Berita Bekasi Nomor Satu

Latih Kemandirian, Siswa Berkebutuhan Khusus Jualan Takjil di Bekasi Selatan

JUALAN TAKJIL: Ilham dan Manda siswa SLB Kembang Karya Pembangunan III saat berjualan takjil di Jalan Komodo Raya, Perumnas 1, Bekasi Selatan, Rabu (25/2). FOTO: RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Menjelang waktu berbuka puasa, suasana Jalan Raya Komodo, Perumnas 1, Bekasi Selatan tampak sedikit berbeda, Rabu (25/2). Di tepi jalan, dua remaja berdiri di balik meja sederhana berisi aneka takjil. Sesekali mereka tersenyum canggung saat melayani pembeli yang datang silih berganti.

Dengan gerakan tangan sebagai bahasa isyarat mereka ramah menyapa dan menjelaskan produk jualannya ke pelanggan. Kedua remaja itu melayani pembeli di sebuah stand sederhana di pinggir jalan.

Mereka adalah Ilham Faturachman Saleh, siswa kelas X-B, dan Amanda Suci Aurella, siswa kelas X-C dari SLB Kembang Karya III Kota Bekasi. Bersama teman-temannya, mereka sedang belajar menjadi pedagang takjil. Sebuah pengalaman baru yang perlahan menumbuhkan rasa percaya diri.

Dengan telaten, Ilham membantu menyerahkan pesanan kepada pembeli, sementara Amanda membantu menyiapkan menu makanan lainnya. Meskipun masih harus dibimbing, keduanya terlihat menikmati pengalaman yang tidak mereka temui di ruang kelas.

Kegiatan berjualan takjil ini merupakan bagian dari program vokasional sekolah yang dirancang untuk melatih kemandirian siswa berkebutuhan khusus. Para siswa dilibatkan sejak awal, mulai dari menyiapkan bahan, membuat makanan, hingga menjualnya langsung kepada masyarakat.

Kepala Sekolah Luar Biasa (SLB) Kembang Karya Pembangunan III, Vivi Sukmawati, mengatakan program tersebut sengaja dibuat agar siswa memiliki pengalaman nyata dalam berwirausaha.

“Kami mengajarkan anak-anak mulai dari membuat produk, menyiapkan dagangan sampai memasarkan. Tujuannya supaya mereka tahu seperti apa kegiatan usaha dan nantinya bisa mandiri di luar sekolah,” ujarnya kepada Radar Bekasi.

Menurut Vivi, kegiatan ini diikuti sekitar 16 siswa jenjang SMA yang dinilai mampu mengikuti pelatihan usaha. Para siswa tidak berjualan sekaligus, melainkan secara bergantian dalam kelompok kecil yang terdiri dari tiga orang setiap harinya.

Di lapak sederhana itu, berbagai jenis takjil tersusun rapi. Ada telur asin, spageti, siomay, tahu isi hingga makaroni. Harganya pun sangat terjangkau, rata-rata hanya sekitar Rp2.000 per porsi.

Bagi sekolah, kegiatan ini bukan soal keuntungan. Yang jauh lebih penting adalah memberikan pengalaman nyata kepada siswa tentang bagaimana menjalankan usaha kecil.

“Intinya kami tidak mencari untung. Yang penting anak-anak tahu bagaimana proses berjualan dan berinteraksi dengan pembeli,” jelas Vivi.

Respons masyarakat ternyata cukup baik. Tidak sedikit pembeli yang datang kembali setelah sebelumnya mencoba takjil buatan siswa SLB. Hal tersebut membuat para siswa semakin bersemangat untuk berjualan.

Bagi Ilham dan Amanda, pengalaman berdiri di pinggir jalan sambil menawarkan dagangan menjadi pelajaran berharga. Mereka belajar menyapa orang asing, menghitung uang, hingga memahami tanggung jawab terhadap pekerjaan yang dilakukan.

Meski begitu, guru tetap mendampingi selama kegiatan berlangsung. Pendampingan diperlukan karena sebagian siswa masih mengalami kesulitan dalam berkomunikasi maupun menghitung uang kembalian.

“Kendalanya tetap harus didampingi guru karena kadang masih salah mengembalikan uang atau salah menangkap pesanan. Tapi kalau sudah terbiasa nanti akan lebih lancar,” kata Vivi.

Setiap hari, persiapan dimulai sejak pukul 15.00. Sekitar satu jam kemudian lapak mulai dibuka hingga menjelang waktu berbuka puasa. Setelah dagangan habis atau waktu berbuka tiba, para siswa dan guru berkumpul untuk berbuka puasa bersama.

Bagi orang yang melintas, lapak kecil di tepi Jalan Raya Komodo itu mungkin terlihat sederhana. Namun bagi Ilham, Amanda, dan teman-temannya, tempat itu menjadi ruang belajar yang sesungguhnya tempat mereka berlatih percaya diri dan menapaki jalan menuju kemandirian. (rez)