Berita Bekasi Nomor Satu

Kim Jong Un Dikabarkan Koma Akibat Pendarahan Otak

Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un. Foto: ANTARA/KCNA via REUTERS.

RADARBEKASI.ID, KOREA UTARA – Rumor mengenai kondisi kesehatan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un kembali mencuat. Sejumlah klaim yang beredar di media sosial menyebut Kim mengalami pendarahan otak hingga koma dan harus dibawa ke Beijing untuk mendapatkan perawatan darurat.

Namun, kabar tersebut belum terverifikasi dan belum ada konfirmasi resmi yang membuktikan kebenarannya. Spekulasi itu memicu perhatian terhadap aktivitas pemerintahan di Pyongyang.

Pengamat Korea Utara menilai, respons pemerintah dalam beberapa waktu ke depan bisa menjadi petunjuk untuk membaca situasi, meski belum cukup untuk memastikan kondisi kesehatan Kim.

Melansir Turkiye Today, Kim terakhir kali terlihat di hadapan publik pada 11 Oktober saat mengunjungi sebuah museum pertahanan baru di lokasi yang tidak diungkapkan secara terperinci di Pyongyang. Dalam kunjungan tersebut, putrinya yang berusia 13 tahun, Kim Ju Ae, turut mendampinginya, berdasarkan foto-foto yang dirilis.

BACA JUGA: Korsel Desak Ukraina Minta Maaf karena Bocorkan Tawanan Korut

Sejak kemunculan itu, rumor mengenai kondisi kesehatan Kim kembali menjadi bahan spekulasi. Sejumlah unggahan di media sosial bahkan mengklaim Kim mengalami pendarahan otak dan dibawa ke Peking Union Medical College di Beijing untuk memperoleh penanganan medis.

Namun, klaim mengenai kondisi kritis maupun lokasi perawatan tersebut belum didukung bukti yang dapat diverifikasi.

Prediksi Pyongyang akan Beri Sinyal

Pengamat Korea Utara Benedict Rogers memperkirakan pemerintah Pyongyang akan menunjukkan bukti bahwa Kim masih dalam kondisi baik jika rumor tersebut terus berkembang.

Berbicara kepada kanal YouTube The Sun, ‘From The Newsroom’, Rogers mengatakan kabar mengenai kesehatan Kim bukan pertama kalinya beredar. Ia juga menyoroti kondisi fisik pemimpin Korea Utara tersebut.

“Dia tidak terlihat baik-baik saja,” kata Rogers, seraya menyebut Kim memiliki berat badan berlebih yang ekstrem.

Menurut Rogers, kemunculan bukti mengenai aktivitas Kim atau pernyataan resmi pemerintah dapat menjadi petunjuk untuk menilai rumor yang beredar. Sebaliknya, jika pemimpin Korea Utara itu meninggal dunia, pemerintah diperkirakan akan menggelar upacara berkabung secara besar-besaran.

Rogers menggambarkan bagaimana kematian pemimpin Korea Utara pada masa lalu diikuti oleh luapan kesedihan publik yang terorganisasi, termasuk kerumunan warga yang menangis di jalanan dan pembaca berita yang menunjukkan emosi saat menyampaikan kabar kematian.

Hingga informasi dalam laporan tersebut disusun, belum ada gambaran berkabung seperti itu yang dilaporkan. Meski demikian, tidak adanya upacara berkabung bukan bukti bahwa Kim berada dalam kondisi sehat ataupun kritis.

Rumor Kematian Kim Jong Un Pernah Muncul pada 2020

Spekulasi mengenai kesehatan Kim bukan hal baru. Pada 2020, rumor kematiannya juga menyebar luas setelah ia tidak muncul di hadapan publik selama beberapa waktu.

Kala itu, seorang mantan diplomat bahkan mengklaim Kim berada dalam kondisi koma dan siap menyerahkan kekuasaan kepada adiknya, Kim Yo Jong. Namun, Kim kemudian kembali muncul di hadapan publik.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa absennya Kim dari ruang publik dapat memicu spekulasi, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan adanya kondisi medis serius.

Kerahasiaan pemerintahan Korea Utara juga membuat informasi mengenai kesehatan pemimpinnya sulit diperiksa secara independen. Karena itu, klaim yang beredar di media sosial perlu dibedakan dari informasi yang telah dikonfirmasi melalui sumber resmi atau bukti independen.

Berat Badan dan Kebiasaan Merokok Kembali Disorot

Kondisi fisik Kim Jong Un turut menjadi bahan pembahasan di tengah rumor tersebut. Pada awal Oktober, laporan yang mengutip Badan Intelijen Nasional Korea Selatan menyebut pola makan Kim, termasuk konsumsi steak dan lobster, berkaitan dengan kondisi obesitas yang ekstrem.

Menurut laporan itu, Kim memiliki berat badan lebih dari 310 pon atau sekitar 140 kilogram, dengan tinggi sekitar 170 sentimeter. Kondisi tersebut dinilai meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Kebiasaan merokok beratnya juga kembali menjadi perhatian.

Meski demikian, informasi mengenai berat badan dan faktor risiko kesehatan tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa Kim mengalami pendarahan otak atau sedang koma. Diagnosis semacam itu membutuhkan bukti medis yang belum tersedia secara terbuka.

Kim Jong Un mengambil alih kekuasaan setelah ayahnya, Kim Jong Il, meninggal pada 2011. Kim Jong Il memimpin Korea Utara sejak 1994.

Selama pemerintahannya, Kim Jong Un dikenal mempertahankan kendali ketat atas negara dan elite politik. Pada 2013, pamannya, Jang Song Thaek, dieksekusi setelah dituduh melakukan sejumlah pelanggaran.

Hingga ada konfirmasi resmi atau bukti independen yang dapat diverifikasi, rumor bahwa Kim Jong Un berada dalam kondisi kritis tetap harus diperlakukan sebagai klaim yang belum terbukti. Perkembangan aktivitas publik Kim dan pernyataan resmi Pyongyang akan menjadi hal yang perlu diperhatikan untuk menilai kabar tersebut. (jpc)