Berita Bekasi Nomor Satu

William Paputungan

 

Oleh: Dahlan Iskan

Tiba-tiba tiket ke Manado saya dibatalkan. Tanpa alasan. Diganti yang lewat Makassar. Akibatnya, saya harus berangkat lebih pagi dan tiba di Manado lebih malam. Itu karena transit di Makassarnya empat jam lebih.

 

Anda sudah tahu perusahaan penerbangan apa yang punya kebiasaan seperti itu.

 

Untung ada teman-teman Disway Sulsel: saya bisa mampir ke kota Makassar. Untuk apa lagi kalau bukan makan ikan di resto kesayangan. Lalu diajak Sahabat Disway di sana, pesenam Nova Gozal dan pengusaha David Gozal (tidak ada hubungan keluarga; yang satu suku Hokkian, satunya lagi suku Hakka) untuk mencoba sesuatu yang baru di Makassar –akan saya tulis edisi Minggu depan.

 

Selasa malam saya tiba di Manado. Tidak bisa ke mana-mana lagi. Tidur! Rabu pagi, setelah tampil di Dismorning, saya ingin ke Paputungan –satu jam dari Manado. Di situlah kawasan ekonomi khusus pariwisata ditetapkan. Luasnya ratusan hektare. Segala macam wisata tingkat dunia akan dibangun. Termasuk theme park yang spektakuler. Beberapa hotel akan dibangun –salah satunya bintang lima pertama di Manado.

 

Bahkan pemilik awal proyek ini sudah membeli kapal selam jenis wisata bawah laut –yang hanya ada dua di dunia. Begitu besar mimpi pariwisata di Paputungan.

 

Proyek ini gagal. Terjadi kesulitan ekonomi yang berat. Sebenarnya sudah lama saya ingin ke Paputungan untuk melihatnya tapi selalu saja gagal. Ketika saya dengar proyek itu macet hilanglah alasan untuk ke Paputungan.

Belakangan saya mendapat informasi menggembirakan. Proyek macet itu ada yang menyelamatkan: William Katuari. Anda sudah tahu siapa William: orang Tulungagung yang kini jadi konglomerat hebat. Ia produsen SoKlin. Buka Bank Ekonomi. Lalu sukses mengembangkan mie Sedaaap!

 

William akhirnya masuk ke bisnis hotel: Hotel bintang lima Kempinski di Bali. Kini William sedang memulai kawasan wisata Paputungan Manado dengan menyelesaikan hotel yang macet di sana. Tentu dengan konsep baru. Cakrawala baru. Jadilah hotel bintang lima pertama di Sulawesi: JW Marriott.

 

Dari jauh hotel itu sudah kelihatan jadi. Menjulang tinggi 16 lantai di bibir pantai. Sendirian. Sekitarnya masih alam Sulut yang asli dengan pohon pala dan kelapanya.

 

“Akhir Oktober nanti harus jadi,” ujar seorang staf di situ. Salah satunya GM JW Marriott berkebangsaan Spanyol dari Barcelona.

 

Saya diajak naik ke lantai atas. Ke kamar yang sudah siap menerima tamu. Kamar-kamarnya dibuat sedemikian rupa adilnya: pilih deretan kamar kanan berarti pemandangannya matahari terbenam; pilih deretan kiri pemandangannya ke matahari terbit. Terbitnya seperti muncul dari laut. Tenggelamnya seperti masuk laut.

 

Dari atas terlihat kolam renang bertingkat-tingkat yang air dari kolam paling atasnya melimpah ke kolam di bawahnya. Kolam terbawah adalah kolam renang air laut karena levelnya memang sejajar dengan laut.

 

Jatuhnya bangunan induk hotel itu seperti di atas bukit. Bagi yang ingin bermalam di pinggir laut disediakan beberapa cottages. Lokasinya di kiri dan kanan ‘teluk buatan’. Setiap cottage punya akses ke laut sendiri-sendiri. Dari kamar di cottage itu bisa langsung masuk laut jernih. Belum ada polusi di sana.

 

Air di pantainya sepinggang. Ideal.

 

“Lihat di sana itu,” ujarnya sambil menuding ke bawah, “Mirip sekali dengan cottage-cottage di Maldives”. Ia pernah ke Maldives. Saya belum.

Syukurlah pusat wisata Paputungan segera jadi –meski baru hotelnya dulu. Untuk yang lainnya kelihatannya akan tunggu situasi. Masih banyak ekosistem wisata yang harus dibangun. Misalnya harga tiket pesawat. Harga tiket jurusan Manado bisa dua kali lipat lebih mahal dari Indonesia Barat. Apalagi dibanding jurusan luar negeri.

 

Zaman dulu tarif pulsa telepon juga seperti itu: harga pulsa di kawasan Indonesia Timur lebih mahal. Pak JK-lah yang terus berkoar mempersoalkannya jauh sebelum ia jadi pejabat negara. “Tidak ada alasan teknis maupun non teknis apa pun yang membenarkannya,” ujar Jusuf Kalla kala itu. Berhasil. Harga pulsa menjadi sama.

 

Harusnya tiket pesawat juga bisa dibuat seperti itu.

 

“Tolong sampaikan ke pemerintah soal tingginya harga tiket pesawat ke Manado,” ujar pejabat pariwisata di sana. Ia wanita. Cantik 5i.

 

“Lho, Presiden Prabowo kan orang Manado,” kata saya.

 

“Beliau baru sekali ke Manado. Masyarakat di sini sangat menanti,” katanyi.

 

“Bulan depan beliau kan ke sini. Untuk meresmikan Sekolah Taruna Nusantara,” ujar salah satu yang ikut makan malam dengan saya.

 

“Nah, beliau harus tahu itu,” kata saya.

Di Sulut memang dibangun Sekolah Taruna Nusantara. Lokasinya di kampungnya Prabowo: Langowan –sebelah sananya Danau Tondano. Bangunan sekolahnya bagus. Orang di sana menyebutnya seperti bangunan dalam film Herry Potter.

 

Meski bangunannya baru selesai tahun ini tapi sudah menerima siswa sejak tahun lalu. Hanya saja murid angkatan pertama itu sekolahnya di Malang. Setelah setahun di Malang, naik kelas duanya di Langowan. Hari-hari ini siswa yang baru naik ke kelas dua itu pindahan ke Langowan. Hari-hari ini pula siswa kelas satunya mulai menempati sekolah baru itu.

 

Saya tidak bisa lama-lama di Paputungan. Yang penting saya sudah tahu: memang indah sekali. Saya harus segera balik lagi ke Manado: acara besar bersama Bank Indonesia perwakilan Manado segera dimulai.

 

Belum juga sempat mencicipi bubur Manado.(Dahlan Iskan)