BEKACITIZENOpini

Saat Dunia Literasi menjadi Bagian Hidup

Sutedjo
Sutedjo

Daon bandotan empannya kancil
Batu bata nindi’in tape
Kebangetan tuh anak kecil
masih balita dah maen hape
/’ma nya ajah Sembilan bulan ngandut, cumen hape nyeng dia pegang. (Engkong Guntur Elmogas)

Berawal dari Jakarta

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Semasa kecil di Jakarta lebih banyak dihabiskan bersama teman-teman. Seperti ketika menjelang buka puasa di bulan Ramadhan, kami senang menyusun dan menggelar buku di teras rumah kami.

Meski kami bukanlah dari keluarga yang berkecukupan tetapi setidaknya kami memiliki kesamaan dalam hobi yaitu senang mengoleksi dan membaca buku.

Masing-masing kami membawa koleksi buku yang dimiliki untuk kemudian disusun di lantai dan teras rumah, bahkan kadang tempatnya berpindah-pindah, dari rumah satu ke rumah yang lain. Namun setelah buku tersusun rapi kami mengundang sahabat-sahabat kami yang lain untuk turut serta membaca hingga waktu berbuka puasa tiba.

Kegemaran akan membaca tak pernah pupus dari rutinitas kehidupanku sedari kecil, remaja dan hingga kini di usia 54 tahun, sebuah angka yang tak muda lagi tentunya, tapi aku masih memiliki semangat untuk terus berkiprah di dunia literasi. Sebab seiring waktu berbagai kegiatan literasi menjadi sebuah keharusan untuk dipelajari dan digeluti.

Masa remaja merupakan saat di mana aku dapat mengeksploitasi kemampuan dengan banyak membaca, aku mulaibdapat menciptakan tulisan pendek seperti puisi  yang setiap minggunya menghiasi majalah dinding sekolah, kegemaran tulis menulis membuatku mencoba mengirimkan cerpen di majalah Remaja Anita Cemerlang kala itu.

Namun keberuntungan belum berpihak, sebab hasil tulisanku tak satu pun menghuni lembaran majalah remaja tersebut, meski sudah 4 judul cerpen yang terkirim, salah satu judulnya yang masih kuingat “Senyum Ayuningtyas”.

Goncangan hidup juga makin mendera ketika tak bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi usai menuntaskan SLTA ke Sekolah Tinggi Publistik yang menjadi pilihanku, karena terbentur masalah biaya.

Meski terhempas,  diri ini harus tetap semangat menjalani kehidupan hingga diterima bekerja di sebuah restoran, menjadi koki atau sang juru masak.

Menjadi seorang Chef bukanlah sebuah pilihan tapi sebuah jalan melayani yang telah digariskan oleh Allah SWT.

Melalui rutinitas pekerjaan sebagai Japannese Chef hotel berbintang lima di Jakarta dan sebagai penggiat literasi atau pengelola Taman Baca Masyarakat (TBM) Tifa ketika tiba di rumah, membuatku merasakan hidup lebih berwarna dan bermakna, dua dimensi gaya hidup yang berbeda telah menjelma menjadi  bagian dari setiap hembus dan tarikan nafasku.

Bersahabat dengan Perkembangan Teknologi

Garasi merupakan pilihan yang tepat sampai saat ini untuk menyiasati akan kebutuhan sarana ruang menata buku dan baca bagi pengunjung Taman Baca Masyarakat Tifa, rasanya masih belum cukup dengan sarana yang ada untuk menjadi taman rekreasi edukasi bagi masyarakat di lingkungan ini.

Masih butuh terobosan dan pembaharuan guna meluluhkan kebiasaan warga dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi guna membuka serta menghantarkan kami terus berfikir agar TBM Rifa menjadi rujukan atau tujuan dalam mengisi kegiatan keseharian warga setempat.

Ketika upaya menunggu jadi begitu panjang maka kami pun mulai berupaya jemput bola di beberapa titik keramaian.

Dengan menggelar Taman Baca Keliling, tidak hanya buku tapi beberapa permainan tradisional, seperti ular tangga raksasa, engrang bambu, engrang batok, lompat tali, roda gembira, alat musik angklung, ketrampilan origami bahkan kegiatan mendongeng pun kami lakukan guna menarik minat baca di kalangan masyarakat karena kami berkenyakinan sulit sekali menumbuhkembangkan minat baca di masyarakat pada masa teknologi canggih abad ini, pendekatan secara emosional dan teritorial merupakan sebuah cara guna mendekatkan masyarakat pada dunia literasi.

Selain Taman Baca Keliling, kami juga sudah  membuat Sudut Baca di sebuah tempat pangkas rambut (barbershop) dan dua buah gerai Kolecer (Kotak Literasi Cerdas)  kami tempatkan di sebuah Pos RW/Posyandu dan sebuah Masjid.

Keberadaan Sudut Baca dan Kolecer memungkinkan untuk mendekatkan dunia literasi kepada masyarakat dan meminimalisir serta menyeimbangkan penggunaan alat telekomunikasi yang tidak dapat mereka lepaskan yang kerapkali lebih banyak menyita waktu.

Berawal dari kesedihan dan kegundahan hati saat melihat banyak anak pada masa libur sekolah tidak memanfaatkan waktunya dengan baik, TBM Tifa menggunakan kesempatan tersebut untuk bergiat Wisata Edukasi, mengajak mereka untuk lebih banyak mengenal tempat-tempat bersejarah, seperti Monas,

Musium Wayang, Pelabuhan Sunda Kelapa, Musium Layang-Layang dan Monumen Pancasila Sakti serta mengajarkan mereka cara membuat telur asin dan belajar bahasa Inggris praktis.

Kerja Bersama

Upaya membumikan dunia literasi di masyarakat, umumnya di Kabupaten Bekasi dan khususnya di Kecamatan Tambun Selatan yang merupakan kecamatan yang memiliki jumlah penduduk terpadat mencapai 2.554.376 jiwa dengan luas 1.224,88 Km persegi, diantara 23 kecamatan yang ada di Kabupaten Bekasi tentu tidak dapat dilakukan sendiri untuk itu kami berkolaborasi dan bermitra dengan beberapa Taman Baca Masyarakat yang ada di  beberapa desa di antara 10 desa di Tambun Selatan,

TBM Serat Bangsa, Fedus, Cahaya, Mentari, Violent, Sahabat Kita merupakan Taman Baca Masyarakat yang tergabung dalam Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) dan Gerakan Pemasyarakatan Gemar Membaca (GPMB) Kabupaten Bekasi menjadi mitra kerja kerja.

Atas kepercayaan teman-teman  pengurus FTBM, TBM Tifa dipercayakan menjadi Koordinator Wilayah (Korwil) Tambun Selatan yang memiliki tugas untuk mengkoordinir dan memonitor  perkembangan Taman Baca Masyarakat yang  teman penggiat literasi kelola yang berada di wilayah Tambun Selatan, serta mendistribusikan sumbangan buku yang kami terima seperti buku cerita anak buah karya Motoko Matsuda yang kami peroleh dari PT Sugity Creative.

Untuk lebih meningkatkan pengelolaan, pengembangan dan pembenahan manajemen Taman Baca Masyarakat, kami mengikuti berbagai seminar literasi yang diadakan oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Bekasi dan Perpusnas

Lomba Keteladanan Taman Bacaan Masyakat

Keberadaan Taman Bacaan Masyarakat Tifa dapat dirasakan manfaatnya oleh  warga termasuk Pemuda Karang Taruna yang berada di sekitar kami, dari anak–anak, remaja dan dewasa karena selain menyediakan bahan bacaan juga melibatkan mereka  di  berbagai kegiatan, diantaranya dalam memperingati hari besar nasional dalam rangka hari lahir Ibu Kartini ( 21 April )   mengadakan Lomba Peragaan Busana daerah, mewarnai gambar, pembacaan puisi dan foto lingkungan diperuntukkan  bagi anak dan remaja yang kami adakan pada Minggu, 22 April 2018 serta mengadakan Nonton Bareng (NoBar) Film Pendek Tema Pendidikan: Mana Janji, Ayah?, Bubar Jalan…! dan Indonesia Masih Subuh yang kami tayangkan dalam rangka Hari Anak Nasional (23 Juli) yang kami laksanakan pada Sabtu, 4 Agustus 2018.

Pada tahun 2018 pula menjadi tonggak sejarah bagi TMB Tifa  saat ditetapkan sebagai Juara II dalam Lomba  Keteladan Taman Bacaan Masyarakat Tingkat Kabupaten Tahun 2018 dari Dinas Pendidikan Pemerintah Kabupaten Bekasi.

Perjalanan ini tidak berhenti di sini, karena penghargaan tersebut bukanlah akhir dari segalanya masih banyak tugas kami untuk terus berproses  dalam menumbuhkembangkan minat baca (buku) di masyarakat serta menyelaraskan pula dengan program Gerakaan Literasi Nasional. (*)

Pegiat Taman Baca Masyarakat Tifa.   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

three × 3 =

Back to top button