Berita Bekasi Nomor Satu

Pengamat Ekonomi Sarankan Investasi Ini Usai IHSG Longsor

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (16/10/2026). Foto: JawaPos.com.

RADARBEKASI.ID, JAKARTA – Pengamat ekonomi Ferry Latuhihin membeberkan sejumlah faktor yang menekan pasar modal menyusul anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga sempat memicu pembekuan sementara perdagangan (trading halt) pada sesi pertama perdagangan Jumat (16/10/2026) lalu.

Ferry juga menyoroti pergerakan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) yang sempat melesat ke atas level Rp18.000 sebelum kembali bergerak di kisaran tinggi antara Rp17.500 hingga Rp17.955 pada periode sama ambruknya IHSG.

Dia mengaku telah memproyeksikan tren pelemahan tersebut sejak awal sehingga menyarankan pelaku pasar untuk lebih berhati-hati dalam menempatkan dana.

BACA JUGA: Pembukaan Awal Pekan IHSG Merah Lagi, Dibuka Rp4.914

“Semua saya sudah prediksi pada saat saya mengatakan lebih baik pegang dolar daripada beli saham,” kata Ferry dikutip dari video yang diunggah di kanalnya, Senin (19/10/2026).

Menurut analisanya, guncangan pasar global bermula dari rilis inflasi bulanan AS yang mencapai 0,3 persen secara month-on-month, berada di atas ekspektasi konsensus pasar yang sebesar 0,2 persen.

Kondisi tersebut memicu kepanikan di pasar surat utang AS hingga mendongkrak imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun melampaui 5,3 persen dan tenor 30 tahun menembus 5,6 persen.

Ferry menggarisbawahi adanya tiga bahaya utama yang terjadi secara bersamaan, yakni inflasi AS yang berisiko membuat The Fed kian hawkish, tumpukan utang dunia, serta eskalasi ketegangan geopolitik global.

Selain itu, dia mencatat akumulasi utang publik dan swasta dunia telah menyentuh angka 365 triliun dolar AS, dengan rasio utang terhadap PDB Amerika Serikat yang melampaui 100 persen hingga mencapai 110 persen.

Tingginya beban utang tersebut dinilai kian menyulitkan debitur global dalam melakukan pembiayaan kembali (refinancing) di tengah tren suku bunga tinggi, yang pada gilirannya memicu aksi perebutan likuiditas dolar AS.

Selain beban utang, tensi geopolitik antara AS dan Iran di kawasan Timur Tengah turut mendongkrak harga minyak mentah jenis Brent kembali ke level 105 dolar AS per barel.

Di sisi domestik, Ferry memaparkan posisi utang Indonesia juga tercatat meningkat 5,6 persen dalam setahun terakhir hingga mencapai 459,3 miliar dolar AS.

Dia mengingatkan potensi bahaya besar apabila pemerintah tidak berhemat dan membiarkan defisit anggaran melebar melampaui batas 3 persen di tengah kondisi pasar obligasi yang lesu.

Kelesuan pembiayaan tersebut tercermin dari minimnya minat investor dalam lelang Surat Berharga Negara (SBN) yang hanya mencatat rasio penawaran di kisaran 1,3 hingga 1,4 kali.

“Nah, di sini ada bahaya yang mengintai, yaitu karena apa? Karena tiga risiko ini muncul berbarengan,” ujarnya.

Ferry juga menilai laju pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,45 persen belum optimal karena belum mampu memperluas penciptaan lapangan kerja formal maupun mengentaskan kemiskinan secara signifikan.

Kondisi ketenagakerjaan saat ini dinilai timpang lantaran porsi pekerja formal hanya berkisar 40 persen, sedangkan 60 persen sisanya terserap di sektor informal yang didominasi pekerjaan serabutan.

Dia merujuk pada hasil survei Center of Economic and Law Studies (CELIOS) yang menunjukkan 75 persen masyarakat mengalami tekanan stres terhadap kondisi perekonomian saat ini.

Ferry memperingatkan kehati-hatian masyarakat dalam berbelanja berisiko menekan konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penopang utama sekitar 54 hingga 58 persen dari total PDB Indonesia.

“Kalau masyarakat itu stres, mereka akan sangat berhati-hati melakukan spending, teman-teman, Aakibatnya consumption household kita, bisa mengalami penurunan yang sangat dahsyat,” pungkasnya. (zar)