sabilulungan dengan pendekatan pembelajaran mendalam. Siswa tidak hanya diajak memahami pentingnya menjaga lingkungan, tetapi juga terlibat langsung dalam berbagai kegiatan.

“Untuk mengatasi masalah tersebut, saya merancang inovasi berupa E-Modul Projek Berbasis Kearifan Lokal Sabilulungan dengan pendekatan pembelajaran mendalam. Inovasi ini mengajak siswa terlibat langsung dalam kegiatan nyata, seperti penghijauan dan daur ulang sampah,” tuturnya.

Namun, penerapan metode tersebut bukan tanpa tantangan. Dari sisi siswa, masih terdapat kesenjangan antara teori dan praktik. Sebagian siswa memandang pembelajaran lingkungan sebatas buku teks atau ceramah sehingga belum melihat kaitannya dengan kondisi di sekitar mereka.

“Mereka juga belum terbiasa dengan project based learning yang menuntut keterlibatan langsung. Nilai Sabilulungan dipahami, tetapi masih sulit diaplikasikan dalam keseharian,” ucapnya.

Tantangan juga datang dari lingkungan sekolah. Sebagian guru masih terbiasa menggunakan metode ceramah dan belum sepenuhnya terbuka terhadap pendekatan baru, termasuk pembelajaran berbasis proyek dan pemanfaatan teknologi digital.

Keterbatasan fasilitas digital serta akses internet yang belum stabil juga menjadi kendala. Meskipun banyak guru dan siswa memiliki telepon pintar, tidak semuanya dapat mengakses internet dengan baik.

Persoalan lain muncul dalam proses evaluasi. Perubahan karakter dan perilaku siswa tidak cukup diukur melalui tes tertulis sehingga sekolah perlu menggunakan instrumen penilaian yang lebih menyeluruh.

“Kami harus menciptakan instrumen evaluasi yang lebih holistik untuk menilai perkembangan sikap siswa terhadap lingkungan,” ujarnya.

Hanifah mengatakan, pihak sekolah memberikan dukungan terhadap penerapan inovasi tersebut dengan melibatkan seluruh guru dalam perencanaan dan pengembangan E-Modul. Guru dan tenaga kependidikan juga difasilitasi agar mampu menggunakan E-Modul serta memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran.

Sekolah turut memetakan persoalan lingkungan dan mendorong keterlibatan orang tua serta masyarakat dalam kegiatan penghijauan dan pengelolaan sampah.

E-Modul tersebut dibagi menjadi tiga bagian sesuai jenjang kelas. Siswa kelas I dan II belajar melalui tema “Sabilulungan dalam Tari Topeng Bekasi” untuk mengenalkan nilai gotong royong melalui seni dan budaya lokal.

Sementara siswa kelas III dan IV mengikuti tema “Sabilulungan Hijau” dengan kegiatan penghijauan dan pelestarian lingkungan. Adapun siswa kelas V dan VI belajar melalui tema “Sabilulungan Merawat Bumi” dengan kegiatan daur ulang sampah.

“E-Modul ini dirancang secara interaktif melalui video, gambar, dan aktivitas reflektif yang memungkinkan siswa terlibat langsung dalam kegiatan proyek. Dalam setiap pengalaman belajar terdapat proses memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan,” jelasnya.

Kegiatan tersebut diterapkan kepada siswa kelas I hingga VI dengan jumlah sekitar 200 siswa. Pembelajaran berlangsung selama enam hingga tujuh jam pelajaran setiap pekan.

Rangkaian kegiatan ditutup melalui Festival Sabilulungan. Kegiatan itu menjadi ruang bagi siswa untuk menampilkan, mengomunikasikan, sekaligus merefleksikan hasil proyek yang telah dilakukan.

Melalui pembelajaran tersebut, siswa tidak hanya mendapatkan teori tentang kebersihan dan pelestarian lingkungan. Mereka juga terlibat dalam kegiatan nyata, seperti penghijauan, daur ulang, hingga membuat taman mini dari barang bekas dengan melibatkan orang tua dan masyarakat.

Hasilnya, keterlibatan kognitif siswa meningkat dari 50 persen menjadi 88 persen. Aspek afektif naik dari 45 persen menjadi 85 persen, sedangkan perilaku meningkat dari 55 persen menjadi 90 persen.

Bagi guru, penggunaan E-Modul juga memudahkan persiapan materi dan mengurangi ketergantungan pada bahan cetak. Waktu persiapan mengajar dapat dihemat rata-rata dua jam per pekan, sementara biaya pembelajaran turun hingga 60 persen dibandingkan penggunaan LKS cetak.

Inovasi tersebut juga telah didiseminasikan ke 14 kecamatan di Kabupaten Bekasi melalui pertemuan daring. Seluruh peserta menyatakan berminat mereplikasi E-Modul tersebut di sekolah masing-masing.

Inovasi berjudul Pengembangan E-Modul Projek Berbasis Kearifan Lokal Sabilulungan itu mendapat piagam penghargaan dari Bupati Bekasi Ade Kuswara Kunang sebagai juara II Lomba Anugerah ASN Inovatif kategori Jabatan Fungsional dan Jabatan Pelaksana Tingkat Kabupaten Bekasi Tahun 2025. (and)