RADARBEKASI.ID, BEKASI – Program Dosen Pulang Kampung IPB University yang diselenggarakan melalui Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LP2AI) IPB University memasuki hari kedua.
Setelah pada hari pertama membahas pengembangan ekonomi sirkular berbasis budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) dan ayam petelur, kegiatan hari kedua menitikberatkan pada pembangunan pola kemitraan ekonomi sirkular yang melibatkan kampus, komunitas Kebun Merdesa, program MBG, dan masyarakat lokal.
Kegiatan yang berlangsung di Kebun Merdesa, Desa Cikarawang, Kabupaten Bogor, Selasa (11/8/2026), menghadirkan Muhammad Nur Faaiz F. Achsani, S.E., M.Sc., dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University,

sebagai narasumber. Dalam materi bertajuk “Pola Kemitraan Ekonomi Sirkular”, Faaiz mengajak peserta memahami bahwa ekonomi sirkular tidak hanya berbicara mengenai pengelolaan sampah atau pemanfaatan kembali limbah.
Lebih jauh, konsep tersebut berkaitan dengan bagaimana sumber daya dapat terus berputar dan menghasilkan manfaat ekonomi bagi berbagai pihak yang terlibat.
Ia terlebih dahulu memaparkan konsep dasar ekonomi dan ekonomi sirkular agar masyarakat memahami hubungan antara kegiatan produksi, konsumsi, pemanfaatan sumber daya, hingga penciptaan nilai tambah.
Menurut Faaiz, pendekatan ekonomi yang selama ini cenderung berjalan secara linear mengambil sumber daya, memproduksi, mengonsumsi, kemudian membuang, perlu mulai diarahkan menuju pola yang lebih berkelanjutan.
“Dalam ekonomi sirkular, sumber daya tidak berhenti setelah digunakan. Kita perlu melihat bagaimana sesuatu yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dapat masuk kembali ke dalam proses produksi dan menciptakan nilai ekonomi baru,” ujar Faaiz.
Kemitraan Jadi Kunci Ekonomi Sirkular
Faaiz menekankan bahwa penerapan ekonomi sirkular di tingkat masyarakat tidak dapat berjalan apabila hanya mengandalkan satu pelaku. Diperlukan kolaborasi dan pembagian peran yang jelas antara berbagai pihak agar rantai kegiatan dapat terus berlangsung. Dalam konteks Program Dosen Pulang Kampung IPB University di Kebun Merdesa, pola kemitraan tersebut diarahkan untuk melibatkan kampus, komunitas Kebun Merdesa, program MBG, dan masyarakat lokal.
Kampus berperan menyediakan pengetahuan, inovasi, peningkatan kapasitas, serta pendampingan kepada masyarakat. Sementara itu, Komunitas Kebun Merdesa menjadi simpul kegiatan di tingkat lokal sekaligus ruang untuk mengimplementasikan berbagai praktik ekonomi sirkular. Di sisi lain, keberadaan program MBG dapat menjadi bagian dari ekosistem yang lebih luas, khususnya dalam membuka peluang keterhubungan antara sumber bahan pangan, pengelolaan sisa organik, kebutuhan pakan, hingga produk yang dihasilkan masyarakat.
Adapun warga lokal menjadi aktor penting dalam memastikan model tersebut berjalan secara nyata dan berkelanjutan di tingkat komunitas.
“Kemitraan menjadi penting karena ekonomi sirkular membentuk sebuah rantai. Setiap pihak memiliki peran. Ketika kampus, komunitas, masyarakat, dan berbagai program yang ada dapat terhubung, maka manfaat ekonomi yang tercipta juga dapat dirasakan lebih luas,” jelasnya.
Dari Limbah Menjadi Rantai Nilai
Pola kemitraan tersebut menjadi bagian penting dari model ekonomi sirkular yang tengah dikembangkan melalui budidaya maggot BSF dan ayam petelur di Kebun Merdesa.
Dalam skema ini, bahan organik yang sebelumnya berpotensi menjadi sampah dapat dimanfaatkan untuk mendukung budidaya maggot BSF. Hasil budidaya selanjutnya dapat menjadi bagian dari sumber pakan bagi peternakan ayam petelur. Produk yang dihasilkan kemudian dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan pangan sekaligus menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, kegiatan tidak berhenti pada proses produksi satu komoditas, tetapi membentuk rantai nilai yang saling terhubung.
Konsep inilah yang menjadi salah satu pembahasan utama pada hari kedua Program Dosen Pulang Kampung. Masyarakat didorong untuk tidak sekadar menjadi penerima manfaat, melainkan terlibat sebagai pelaku dalam ekosistem ekonomi lokal.
Kebun Merdesa Jadi Titik Temu Kolaborasi
Pelaksanaan materi pola kemitraan pada hari kedua sekaligus memperkuat posisi Kebun Merdesa sebagai ruang kolaborasi dan pembelajaran masyarakat. Jika pada hari pertama peserta diperkenalkan dengan potensi budidaya maggot BSF dan ayam petelur dalam pengembangan ekonomi sirkular, maka pada hari kedua peserta mulai diarahkan untuk memahami siapa saja yang perlu terlibat dan bagaimana hubungan antaraktor tersebut dapat dibangun.
Model ini diharapkan mampu mempertemukan pengetahuan dari perguruan tinggi, kekuatan komunitas lokal, kebutuhan pangan, serta aktivitas ekonomi masyarakat dalam satu ekosistem yang saling mendukung.
Melalui Program Dosen Pulang Kampung, IPB University berupaya agar transfer ilmu pengetahuan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi. Program diarahkan untuk membangun kapasitas masyarakat sekaligus membentuk pola kolaborasi yang dapat diterapkan secara berkelanjutan.
Penguatan pola kemitraan menjadi penting agar pengembangan ekonomi sirkular di Kebun Merdesa nantinya tidak bergantung pada satu pihak, tetapi tumbuh sebagai ekosistem bersama yang memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan bagi masyarakat Desa Cikarawang. (*)











