Berita Bekasi Nomor Satu

Air Sumur Bor Berkarat, Warga Bojongmangu Terdampak Kekeringan Bergantung Bantuan

ANDALKAN SUMBANGAN AIR: Sejumlah warga mengisi galon dengan air bersih yang didistribusikan pemerintah Kabupaten Bekasi di Desa Medalkrisna, Bojongmangu, Rabu (29/7). FOTO: ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Lebih dari seribu warga Desa Medalkrisna, Kecamatan Bojongmangu, harus menghadapi krisis air bersih di tengah musim kemarau yang telah berlangsung selama tiga bulan.

Keterbatasan sumber air membuat warga terpaksa bergantung pada bantuan air tangki, menggunakan air rawa, hingga mencoba sumur bor yang kualitas airnya tidak layak.

Bagi warga Kampung Bedeng, Dusun 3 Desa Medalkrisna, mencari air bersih bukan perkara mudah. Kondisi geografis wilayah yang sulit mendapatkan sumber air membuat pengeboran sumur dalam belum menjadi solusi.

Meski pengeboran hingga kedalaman sekitar 100 meter mampu menghasilkan air dalam jumlah cukup banyak, kualitasnya justru dikeluhkan warga. Air yang keluar mengandung endapan besi dan mineral tinggi sehingga tidak dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Kepala Dusun 3 Desa Medalkrisna, Haji Parno (50), mengatakan pengeboran sumur tidak menjadi solusi bagi masyarakat setempat. Pasalnya, air tanah yang dihasilkan dinilai tidak aman untuk dikonsumsi maupun digunakan untuk kebutuhan Mandi Cuci Kakus (MCK).

“Kalau dibor sampai 100 meter itu airnya memang banyak, cuma berkerak besi, berminyak. Kalau dipakai mandi, sesudah kering itu di kulit kayak garam, putih-putih. Jadi tidak bisa buat minum atau mandi,” ujar Haji kepada Radar Bekasi, Rabu (29/7).

Kondisi semakin sulit ketika pasokan air bersih terlambat tiba di permukiman. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga terpaksa memanfaatkan air rawa di sekitar lingkungan meski mengetahui kualitasnya tidak layak.

Menurut Parno, warga Kampung Bedeng telah mengalami kesulitan air bersih sejak tiga bulan terakhir. Ketergantungan terhadap bantuan pemerintah menjadi harapan utama masyarakat untuk bertahan menghadapi kemarau.

“Kekeringan di Kampung Bedeng ini sudah ada tiga bulan. Saya bingung kalau tidak ada sumbangan air dari pemerintah,” katanya.

Kedatangan truk tangki bantuan air bersih pun menjadi momen yang dinanti warga. Ratusan warga langsung mengantre sejak pagi dengan membawa ember, galon bekas, hingga jerigen untuk menampung air.

Suasana gotong royong terlihat saat warga memindahkan air dari selang tangki ke berbagai wadah. Bantuan dari pemerintah dan Palang Merah Indonesia (PMI) itu menjadi penopang kebutuhan warga di tengah keterbatasan sumber air.

Meski bantuan terus diberikan, warga berharap pemerintah menghadirkan solusi jangka panjang berupa pembangunan jaringan air bersih permanen. Dengan begitu, masyarakat tidak lagi bergantung pada bantuan setiap kali musim kemarau tiba.

“Kalau pas pasokan tidak ada atau susah. Paling mengambil dari rawa. Di rawa ada air, cuma tidak bagus hanya bisa buat mandi. Kalau untuk minum beli air isi ulang,” katanya. (ris)