Berita Bekasi Nomor Satu

Hati Robot

 

Oleh Dahlan Iskan

Yang menarik pengunjung awam di pameran robot di Beijing adalah: robot penyaji kopi. Tentu saya mencoba membeli kopi ke robot itu: Rp60.000/gelas. Bukan karena ingin minum kopinya tapi untuk membeli pengalaman dilayani robot.

 

Ada daya tarik lain: dapat bonus penghias permukaan kopi dengan foto wajah sendiri. Setelah wajah anak Pak Iskan terlihat di permukaannya kopi itu tidak segera saya minum –takut foto wajah itu rusak. Tapi juga punya maksud lain: ingin tahu seberapa lama foto wajah itu tidak pudar.

Sampai lima menit kemudian masih solid. Tanda-tanda memudar pun belum ada. Padahal kopi itu saya bawa jalan keliling pameran: sedikit terguncang. Sampai di stand terakhir masih utuh. Yakni stand yang menampilkan dua robot manusia. Yang satu bisa main tai chi. Satunya lagi, ehm, bisa senam mirip senamnya yang menulis cerita ini.

Tentu ada robot yang main basket. Main bola. Tinju. Lengkap. Semua yang menggambarkan manusia yang lebih menarik. Misalnya ada robot Einstein –bisa menjawab pertanyaan apa saja mengenai jagad raya ini. Rupanya ke dalam robot itu sudah diinput banyak data mengenai Einstein berikut karya-karyanya.

Ada pula robot sinse yang bisa mendeteksi denyut nadi pasien –lalu memberikan diagnosisnya. Ada lagi robot yang untuk mengoperasi lutut manusia.

Saya pun ingat Nisa –Khoirunnisak Rusli

 

Suami-istri-satu-hati itu kini sangat sehat. Bahkan enam bulan lalu sudah naik haji sambil membawa jamaah haji yang ditangani perusahaan keluarga mereka.

 

Keesokan harinya saya makan malam dengan empat dokter yang menangani Nisa dan suami – yang 20 tahun lalu juga menangani saya di RS Tianjin.

Kepada para dokter itu saya sekali lagi mengucapkan terima kasih. Saya juga melaporkan keadaan Nisa dan suami yang sehat sekali –sudah bisa naik haji pula.

Tidak hanya itu: saya juga minta bantuan mereka sekali lagi. Seorang suami warga Surabaya hari itu tiba di Beijing untuk keperluan yang sama. Istrinya juga sudah siap memberikan separo hatinyi kepada sang suami.

Sang suami ngambek. Ia tidak mau berangkat ke Beijing. Batal. Yakni ketika tahu istrinyalah yang akan memberikan separo hatinyi untuk menyelamatkan nyawanya.

 

 

Begitu tahu akan diambilkan dari hati istri ia tidak mau transplant. Pilih pengobatan cara lain. Saya pun minta bantuan Nisa untuk ikut memberi penjelasan. Nisa jadi contoh hidup: bagaimana orang yang hatinya diambil separo tidak apa-apa. Dalam tiga bulan hati Nisa sudah tumbuh kembali utuh seperti sedia kala. Pun separo hati yang dipasang di tubuh suami sudah tumbuh dan menjadi satu hati yang utuh.

 

 

 

Ternyata anak perempuan pasien itu bisa berbahasa Mandarin. Bahasa Mandarinnyi sangat bagus. Dia lulusan SMA Xin Zhong, Surabaya. Maka saya atau Nisa tidak perlu mengantar. Toh semuanya sudah siap. Dan lagi di waktu hampir bersamaan saya juga ke Beijing.

 

Saat saya makan malam dengan para dokter itu, mereka bertiga (suami, istri, anak) sedang di rumah sakit. Masih harus menjalani pemeriksaan yang teliti.

 

Tiga bulan lalu sebenarnya juga ada suami istri yang punya maksud serupa. Orang Kupang, NTT. Sang suami opname di rumah sakit Surabaya. Istrinya menghubungi saya. Begitu mereka memutuskan akan transplant saya hubungi dokter di Beijing. Siap. Istri pasien pun mulai mengurus visa. Lalu memesan tiket, termasuk tiket untuk saya yang akan mengantarkannya.

 

Sehari sebelum berangkat sang suami meninggal dunia. Saya menghubungi istrinya untuk bertanya di mana jenazah disemayamkan –bermaksud akan mesong. Ternyata jenazah diterbangkan ke Kupang.

Di Tiongkok robot sudah merambah ke mana-mana termasuk ke sektor kesehatan. Saat rombongan Disway Business Adventures Vol. 5 berkunjung ke pabrik mobil Xiaomi mereka geleng-geleng kepala: hampir tidak terlihat manusia di pabrik yang begitu besar. Pun ketika rombongan ke pabrik mie instan terkemuka di Beijing: serba-robot.

Robot diciptakan manusia untuk membantu manusia yang ciptaan siapa? (*)