Berita Bekasi Nomor Satu
Disway  

Camino Nakasendo

 

Oleh Dahlan Iskan

Haha…akhirnya saya Camino! Bukan di Santiago, Spanyol, tapi Camino-nya Jepang: Camino Nakasendo.

 

Di hari ketiga di Nagoya, Selasa kemarin, kami ke Tsumago. Yakni bersama teman-teman yang ikut program lima hari di Inuyama, satu jam dari kota Nagoya.

 

Lihatlah papan petunjuk di dekat saya berdiri itu: bunyinya Tsumago-juku. Bagi yang bisa bahasa mandarin dua kata terakhir itu dibaca ”ru kou” –orang Jepang membacanya dengan ”juku”. Artinya sama: jalan masuk.

 

Anda sudah tahu: saya pernah siap berangkat Camino di Spanyol. Dua tahun lalu. Batal. Teman yang akan bersama saya Camino tiba-tiba sakit. Kanker. Itulah James F. Sundah –sang pencipta lagu Lilin Lilin Kecil. Lia, istrinya, juga sudah beberapa kali Camino. Rencana itu kami tunda setahun. Ternyata James meninggal dunia (Disway 9 Mei 2026: James Freddy Sundah).

 

Saya tidak menyangka dalam perjalanan ke Nagoya ini ada acara ke Tsumago. “Kita Camino di sini saja,” ujar teman yang pernah Camino di Spanyol dan sudah tiga kali ”Camino” di Tsumago. Ia seorang pengusaha besar. Besar luar biasa.

Camino di Jepang ini disebut Nakasendo. Sedang Camino di Spanyol, Anda sudah tahu: untuk mengenang perjalanan suci Santo Yakobus. Yakni satu dari 12 rasul Yesus yang di Inggris disebut Saint James. Nama perjalanan kaki di Spanyol disebut Camino de Santiago –berakhir di kota Santiago, di sebuah Katedral yang dianggap suci di dunia Katolik.

 

Camino Nakasendo? Ini untuk mengenang masa silam Jepang –sebelum ada mobil Toyota dan kereta Shinkansen. Rute Nakasendo menghubungkan dua ibukota Jepang masa lalu: Kyoto dan Tokyo –dua nama yang hanya dibalik suku katanya. Ibarat Batavia dan Viabata –seandainya ada IKN di zaman Batavia.

 

Itu tahun 1603. Zaman Edo. Ibu kota Kekaisaran Jepang mulai dipindah dari Kyoto ke Edo –sekarang disebut Tokyo. Ini tidak semudah pemindahan ibu kota dari Jakarta ke Viabata. Waktu itu tidak ada jalan dari Kyoto ke Edo. Jauhnya lebih 500 km. Yang ada hanya gunung dan gunung dan gunung. Kata ”gunung” saya tulis tiga kali bukan saja untuk mengindari penyebutan dua gunung juga karena saking banyaknya.

Tidak mudah membangun jalan di medan seperti itu. Ups… tidak sulit. Yang dibangun hanya jalan untuk kaki –kaki manusia dan kaki kuda. Cukup jalan setapak. Naik gunung dan turun jurang.

 

Sebenarnya dibangun juga jalan alternatif. Lewat pantai timur. Persoalannya: banyak muara sungai. Belum ada jembatan. Belum ditemukan teknologi jembatan besar di Jepang. Kalau lewat pantai perjalanan Kyoto-Edo bisa lebih lama –getek harus menunggu banjir reda.

 

Maka yang lebih dipilih adalah jalan yang di pegunungan. Karena itu disebut 中山道 — Nakasendo dalam bahasa Jepang atau zhong san dao dalam bahasa Mandarin –artinya: rute di tengah gunung.

 

Sebenarnya rute itu juga tidak hanya di tengah gunung. Bisa juga disebut di tengah hutan. Manusia masih sedikit. Gunung dan hutan belum ada yang menjarah. Juga tidak ada yang membakarnya.

 

Tentu kami tidak camino sampai 530 kilometer. Waktunya tidak cukup. Juga otot kakinya. Enaknya di rute Nakasendo 530 km itu dibagi atas 69 etape. Kami dipilihkan dua etape saja. Satu stop. Yakni etape yang terbaik, terfavorit dan tertinggi nilai sejarahnya. Yang memilihkan adalah si pengusaha sangat besar yang sudah tiga kali melakukan Nakasendo.

Kami diminta memulai dari Tsumago. Pagi-pagi kami berangkat dari hotel di Inumaya naik mobil ke Tsumago. Setelah berkendara setengah jam masuklah ke keindahan alam pegunungan Jepang. Naik. Turun. Berliku. Ikut aliran sungai. Bersih. Jernih.

 

Setelah berkendara 1,5 jam tibalah di titik awal camino. Begitu turun mobil di Tsumago waktu terasa diputar balik dengan kecepatan cahaya: begitu cepat tiba ke masa lalu nan lampau. Itulah istimewanya ruas Tsumago-Magome. Kita serasa mendadak berada di tahun 1600-an.

 

Mulailah kami menapaki jalan tanah, batu dan cadas. Naik. Turun. Naik. Naik. Naik. Belum juga turun. Etape pertama mungkin hanya 1,5 km atau kurang. Tapi kami harus menempuhnya 1,5 jam.

 

“Kuat pak?” sapa seorang CEO muda dari perusahaan fintech. Ia bertanya begitu sambil memandang tanjakan di depan di tengah hutan momiji –pohon mapple khas Jepang.

 

“Saya coba,” jawab saya.

 

Kian lama anak muda yang bertanya tadi kian tertinggal di belakang. Dari jauh saya dengar temannya, juga seorang CEO bank digital, bertanya kepadanya: “kuat?”. Orang itu menjawab “kalau tidak kuat malu dengan orang tua di depan itu”. Ia menjawab dengan suara agak keras seperti ingin memompa semangat saya.

 

Saya tersenyum mendengar percakapan itu. Saya mencoba tidak menoleh ke kelakang. Saya sudah kenal suara siapa itu. Sudah dua hari kami bersama mereka. Sudah mengenali suaranya satu dengan lainnya.

 

Saya tersenyum bukan mengejek mereka. Saya tersenyum untuk mengejek diri sendiri. Percakapan seperti itulah yang pernah terjadi 40 tahun lalu. Ketika saya masih semuda mereka. Waktu itu saya memutuskan agar rombongan berjalan kaki saja: dari Makkah ke Arafah. Di musim haji untuk rute itu naik mobil pun tidak akan lebih cepat.

 

Kami berangkat dari Masjidilharam di Makkah pukul 17.00 –setelah salat asar. Tiba di Arafah pukul 00.00. Di tengah jalan, setiap kali terasa putus asa saya selalu melihat orang yang berjalan di depan saya. Tua. Wanita. Tertatih. “Dia saja kuat. Saya juga harus kuat,” kata saya dalam hati.

 

Teman-teman saya, para manajer saya, tidak ada yang mengeluh. Langkahnya pasti. Kelak, setelah tiba di Arafah saya bertanya mengapa mereka kuat sekali. Padahal saat memutuskan jalan kaki tadi saya punya niat menguji fisik para manajer itu.

 

“Saya biasa ikut lomba jalan Mojokerto-Surabaya,” salah seorang menjawab. Sialan. Saya kecele. Ia manajer untuk perusahaan provider internet. Zaman itu saya sudah mendirikan usaha internet di saat mencari calon konsumen yang mau memiliki email saja sulitnya bukan main. Setelah lima tahun rugi terus, dan terjadi krisis moneter, perusahaan itu saya jual ke manajer tersebut. Harga jualnya seingat saya, Rp1.- Yang penting ia tidak minta pesangon.

 

“Saya biasa ikut maraton,” ujar manajer satunya lagi.

 

Ternyata justru saya sendiri yang tidak pernah olahraga.

Di Nakasendo ini CEO muda yang bilang malu tadi kelihatannya juga jarang olahraga –lebih sering main golf. Di akhir Nakasendo ia berseloroh sambil termehek-mehek “sampai akhir tahun saya sudah tidak perlu lagi olahraga,” katanya. Maksudnya, dengan Nakasendo ia sudah ”mendeposito” kan olahraga dalam jumlah besar yang bisa dianggap sudah olahraga sampai akhir tahun. Ia seorang top manajer bank digital yang olahraga bisa dianggap seperti tabungan.

 

Akhirnya saya tahu, sepertiga rombongan memutuskan Nakasendo sampai stop pertama saja. Mereka meneruskan perjalanan lewat rute mobil. Kami masih bersemangat. Pemimpin tur kami yang memberi semangat. Pengusaha luar biasa besar dengah badan ramping tadi, mengatakan di akhir etape kedua nanti akan ada air terjun di tengah hutan.

 

Ia seorang pemimpin sejati. Bisa membangkitkan semangat anggota tim yang sudah hampir putus asa. Saya mencatat ucapan itu sebagai motivasi untuk yang lain.

 

Saya sendiri tidak begitu percaya akan ada air terjun yang menakjubkan di kawasan itu. Sudah banyak objek air terjun kelas dunia yang saya datangi –mana mungkin di situ lebih istimewa. Memang, untuk menjaga kebahagiaan biasanya saya tidak pernah berharap banyak pada apa pun dan pada siapa pun. Takut kecewa.

 

Maka di akhir etape kedua saya tetap bahagia –meski air terjunnya kalah jauh –pun oleh air terjun Mata Jitu di pulau Moyo, Sumbawa, yang pernah dikunjungi rocker Mick Jagger dan bangsawan Inggris Putri Diana.

 

Secara keseluruhan saya puas dengan Camino di Nakasendo ini. Inilah peninggalan tahun 1600-an yang di banyak bagiannya masih dipertahankan keasliannya. Khususnya di dua etape yang dipilih tadi. Bangunan-bangunan kayunya masih asli –arsitekturnya maupun kayunya. Jalan setapaknya masih tidak banyak berubah.

 

Di setiap stop-nya ada kampung kuno. Jepang asli. Di situlah dulu pelancong Kyoto-Tokyo beristirahat. Ada penginapan. Ada restoran. Ada stasiun kendaraannya: stall kuda.

 

Saya bersyukur diajak Camino di Nakasendo. Sama dengan bersyukurnya saat dua tahun lalu diajak naik gunung Huang Shan –setelah dua gunung sakti lainnya saya daki: Tai Shan di Shandong dan Wuyi Shan di Fujian.

 

Saya sudah ke Jepang begitu banyak kali. Mulai dari yang paling selatan di Okinawa, Nagasaki, Fukuoka, sampai yang paling utara di Nemuro-nya Hokkaido. Tapi Camino Nakasendo tak kan terlupakan. (Dahlan Iskan)