Berita Bekasi Nomor Satu

Hadapi Ancaman Kekeringan, Petani Pebayuran Gelar Tradisi Goloran

GOLORAN: Sejumlah petani membersihkan tanaman liar di bantaran saluran irigasi di Pebayuran, Selasa (6/10/2026). FOTO: ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Ancaman kekeringan membayangi musim tanam di Kecamatan Pebayuran, Kabupaten Bekasi. Mengantisipasi kondisi itu, petani menggelar tradisi goloran dengan membersihkan saluran irigasi yang tersumbat eceng gondok untuk menjaga pasokan air ke areal persawahan.

Aksi goloran digelar di sepanjang Saluran Sekunder Irigasi BKG 26 hingga BKG 38 sepanjang 12 kilometer. Pembersihan menyasar empat titik di empat desa yang salurannya dipenuhi eceng gondok.

Camat Pebayuran, Hasyim Adnan Adha, menjelaskan goloran merupakan bagian dari strategi terpadu penanganan irigasi yang dipadukan dengan normalisasi dan pompanisasi.

Ia menekankan pentingnya kebersamaan petani di wilayah hulu dan hilir agar tidak terjadi perebutan pasokan air. Langkah ini dilakukan untuk memastikan distribusi air menjangkau areal persawahan yang mengalami kekeringan di wilayah hilir.

“Kami berharap kombinasi normalisasi, goloran, dan pompanisasi ini memperlancar pasokan air sehingga petani di wilayah yang sempat kering dapat kembali menanam tepat waktu,” kata Hasyim, Selasa (6/10/2026).

Sementara itu, Perwakilan Paguyuban Petani Kecamatan Pebayuran, Sardi mengingatkan, keterlambatan penanganan irigasi dapat berdampak fatal terhadap hasil panen dan perekonomian warga.

“Pebayuran ini lumbung pangan utama kita dengan nilai ekonomi mencapai Rp250 miliar per musim tanam. Jika air tersumbat dan terjadi gagal panen, dampaknya luar biasa besar bagi petani,” ujarnya.

Sardi menilai tradisi goloran dan normalisasi di sepanjang BKG 6 hingga BKG 38 sangat membantu menjaga pasokan air serta mengapresiasi kebersamaan warga dalam kegiatan tersebut.

“Karena itu, tradisi goloran dan normalisasi yang berjalan dari BKG 6 sampai BKG 38 ini betul-betul menjadi penyelamat. Kami sangat mengapresiasi kebersamaan ini,” terang Sardi.

Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja, mengatakan tradisi goloran menunjukkan pentingnya peran saluran irigasi sebagai benteng pertahanan pangan daerah. Menurutnya, saluran irigasi yang berfungsi baik sangat menentukan kelancaran kegiatan pertanian dan produktivitas lahan.

“Mari kita jaga saluran yang sudah dibersihkan, jangan kembali digunakan untuk membuang sampah. Kalau saluran irigasi kita jaga bersama, pertanian kita kuat, dan manfaatnya akan lebih besar bagi masyarakat Kabupaten Bekasi,” tutup Asep. (ris)