RADARBEKASI.ID, BEKASI – Setahun menjabat, elektabilitas Presiden Prabowo Subianto justru tergerus tajam. Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) mencatat, dukungan terhadap Prabowo dalam simulasi semi terbuka anjlok dari 34,9 persen pada November 2025 menjadi hanya 9,8 persen pada Oktober 2026. Sebaliknya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melesat ke posisi teratas dengan elektabilitas 35,5 persen.
Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, mengungkapkan pergeseran dukungan tersebut menunjukkan perubahan signifikan dalam peta persaingan politik nasional. Prabowo yang sebelumnya unggul kini tertinggal jauh dari Dedi Mulyadi.
“Menurun dari 34,9 persen pada November 2025 menjadi hanya 9,8 persen pada Oktober 2026,” kata Deni dalam rilis resmi yang terima redaksi Radar Bekasi, Sabtu (17/10/2026).
Dalam simulasi semi terbuka dengan 24 nama, Dedi memimpin dengan elektabilitas 35,5 persen. Anies Baswedan menyusul di posisi kedua dengan 10,3 persen, diikuti Prabowo 9,8 persen dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka 8,4 persen. Sementara itu, nama-nama lain memperoleh dukungan di bawah 6 persen dan 13,9 persen responden belum menentukan pilihan.
Tren penurunan Prabowo terlihat konsisten sepanjang 2026. Setelah berada di angka 33,3 persen pada Februari–Maret, elektabilitasnya merosot menjadi 14,5 persen pada Juli, lalu kembali terpangkas menjadi 9,8 persen pada Oktober.
Sebaliknya, dukungan terhadap Dedi terus menguat hingga mencapai 35,5 persen. Pada November 2025, elektabilitas Dedi masih berada di angka 19,7 persen, jauh di bawah Prabowo yang ketika itu mengantongi 34,9 persen.
Kesenjangan tersebut semakin lebar ketika SMRC menguji simulasi dua nama. Jika Pilpres hanya mempertemukan Prabowo dan Dedi, gubernur Jawa Barat itu unggul telak dengan dukungan 69,3 persen. Prabowo hanya memperoleh 18,8 persen, sedangkan 12 persen responden belum menentukan pilihan.
Padahal, pada Februari–Maret 2026, Prabowo masih unggul dengan 50,5 persen, sementara Dedi memperoleh 42,6 persen. Situasi berbalik pada Juli ketika Dedi meraih 59 persen dan Prabowo turun menjadi 28,3 persen.
Dalam tujuh bulan, dukungan terhadap Prabowo menyusut hampir 32 poin persentase. Pada periode yang sama, elektabilitas Dedi meningkat hampir 27 poin.
“Dalam tujuh bulan, dukungan pada Prabowo dalam simulasi dua nama turun hampir 32 poin, sementara Dedi Mulyadi naik hampir 27 poin,” ujar Deni.
Penurunan elektabilitas Prabowo tak serta-merta tertutupi ketika Dedi dikeluarkan dari simulasi. Dalam skenario tiga nama yang mempertemukan Prabowo, Gibran, dan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), posisi presiden justru kembali tertinggal.
Gibran meraih dukungan 29,7 persen, disusul AHY 28,2 persen dan Prabowo 22,7 persen. Sebanyak 19,4 persen responden belum menentukan pilihan.
SMRC memasukkan Gibran dan AHY dalam simulasi tersebut untuk menguji kekuatan elektoral dua tokoh yang memiliki posisi strategis di pemerintahan dan partai politik, ketika Dedi tidak menjadi pesaing.
Hasilnya, Prabowo belum mampu mengonsolidasikan dukungan mayoritas. Bahkan, dalam penilaian Deni, dukungan terhadap Dedi yang tidak masuk simulasi lebih banyak mengalir kepada Gibran dan AHY dibandingkan kepada Prabowo.
“Suara Dedi ternyata lebih banyak ditarik Gibran dan AHY dibanding Prabowo. Dukungan kepada Prabowo sebagai petahana sangat lemah jika pemilihan presiden diadakan sekarang,” kata Deni.
Rapuhnya dukungan terhadap Prabowo juga terlihat di kalangan pemilih partai politik yang telah menyatakan dukungan kepada pemerintahannya. Basis partai pendukung ternyata tidak otomatis menjadi lumbung suara bagi presiden.
Di kalangan pemilih Partai Gerindra, hanya 20 persen yang memilih Prabowo dalam simulasi semi terbuka, sedangkan 74 persen memilih calon lain. Dukungan dari pemilih Partai Golkar tercatat 17 persen, PAN 8 persen, dan PKB hanya 4 persen.
Dukungan lebih rendah terlihat dari pemilih partai lain. Prabowo hanya memperoleh 11 persen di kalangan pemilih NasDem, masing-masing 6 persen dari pemilih Demokrat dan PDIP, serta 2 persen dari pemilih PKS.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa dukungan partai secara organisatoris belum tentu berbanding lurus dengan pilihan pemilihnya.
Bagi Prabowo, persoalannya bukan hanya menghadapi pesaing yang elektabilitasnya menanjak, melainkan juga menjaga kepercayaan pemilih di luar maupun di dalam basis politik pendukungnya.
Deni menilai, kemerosotan elektabilitas Prabowo berkaitan dengan penilaian publik terhadap kinerjanya sebagai presiden. Kondisi makroekonomi dan politik, penegakan hukum, hingga kemampuan pemerintah menangani persoalan mendesak turut memengaruhi persepsi masyarakat.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) juga menjadi bagian dari evaluasi publik yang dinilai negatif.
“Kondisi itu yang dinilai publik buruk, dengan kinerja pemerintah mengatasi masalah-masalah mendesak, serta dengan penilaian negatif atas program MBG dan KDMP,” ujar Deni.
Meski demikian, hasil survei tersebut merupakan potret preferensi politik responden pada saat pengumpulan data, bukan prediksi pasti hasil pemilihan presiden mendatang. Perubahan dukungan masih dapat terjadi seiring perkembangan kinerja pemerintah, dinamika politik, dan kemunculan kandidat lain.
Survei SMRC ini melibatkan 1.213 warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih, yakni berusia minimal 17 tahun atau sudah menikah ketika survei dilakukan.
Dari jumlah tersebut, 1.013 responden pemilik telepon seluler dipilih secara acak menggunakan metode double sampling dan diwawancarai melalui telepon. Sementara itu, 200 responden yang tidak memiliki ponsel dipilih menggunakan metode stratified multistage random sampling dan diwawancarai secara tatap muka.
Dengan tingkat kepercayaan 95 persen, survei ini memiliki margin of error sekitar ±2,9 persen, dengan asumsi simple random sampling.(gar/jp)











