RADARBEKASI.ID, BEKASI – Beban pengeluaran dapur kian berat dirasakan masyarakat Kabupaten Bekasi seiring lonjakan harga kebutuhan pokok. Kenaikan harga kini bukan lagi soal daging sapi, melainkan bumbu dapur harian seperti cabai dan bawang yang langsung memengaruhi pengeluaran warga.
Lingga (45), warga Kelurahan Telagaasih, Kecamatan Cikarang Barat, mengaku terkejut dengan harga bawang merah yang mencapai Rp68 ribu per kilogram.
“Tadi beli di warung 1/4 kg Rp17 ribu. Kalau sekilo Rp68 ribu. Cabai juga ada yang sampai Rp90 ribu,” ujarnya, Selasa (9/6).
Hal itu membuatnya berpikir ulang dalam mengatur pengeluaran dapur sehari-hari. Ia mengaku kini lebih sering memilih membeli lauk matang ketimbang memasak sendiri.
“Ini sudah sangat mengkhawatirkan untuk yang masak setiap hari. Mending beli lauk matang,” katanya.
Sementara, Kepala Bidang Pengendalian Barang Pokok dan Penting (Bapokting) Dinas Perdagangan Kabupaten Bekasi, Helmi Yenti, menyebut ada lima komoditas yang mengalami kenaikan sejak menjelang Iduladha. Yakni cabai merah keriting, cabai rawit, bawang merah, bawang putih, dan daging sapi paha depan.
Berdasarkan pemantauan sepekan terakhir, harga cabai merah keriting di Pasar Cibarusah berada di angka Rp68.000 per kilogram. Sementara harga terendah di Pasar Tambun dan Serang sekitar Rp45.000, masih di bawah HET Rp55.000.
Untuk cabai rawit merah, harga tertinggi mencapai Rp90.000 di Pasar Cikarang dan Serang, sedangkan terendah Rp65.000 di Pasar Babelan, tetap di atas HET Rp57.000.
Komoditas bawang merah tercatat di kisaran Rp35.000 hingga Rp50.000 per kilogram, dengan HET Rp41.500. Sementara itu, daging sapi paha depan naik hingga Rp150.000 per kilogram, melampaui HET Rp130.000.
Adapun bawang putih kini mencapai Rp40.000 per kilogram, atau naik sekitar Rp10.000 dari harga normal.
Ia menyebut, daging sapi mengalami kenaikan harga karena sudah naik sejak dari daerah pemotongan, yang dipengaruhi oleh kenaikan biaya di tingkat peternak. Kondisi ini terutama terjadi pada daging lokal.
“Daging sapi itu mahal karena sudah naik dari daerah pemotongannya. Itu yang untuk daging lokal. Kalau untuk daging impor karena kondisi dunia politik, internasional lagi tidak baik-baik saja,” ujarnya, Selasa (9/6).
Dampak tersebut juga menjalar ke komoditas lain seperti bawang putih. Adapun untuk komoditas lokal, kenaikan paling terasa terjadi pada cabai rawit, cabai merah, dan bawang merah.
“Itu berpengaruh kepada komunitas yang bersifat dari luar ke dalam. Salah satunya daging, bawang putih itu pasti akan berdampak. Cuma kalau untuk yang lokal yang berdampak itu cabai rawit, cabai merah sama bawang merah naik,” tambahnya.
Ia menjelaskan, konsumsi daging bersifat tidak harian sehingga tidak terlalu membebani pengeluaran. Sebaliknya, cabai dan bawang adalah kebutuhan rutin rumah tangga.
“Walaupun ini naiknya tidak signifikan, tapi kan ini dibutuhkan tiap hari. Lima komoditi ini lebih dirasakan daripada daging sapi,” terang Helmi.
Menurutnya, perbedaan harga antara Pasar Cikarang, Cibarusah dan Setu ditenggarai mobilitas pengiriman dari wilayah asal . Kendati demikian, dari hasil pemantauannya selain empat komoditas tersebut tidak ada Bapokting yang mengalami kenaikan termasuk beras premium maupun minyak goreng.
“Komoditas barang pokok seperti beras dan minyak goreng terpantau aman dan terkendali,” tuturnya.
Untuk pasokan lokal, dikatakan Helmi, Kabupaten Bekasi masih bergantung pada pasokan cabai dari Garut. Namun cuaca ekstrem menyebabkan gagal panen sehingga distribusi ke Pasar Induk Cibitung terganggu. Pemerintah daerah kini berupaya mendatangkan pasokan dari Sumatera untuk menstabilkan harga.
“Ini kita lagi menyiasati untuk memasukkan agak masuk daerah Sumatera ke pasar induk Cibitung. Semoga ini bisa mengurangi nanti,” katanya.
Helmi menyatakan bahwa Indeks Perkembangan Harga (IPH) Kabupaten Bekasi berada di angka 1,56 atau peringkat ke-8 di Jawa Barat. Kondisi inflasi disebut masih relatif terkendali. (ris)











