RADARBEKASI.ID, BEKASI – Kecelakaan maut yang merenggut nyawa pengemudi Mitsubishi Triton, Alfaruq (22), di Pelintasan Sebidang Bulak Kapal, Bekasi Timur, bukan menjadi akhir dari ancaman di lokasi tersebut. Sehari setelah tragedi itu, arus kendaraan kembali padat, pengendara masih nekat menerobos rel, sementara para penjaga pelintasan swadaya terus berjibaku mempertaruhkan keselamatan demi mencegah korban berikutnya.
Deru mesin kendaraan, bunyi klakson yang saling bersahutan, dan peluit nyaring para penjaga kembali memenuhi Pelintasan Sebidang Bulak Kapal, Kelurahan Aren Jaya, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi.
Tak ada kesan lokasi itu baru saja menjadi saksi kecelakaan maut yang menewaskan seorang pengemudi mobil pikap Mitsubishi Triton setelah tertabrak KA Gajayana Tambahan.
Deretan sepeda motor dan mobil kembali mengular di kedua sisi rel. Begitu kereta melintas, para pengendara berlomba menjadi yang pertama melewati lintasan.
Di tengah kepadatan itu, beberapa penjaga pelintasan swadaya mengenakan rompi biru sibuk meniup peluit, mengangkat sebatang bambu, lalu menghentikan kendaraan agar tidak memasuki rel ketika kereta datang.
Namun, tak semua mematuhi. Masih ada pengendara yang mencari celah untuk menerobos. Bahkan, saat Radar Bekasi berada di lokasi, sebuah sepeda motor sempat bersenggolan dengan mobil karena sama-sama berebut melintas setelah kereta lewat.
Seorang penjaga yang berusaha melerai ikut terserempet hingga terjatuh. Kemacetan pun mengular hingga Jalan Ir H Juanda dan Jalan Pahlawan.
Bagi Alfian (21), penjaga pelintasan yang baru dua bulan bertugas, kejadian seperti itu bukan hal baru.
“Hampir setiap hari ada saja yang menerobos. Sudah diteriaki, sudah disuruh berhenti, tetap saja memaksa lewat,” ujarnya.
Ia masih mengingat jelas detik-detik kecelakaan yang merenggut nyawa Alfaruq.
Menurut Alfian, sebelum tabrakan terjadi, petugas telah menghentikan arus kendaraan. Klakson kereta juga sudah berbunyi berkali-kali.
“Kereta sudah membunyikan klakson dan kami juga sudah berteriak, ‘Awas kereta’. Tapi mobil itu tetap jalan sampai akhirnya tertabrak,” katanya.
Menurutnya, persoalan di Bulak Kapal bukan hanya minimnya fasilitas keselamatan, tetapi juga rendahnya disiplin pengguna jalan.
“Banyak pengendara yang susah diatur. Sudah diarahkan supaya di kiri, malah ambil kanan. Ada juga yang berhenti tepat di atas rel karena ingin lebih dulu lewat,” katanya.
Bersama lima rekannya, Alfian berjaga selama 24 jam secara bergantian.
Mereka tidak menghafal jadwal perjalanan kereta. Seluruh kewaspadaan mengandalkan pengamatan terhadap sinyal dan kondisi lintasan.
“Kalau malam lebih mudah karena lampu sinyal terlihat. Kalau siang benar-benar harus fokus melihat jalur,” ujarnya.
Risiko yang mereka hadapi bukan hanya ancaman kereta api.
Alfian mengaku pernah dimaki pengendara yang tidak terima dihentikan. Bahkan, ia pernah ditabrak pengendara yang memaksa menerobos rel.
“Pernah dimaki. Katanya, ‘Awas gua mau lewat’. Pernah juga ditabrak pengendara yang maksa lewat. Padahal kami cuma ingin mereka selamat,” katanya.
Cerita serupa disampaikan Luki (39), penjaga pelintasan yang telah lima tahun mengabdi secara sukarela.
Selama bertugas, ia mengaku tidak pernah menerima honor dari Direktorat Jenderal Perkeretaapian maupun instansi pemerintah.
“Selama ini kami bertugas secara sukarela,” ujarnya.
Meski demikian, ia memilih bertahan.
“Yang membuat saya tetap bertahan adalah menjalankan amanah untuk membantu menjaga keselamatan masyarakat,” katanya.
Menurut Luki, masih banyak pengendara yang menganggap kereta masih jauh sehingga tetap memaksa melintas.
“Padahal diberhentiin juga buat keselamatan sendiri,” ucapnya.
Selain belum memiliki palang pintu otomatis, kondisi jalan di sekitar rel juga menjadi persoalan.
Permukaan jalan yang bergelombang membuat kendaraan, terutama mobil, kerap melambat bahkan tersangkut saat melintas.
“Kami cuma minta aspalnya diperbaiki. Kalau hujan jadi licin. Sudah beberapa kali diajukan, tapi belum ada tindakan,” kata Luki.
Menurutnya, jalan yang rusak bisa memperbesar risiko kecelakaan karena kendaraan berpotensi mogok tepat di atas rel.
Harapan serupa disampaikan para pengguna jalan.
Raffi (35), yang hampir setiap hari melintasi Bulak Kapal, berharap pemerintah membangun underpass agar kendaraan tidak lagi bergantung pada pelintasan sebidang.
“Kalau memungkinkan, dibuat underpass supaya kendaraan punya jalur sendiri. Penjaga sudah membantu, tapi kalau pengendaranya tidak tertib tetap berbahaya,” katanya.
Hal senada diungkapkan Dika (24). Ia mengaku selalu waswas setiap kali melintasi rel tersebut.
“Masih banyak yang nekat menerobos. Jangan sampai nanti saling menyalahkan kalau sudah terjadi kecelakaan,” ujarnya.
Hingga kini, Pelintasan Sebidang Bulak Kapal masih mengandalkan penjagaan manual meski menjadi salah satu titik dengan arus kendaraan terpadat di Kota Bekasi.
Para penjaga berharap pemerintah segera menghadirkan solusi permanen, mulai dari pemasangan palang pintu otomatis, perbaikan kondisi jalan, hingga pembangunan underpass.
Namun, di balik berbagai usulan itu, mereka meyakini satu hal yang tak kalah penting: kesadaran pengguna jalan.
Sebab, sehebat apa pun fasilitas yang dibangun, keselamatan tetap bergantung pada kepatuhan pengendara untuk berhenti sejenak ketika kereta melintas.
Di Pelintasan Bulak Kapal, suara peluit para penjaga terus terdengar setiap hari. Mereka berdiri di tengah jalan, mempertaruhkan keselamatan diri demi menjaga keselamatan orang lain. Sayangnya, tak sedikit pengendara yang masih memilih mengambil risiko, seolah beberapa detik lebih berharga daripada sebuah nyawa. (rez)











