Berita Bekasi Nomor Satu

Balita Ditemukan Tewas Mengenaskan di Jatisampurna

LOKASI KEJADIAN: Polisi saat melakukan pemeriksaan lokasi penemuan balita yang tewas penuh luka di dalam sebuah kontrakan di Jatirangga, Jatisampurna, Rabu (27/5) malam.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Warga Jalan Cekrok, Gang Saija, Kelurahan Jatirangga, Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi digegerkan dengan penemuan balita laki-laki berusia 2 tahun 7 bulan yang tewas mengenaskan di dalam sebuah rumah kontrakan Rabu (27/5) malam.

Korban ditemukan tewas dengan sejumlah luka. Sementara pamannya sendiri, seorang pemuda berinisial SG (18) ditemukan dalam kondisi terluka di lokasi yang sama dan kini diduga sebagai pelaku pembunuhan.

Ketua RT 02 RW 10 Jatirangga, Taufik Hidayat mengatakan, warga pertama kali mengetahui kejadian tersebut setelah mendengar suara teriakan dan tangisan dari arah kontrakan sekitar pukul 22.00 WIB.

“Semalam kami memang tidak tahu pasti kronologinya seperti apa. Tapi kami mendengar suara teriak dan tangisan dari penghuni kontrakan. Kami langsung lari ke lokasi dan melihat kondisinya sudah seperti itu,” kata Taufik saat ditemui di kediamanya, Kamis (28/5).

Saat tiba di lokasi, Taufik mengaku melihat kondisi korban sangat mengenaskan. Balita tersebut sudah tergeletak di lantai ruang tengah kontrakan dengan tubuh penuh luka.

Menurut Taufik, selama ini korban tinggal bertiga bersama nenek dan pamannya di kontrakan tersebut. Sang nenek diketahui bekerja serabutan dan kerap meninggalkan keduanya sejak siang hingga malam hari. Balita tersebut diketahui sudah ditinggalkan kedua orang tuanya karena masalah keluarga.

“Kalau dalam satu kontrakan itu ada tiga orang, yaitu balita korban, omnya yang usia sekitar 18 tahun, dan neneknya,” katanya.

Ia menjelaskan, nenek korban biasanya pergi bekerja sejak siang dan baru pulang sekitar pukul 21.00 hingga 22.00 WIB.

“Mereka sering ditinggal berdua karena neneknya berjualan. Dulu sempat buka warung kopi kecil di depan kontrakan, tapi sekarang sudah tidak jalan,” ujarnya.

Taufik juga mengaku tidak pernah mendengar keributan dari keluarga tersebut sebelumnya. Namun, warga sekitar menilai SG memiliki perilaku berbeda dibanding pemuda seusianya.

“Dia memang agak sulit diajak komunikasi. Sering lewat ke rumah saya atau ke warung, tapi terlihat memiliki kebutuhan khusus, berbeda dari anak-anak pada umumnya,” ungkapnya.

Saat polisi datang ke lokasi, SG masih berada di dalam rumah dalam kondisi terluka dan tidak sadarkan diri.“Masih ada di lokasi, tapi sudah banyak darah dan tidak sadar,” katanya.

Korban balita kemudian dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian, sedangkan SG langsung dievakuasi ke RSUD Jatisampurna untuk mendapatkan perawatan medis.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota, Kompol Andi Muhammad Iqbal mengatakan, pihaknya menerima laporan kejadian melalui Call Center 110 sekitar pukul 22.00 WIB dan langsung menuju lokasi bersama tim opsnal, Inafis dan SPKT.

“Kami bersama Polsek langsung responsif datang ke TKP dan mengecek di lapangan. Di TKP kami mendapat beberapa petunjuk dan memeriksa beberapa saksi,” kata Iqbal.

Menurut dia, korban balita ditemukan dengan kondisi luka parah.

“Korban mengalami beberapa luka sobek di pipi seperti diiris pisau. Bahkan di selangkangannya juga ada luka irisan, serta beberapa luka tusuk di bagian depan dan belakang tubuh,” ujarnya.

Polisi juga menemukan SG dalam kondisi terluka dengan luka sobek di bagian pipi dan mulut serta luka tusuk di dada. “Korban yang satunya ditemukan tergeletak dengan luka sobek di pipi, mulut, kemudian ada luka tusukan di dada serta beberapa goresan di badan,” katanya.

Dari hasil penyelidikan sementara, polisi menduga SG merupakan pelaku pembunuhan terhadap keponakannya sendiri.

“Untuk sementara dalam penyelidikan ini mengarah ke salah satu korban yang masih hidup dan saat ini dirawat di rumah sakit,” ungkap Iqbal.

Polisi mengungkap, SG diketahui memiliki riwayat gangguan jiwa dan pernah menjalani pengobatan ke psikiater.

“Yang bersangkutan memang sempat dibawa ke psikiater. Dari hasil interogasi saksi-saksi, yang bersangkutan mengalami gangguan jiwa dan rutin mengonsumsi obat,” ujarnya.

Menurut Iqbal, SG diketahui sudah dua hari tidak mengonsumsi obat yang biasa diminumnya sebelum kejadian berlangsung.

“Nah, korban juga sudah dua hari tidak mengonsumsi obat tersebut. Kami juga meminta resep obatnya dan memberikan obat yang biasa dikonsumsi,” katanya.

Meski demikian, hingga kini polisi belum dapat meminta keterangan langsung dari SG lantaran kondisinya masih menjalani perawatan intensif.

“Untuk saat ini yang bersangkutan belum bisa dimintai keterangan karena masih ada luka sobek di mulut dan luka tusuk di dada,” ucapnya.

Polisi juga sempat mendalami tindakan nenek korban berinisial M (60) yang mencuci pisau di lokasi kejadian. Namun setelah dilakukan pemeriksaan, tindakan itu dipastikan hanya refleks spontan karena syok melihat kondisi anak dan cucunya.

“Awalnya kami menduga ada kejanggalan karena pisaunya dicuci. Tapi setelah investigasi mendalam, itu murni refleks karena syok melihat kondisi korban,” jelasnya.

Dalam penyelidikan kasus tersebut, polisi telah memeriksa sekitar 8 sampai 10 saksi, termasuk keluarga korban dan warga sekitar lokasi. Selain itu, petugas juga mengamankan dua bilah pisau dapur, pakaian korban dan rekaman CCTV sebagai barang bukti. Polisi juga menjelaskan tidak ditemukan barang hilang di lokasi kejadian.

“Untuk barang bukti saat ini ada baju korban, dua pisau dapur, serta CCTV di lokasi,” tutur Iqbal.

Jenazah balita kini telah dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk menjalani autopsi lebih lanjut. Polisi memastikan penyelidikan kasus tersebut masih terus berlangsung. (rez)