Oleh: SD Darmono (Founder dan Chairman Jababeka Group, Pendiri President University)
RADARBEKASI.ID, BEKASI – Cikarang Bukan Hanya Kota Industri
Selama lebih dari 35 tahun mengembangkan Jababeka, saya menyaksikan perubahan luar biasa di Cikarang, Kabupaten Bekasi.
Dahulu wilayah ini dikenal sebagai daerah pertanian, perkampungan, persawahan, dan kehidupan masyarakat tradisional. Sekarang Cikarang telah tumbuh menjadi salah satu pusat industri terbesar di Asia Tenggara.
Di Kota Jababeka saja, dengan kawasan pengembangan seluas sekitar 5.600 hektare, telah hadir lebih dari 2.000 perusahaan nasional dan multinasional dari sekitar 30 negara.
Namun, saya sering bertanya kepada diri sendiri: apakah keberhasilan pembangunan sebuah kota cukup diukur dari banyaknya pabrik, gedung, jalan, dan investasi?
Menurut saya, belum.
Keberhasilan pembangunan yang sesungguhnya adalah ketika masyarakat asli daerah tersebut ikut maju, memperoleh pendidikan yang baik, hidup sehat, memiliki kesempatan bekerja, menjadi pengusaha, dan bahkan mampu mencapai kedudukan penting di tingkat nasional maupun internasional.
Karena itu, saya tertarik melihat bahwa dari Cikarang dan wilayah sekitarnya telah lahir sejumlah tokoh yang berhasil dalam berbagai bidang.
Mereka membuktikan bahwa anak-anak yang lahir dari kampung sederhana pun dapat berkembang menjadi pemimpin nasional, profesional kelas dunia, seniman terkenal, dan atlet berprestasi.
Putra-Putri Cikarang yang Menginspirasi
Salah satu tokoh yang menarik perhatian saya adalah Eep Saefulloh Fatah, yang lahir di Cibarusah pada 1967.
Dari lingkungan kampung di Kabupaten Bekasi, Eep melanjutkan pendidikan di Universitas Indonesia dan berkembang menjadi akademisi, pengamat, serta konsultan politik nasional.
Melalui PolMark Indonesia, namanya dikenal luas dalam dunia politik dan demokrasi. Salah satu peran pentingnya adalah menjadi konsultan politik pasangan Anies Baswedan–Sandiaga Uno pada Pilkada DKI Jakarta 2017.
Terlepas dari perbedaan pandangan politik, perjalanan Eep menunjukkan bahwa seseorang yang berasal dari daerah sederhana dapat berperan dalam proses politik tingkat nasional.
Di bidang industri, kita memiliki Imam Syuhada, putra asli Cikarang yang berhasil menempati posisi kepemimpinan di PT Mane Indonesia, perusahaan multinasional asal Prancis dalam industri perisa dan wewangian.
Imam merupakan lulusan Institut Pertanian Bogor dan telah membangun karier lebih dari dua dekade di perusahaan tersebut.
Kisahnya sangat relevan bagi Cikarang.
Kehadiran ribuan perusahaan asing seharusnya bukan hanya membuka lapangan pekerjaan sebagai operator atau buruh pabrik. Anak-anak Cikarang juga harus memiliki kesempatan menjadi insinyur, peneliti, direktur, bahkan pemimpin perusahaan multinasional.
Di bidang pemerintahan, kita mengenang almarhum Eka Supria Atmaja, yang lahir di Desa Waluya, Cikarang Utara.
Beliau memulai pengabdiannya dari kepala desa, kemudian menjadi Ketua DPRD, Wakil Bupati, dan akhirnya Bupati Bekasi.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan dapat tumbuh dari desa dan masyarakat lokal sendiri.
Di bidang seni dan hiburan, masyarakat Cikarang tentu mengenal Zaskia Gotik, yang berasal dari lingkungan Karangbahagia, wilayah yang memiliki hubungan sejarah dan sosial erat dengan Cikarang.
Dari panggung-panggung hiburan lokal, ia kemudian berhasil menjadi penyanyi dangdut yang dikenal secara nasional.
Ada pula Cemen, atau Chrismanto Eka Prastio, yang lahir di Brebes tetapi besar dan mengembangkan bakatnya di Cikarang. Melalui komunitas Stand Up Comedy Cikarang, ia akhirnya berhasil menjadi juara Stand Up Comedy Academy pada 2015.
Kisah keduanya memperlihatkan bahwa industri kreatif juga memberikan kesempatan bagi anak-anak daerah untuk mengembangkan bakat dan mencapai keberhasilan.
Di bidang olahraga, Dafa Al Gasemi, penjaga gawang muda asal Cikarang, berhasil memperkuat Tim Nasional Indonesia U-17 pada Piala Dunia U-17 tahun 2025.
Keberhasilannya menjadi inspirasi bagi anak-anak yang memiliki cita-cita menjadi atlet profesional.
Kita juga mengenal Muliaman D. Hadad, tokoh nasional kelahiran Bekasi yang pernah menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ketua Otoritas Jasa Keuangan, dan Duta Besar Indonesia untuk Swiss.
Walaupun asal-usul beliau secara khusus dari Cikarang masih perlu dipastikan, keberhasilannya merupakan contoh bahwa kawasan Bekasi telah melahirkan tokoh penting dalam bidang keuangan dan diplomasi internasional.
Nama-nama tersebut tentu belum lengkap.
Saya yakin masih banyak putra-putri Cikarang yang telah berhasil menjadi dokter, profesor, insinyur, pengusaha, ilmuwan, pejabat pemerintah, dan profesional internasional yang belum kita kenal secara luas.
Dari Pabrik Multinasional Harus Lahir Pemimpin Indonesia
Cikarang mempunyai keunggulan yang tidak dimiliki banyak kota lain di Indonesia.
Di sini terdapat ribuan perusahaan yang berasal dari Jepang, Korea, China, Amerika Serikat, Eropa, dan berbagai negara lain.
Bayangkan apabila setiap perusahaan multinasional tersebut secara terencana membantu mengembangkan talenta lokal.
Tidak cukup hanya memberikan pekerjaan.
Perusahaan-perusahaan tersebut dapat membantu melatih calon pemimpin, memberikan beasiswa, membuka kesempatan magang, mengembangkan keterampilan teknologi, dan membimbing calon pengusaha Indonesia.
Saya membayangkan suatu saat seorang anak petani dari kampung di Cikarang dapat menjadi direktur perusahaan Jepang, seorang anak nelayan dapat menjadi ahli Artificial Intelligence, dan seorang anak pekerja pabrik dapat menjadi ilmuwan atau dokter yang dikenal secara internasional.
Inilah arti pembangunan industri yang sesungguhnya: industri yang bukan hanya menghasilkan barang, tetapi juga menghasilkan manusia unggul.
Mengapa Kami Mendirikan President University
Pemikiran itulah yang mendorong saya bersama Prof. Juwono Sudarsono dan sejumlah tokoh pendidikan mendirikan Yayasan Pendidikan Universitas Presiden lebih dari dua dekade lalu, yang kemudian mengembangkan President University.
Yayasan ini merupakan lembaga pendidikan tersendiri, bukan anak perusahaan Jababeka.
Sejak awal kami menyadari bahwa Indonesia tidak akan cukup hanya mengandalkan tenaga kerja murah dan kekayaan sumber daya alam.
Kita harus membangun sumber daya manusia yang mampu bekerja, berkomunikasi, dan bersaing dengan tenaga profesional dari berbagai negara.
President University dikembangkan di tengah lingkungan ribuan perusahaan multinasional agar mahasiswa dapat memperoleh pengalaman industri melalui magang dan pembelajaran langsung.
Kini pengembangan pendidikan juga diperluas melalui Fakultas Kedokteran dan President University Research and Teaching Hospital.
Saya percaya bahwa masa depan Cikarang memerlukan tiga kekuatan utama: pendidikan, kesehatan, dan Artificial Intelligence (AI).
Pendidikan menciptakan manusia berpengetahuan dan berkarakter. Kesehatan memastikan masyarakat dapat hidup produktif. AI membuka kesempatan bagi generasi muda untuk menciptakan inovasi, meningkatkan produktivitas, dan membangun industri baru.
Ketiganya harus dapat memberikan manfaat kepada masyarakat sekitar, termasuk anak-anak dari keluarga yang kurang mampu.
Jangan Sampai Masyarakat Asli Menjadi Penonton
Ada satu hal yang perlu kita pikirkan bersama.
Ketika kawasan industri berkembang pesat, harga tanah meningkat, penduduk baru berdatangan, dan gaya hidup berubah, masyarakat asli sering kali menghadapi tekanan ekonomi dan sosial.
Sebagian berhasil memanfaatkan kesempatan. Namun, sebagian lainnya belum memperoleh manfaat yang sebanding dari pembangunan di sekitar tempat tinggal mereka.
Menurut saya, pembangunan kota tidak harus menghilangkan kampung-kampung tradisional.
Masyarakat yang ingin tetap tinggal di tanah leluhurnya perlu dihormati.
Kita justru harus membantu meningkatkan kualitas kehidupan mereka melalui sanitasi yang baik, pelayanan kesehatan, pendidikan, pelatihan keterampilan, serta kesempatan usaha.
Budaya dan kehidupan kampung juga merupakan kekayaan yang perlu dipelihara.
Cikarang dapat menjadi contoh bahwa sebuah kota industri modern mampu hidup berdampingan secara harmonis dengan masyarakat tradisional.
Modernisasi tidak harus berarti menghapus identitas daerah.
Mengusulkan Cikarang Hall of Fame
Saya ingin mengusulkan pembentukan Cikarang Hall of Fame — Putra-Putri Cikarang Berprestasi.
Program ini dapat dikembangkan bersama Pemerintah Kabupaten Bekasi, perusahaan-perusahaan di kawasan industri, President University, sekolah-sekolah, dan tokoh masyarakat.
Tujuannya bukan sekadar memberikan penghargaan atau memasang foto tokoh terkenal.
Yang lebih penting adalah mempertemukan para tokoh berhasil dengan generasi muda.
Bayangkan apabila Eep Saefulloh Fatah berbagi pengalaman mengenai pendidikan dan perjalanan kariernya dalam bidang politik.
Imam Syuhada berbicara mengenai bagaimana seorang putra Cikarang bisa menjadi pemimpin di perusahaan multinasional.
Zaskia Gotik dan Cemen menceritakan perjuangan mengembangkan bakat sampai dikenal masyarakat Indonesia.
Dafa Al Gasemi memberikan motivasi kepada anak-anak yang bercita-cita menjadi atlet nasional.
Kita juga dapat mengundang para profesor, dokter, ilmuwan, pengusaha, dan profesional asal Cikarang yang bekerja di Indonesia maupun luar negeri.
Program ini dapat dilengkapi dengan beasiswa, pendampingan karier, pelatihan kewirausahaan, serta kunjungan siswa ke perusahaan dan universitas.
Anak-anak sekolah dari kampung-kampung sekitar perlu melihat sendiri bahwa keberhasilan bukan sesuatu yang mustahil.
Mereka membutuhkan bukan hanya nasihat dan motivasi, tetapi juga teladan nyata dan kesempatan untuk maju.
Membangun Cikarang Baru: Kota Industri, Pendidikan, dan Kesehatan
Ke depan, saya mempunyai harapan lebih besar.
Cikarang tidak seharusnya berkembang sebagai kumpulan kawasan industri yang berdiri sendiri-sendiri.
Tujuh kawasan industri besar di Cikarang dan Cibitung dapat bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Bekasi untuk membangun satu ekosistem perkotaan yang lebih terintegrasi.
Saya membayangkan lahirnya Kota Cikarang Baru, kota hijau yang menjadi pusat industri, pendidikan, kesehatan, penelitian, dan inovasi.
Kota ini tidak cukup hanya mempunyai jalan yang bagus, utilitas yang baik, taman, rumah sakit, sekolah, dan pusat perbelanjaan.
Kota ini harus memberikan kesempatan yang nyata kepada setiap penduduknya untuk berkembang.
Anak-anak masyarakat asli Cikarang harus dapat menikmati kemajuan yang sama dengan anak-anak keluarga profesional maupun investor asing yang datang ke kawasan ini.
Kita memerlukan kota yang tidak hanya menarik bagi investor internasional, tetapi juga membanggakan bagi penduduk aslinya.
Dari Cikarang untuk Indonesia dan Dunia
Setelah lebih dari tiga dekade mengembangkan kawasan industri, saya semakin yakin bahwa kekayaan terbesar suatu kota bukanlah tanah, bangunan, atau pabrik.
Kekayaan terbesarnya adalah manusia.
Pabrik dapat dibangun dalam beberapa tahun. Jalan dan gedung dapat diselesaikan dengan modal dan teknologi.
Tetapi membangun manusia unggul membutuhkan pendidikan, kesehatan, karakter, kesempatan, dan ketekunan selama puluhan tahun.
Karena itu, saya berharap lebih banyak putra-putri Cikarang yang mengikuti jejak tokoh-tokoh yang telah berhasil.
Kita ingin melihat semakin banyak anak kampung Cikarang menjadi profesor, dokter, pemimpin perusahaan, inovator teknologi, pengusaha internasional, seniman, dan atlet dunia.
Dan yang lebih penting, setelah mereka berhasil, mereka bersedia kembali membantu masyarakat tempat mereka berasal.
Bagi saya, keberhasilan Jababeka bukan hanya ketika perusahaan-perusahaan dunia datang membangun pabrik di Cikarang, tetapi ketika dari kampung-kampung Cikarang lahir manusia-manusia berkualitas dunia.
Itulah pembangunan yang sesungguhnya.
Itulah Cikarang yang ingin kita wariskan kepada generasi mendatang.
Think Big, Start Small, Move Fast. (*)











