Berita Bekasi Nomor Satu

Ancaman Kebakaran Melonjak di Musim Kemarau, Kewaspadaan Disdamkarmat Ditingkatkan

PEMADAMAN: Petugas Disdamkarmat Kota Bekasi saat melakukan pemadaman titik kebakaran gardu PLN di Jalan Raya KH Noer Ali, Kelurahan Jakasampurna, Kecamatan Bekasi Barat, Kota Bekasi, Kamis (4/6).

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Musim kemarau membuat ancaman kebakaran di Kota Bekasi semakin meningkat. Dalam tujuh bulan lebih, sebanyak 223 kejadian kebakaran tercatat terjadi di wilayah Kota Bekasi. Lahan kosong, ilalang, hingga tumpukan sampah menjadi objek yang paling banyak terbakar.

Jumlah tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencatat 179 kejadian. Artinya, terjadi penambahan 44 kasus kebakaran sepanjang Januari hingga 5 Agustus 2026.

Kondisi ini membuat kewaspadaan terhadap potensi kebakaran ditingkatkan, terutama di lahan kosong dan lokasi yang dipenuhi material mudah terbakar. Ketersediaan sumber air untuk pemadaman juga menjadi perhatian.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pemadaman Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kota Bekasi, Muhammad Reward Aprial, menyampaikan pihaknya telah mendata sekitar 200 hydrant yang dapat digunakan sebagai sumber air bagi petugas di lapangan.

Selain hydrant, kata Reward, petugas pemadam masih dapat memanfaatkan sumber air lain di sekitar lokasi kebakaran, seperti sungai, danau, maupun polder.

“Disdamkarmat Kota Bekasi memiliki persediaan air sendiri di setiap sektor, dan apabila membutuhkan air pada saat di lapangan bisa didapatkan melalui sumber air di sekitar lokasi kebakaran seperti Ground Tank, sungai, danau, atau polder air terdekat,” ungkapnya.

Menurut Reward, masing-masing pos sektor Disdamkarmat juga memiliki penampungan air untuk memenuhi kebutuhan armada pemadam. Upaya pencegahan turut dilakukan dengan memberikan imbauan kepada masyarakat terkait risiko kebakaran selama musim kemarau.

Imbauan tersebut disampaikan melalui berbagai kanal informasi, termasuk dengan melibatkan aparatur di tingkat kelurahan dan kecamatan.

Risiko kebakaran yang paling diwaspadai saat ini adalah lahan kosong, namun masyarakat juga dihimbau tetap waspada dengan risiko kebakaran di rumah atau bangunan lainnya. Data laporan kebakaran di Kota Bekasi sejak bulan Januari hingga 5 Agustus kemarin tercatat sebanyak 223 kejadian, lebih besar dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2025.

“Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu yang mencatatkan 179 kejadian kebakaran, maka angka kejadian pada tahun 2026 mengalami peningkatan sebanyak 44 kejadian,” katanya.

Risiko kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) juga mesti menjadi perhatian serius di Kota Bekasi. Selama musim kemarau ini, pemantauan oleh petugas di TPA Sumur Batu ditingkatkan.

“Tim kita sudah melakukan monitoring rutin, selain aktivitas pemulung juga dia memantau percikan-percikan api” kata Kabid Penanganan Sampah dan Kemitraan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi, Andy Frengky.

Pemantauan dilakukan oleh petugas untuk mengantisipasi aktivitas yang berpotensi menyebabkan terjadinya kebakaran seperti puntung rokok yang dibuang sembarangan. Selain itu, petugas juga memantau risiko munculnya sumber api akibat gas metana pada saat cuaca panas.

Pihaknya juga mengantisipasi risiko kebakaran tersulut akibat rumput kering di area TPA. Untuk itu dilakukan penyiraman secara berkala disepanjang akses jalan TPA.

“Kemudian yang ke dua juga terkait penyiraman ke jalan-jalan. Penyiraman jalan di TPA ini karena ada potensi puntung rokok dan segala macam, misalkan ada rumput-rumput kering,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Andy menyampaikan bahwa pihaknya telah berkomunikasi dengan Disdamkarmat Kota Bekasi. Sejauh ini petugas di TPA Sumur Batu telah diberikan pelatihan terkait dengan penanganan awal kebakaran.

“Kita juga sudah ada koordinasi bukan hanya dengan Damkar kita, tapi juga dengan mobil Damkar yang ada di TPST Bantargebang,” tambahnya. (sur)