RADARBEKASI.ID, BEKASI – Kemarau panjang membuat petani di Kabupaten Bekasi harus bekerja lebih keras menjaga lahan persawahan tetap mendapat pasokan air. Pompa air tanah yang biasanya digunakan saat memasuki pertengahan masa tanam, kini terpaksa dioperasikan sejak tahap pembenihan.
Kondisi itu dirasakan Kosasih, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Karang Patri, Kecamatan Pebayuran. Menurutnya, keterbatasan air membuat pompanisasi dilakukan lebih awal untuk memastikan tanaman tetap tumbuh.
“Jadi biasanya itu kalau pompa (digunakan,red) pas airnya kurang aja, di tengah-tengah. Sekarang dari pembenihan, sebelum tanam sudah harus dipompa,” kata Kosasih, Rabu (30/9/2026).
Penyedotan air dilakukan secara nonstop siang dan malam, selama lebih dari satu bulan untuk menjaga tanaman di area persawahan seluas 80 hektare yang dikelolanya. Satu mesin pompa yang tersedia juga harus digunakan bersama kelompok tani lain yang belum memiliki sarana pengairan.
“Ini sudah 40 hari pompa terus, siang dan malam. Malah sudah hampir dua minggu saya enggak tidur malam karena pompa harus dijagain,” katanya.
Pompanisasi memang membantu memenuhi kebutuhan air tanaman. Namun, penggunaan mesin secara terus-menerus membuat biaya operasional meningkat. Kosasih menyebut kebutuhan solar untuk pompa mencapai sekitar 300 liter.
“Saya sendiri habis kali 300 liter solar. Emang airnya keluar tapi biayanya naik, mana kan tenaga juga nambah,” ungkap Kosasih.
Menurut Kosasih, persoalan kekeringan di Kabupaten Bekasi dipengaruhi kondisi wilayah. Di wilayah selatan, sebagian besar lahan merupakan sawah tadah hujan. Ketika kemarau tiba, pasokan air terhenti. Pembuatan sumur bor juga belum memberikan hasil signifikan karena cadangan air tanah ikut menyusut.
Sementara di wilayah utara, persoalan dipengaruhi penurunan debit air sungai serta kondisi saluran irigasi yang tersumbat dan lambat dinormalisasi. Padahal, pasokan air dari Sungai Citarum dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan lahan pertanian di wilayah tersebut jika jaringan irigasi dirawat dengan baik.
“Makanya sebenarnya kalau aliran irigasinya dibenahin airnya cukup, enggak perlu pompa juga. Ini masih begitu aja, jadinya susah ngalirnya,” tuturnya.
Sementara, Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Eem Embang Lesmanasari, mengatakan pihaknya terus melakukan berbagai upaya menghadapi persoalan kekeringan. Selain menyalurkan bantuan pompa, koordinasi dilakukan dengan lintas instansi untuk memperbaiki sejumlah saluran air.
Eem mencatat, terdapat delapan kecamatan yang terdampak krisis air, yakni Babelan, Sukawangi, Tambelang, Sukakarya, Karangbahagia, Bojongmangu, Cibarusah, dan Serangbaru.
“Karena yang jadi utama itu sebenarnya bagaimana pasokan air, karena kan kami di pertanian itu sebagai pengguna. Maka kami koordinasi dengan Dinas SDABMBK sampai ke BBWS agar bagaimana dilakukan perbaikan pada sejumlah saluran tersebut,” kata Eem.
Saat ini, luasan sawah aktif yang masih terdampak kekeringan berhasil ditekan hingga tersisa sekitar 600 hektare. Meski demikian, gangguan pengairan masih menjadi tantangan bagi target produksi padi Kabupaten Bekasi yang dipatok sebesar 500.000 ton tahun ini.
“Dengan kondisi saat ini, harapan kami bisa tercapai namun perlu lebih kerja keras lagi memang. Karena berbagai upaya kami terus lakukan,” pungkasnya. (ris)











