RADARBEKASI.ID, BEKASI – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kabupaten Bekasi mulai mengantisipasi dampak ekonomi dari memanasnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Dunia usaha di kawasan industri terbesar di Asia Tenggara itu khawatir ketegangan di Timur Tengah memicu efek domino terhadap aktivitas manufaktur di daerah tersebut.
Ketua Apindo Kabupaten Bekasi, M. Yusuf Wibisono, mengatakan para pengusaha saat ini lebih mencermati potensi guncangan ekonomi global yang bisa merembet ke sektor industri di daerah.
“Kekhawatiran pengusaha di Kabupaten Bekasi terkait perang Iran-Israel utamanya adalah dampak ekonomi yang mungkin terjadi,” kata Yusuf saat dikonfirmasi Radar Bekasi, Rabu (4/3).
Kabupaten Bekasi diketahui memiliki 11 kawasan industri dengan lebih dari 7 ribu perusahaan yang beroperasi. Kawasan ini menjadi salah satu pusat manufaktur nasional sekaligus tulang punggung ekonomi Indonesia.
Menurut Yusuf, sektor manufaktur menjadi yang paling rentan terdampak, terutama bagi perusahaan yang masih bergantung pada bahan baku impor. Gangguan jalur perdagangan internasional berpotensi memicu kenaikan biaya produksi.
Selain itu, sejumlah sektor lain juga terancam terdampak, mulai dari energi, pertambangan, hingga pertanian dan pangan. Ia merinci beberapa risiko yang kini mulai diperhitungkan pelaku usaha.
“Kenaikan harga minyak dunia, yang dapat meningkatkan biaya produksi dan transportasi, guncangan pasar keuangan global yang mempengaruhi nilai tukar rupiah, gangguan rantai pasok yang dapat mempengaruhi ketersediaan bahan baku dan komponen, hingga kenaikan inflasi yang dapat menurunkan daya beli masyarakat,” tuturnya.
Apindo Kabupaten Bekasi saat ini masih terus memantau perkembangan situasi di lapangan. Hingga kini belum ada laporan administratif mengenai lonjakan biaya logistik secara signifikan, meski beberapa pelaku usaha mulai merasakan kenaikan biaya operasional.
“Saat ini, belum ada laporan resmi tentang kenaikan biaya logistik akibat perang Iran-Israel. Namun, beberapa pengusaha telah melaporkan kenaikan harga bahan bakar dan biaya transportasi,” terang Yusuf.
Sebagai langkah antisipasi, Apindo telah menginstruksikan para anggotanya untuk memperkuat ketahanan internal perusahaan jika konflik berkepanjangan. Upaya mitigasi dilakukan untuk meminimalkan potensi dampak terhadap kegiatan industri.
“Apindo Kabupaten Bekasi telah menyiapkan beberapa strategi mitigasi, diversifikasi sumber energi dan bahan baku, meningkatkan efisiensi dan produktivitas, mengoptimalkan rantai pasok dan logistik, serta meningkatkan kesadaran menghadapi risiko geopolitik,” tuturnya.
Meski demikian, Yusuf mengingatkan bahwa situasi global masih sangat dinamis sehingga dunia usaha harus tetap bersiap menghadapi berbagai kemungkinan.
“Situasi masih terus berkembang dan pengusaha di Kabupaten Bekasi harus tetap waspada dan siap menghadapi kemungkinan yang tidak terduga,” pungkasnya. (ris)











