Kisah Tati, Guru Honorer yang Harus ‘Mengubur’ Impiannya jadi PNS

Guru honorer, Tati Castiah
Guru honorer, Tati Castiah
Guru honorer, Tati Castiah
Guru honorer, Tati Castiah

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Tati Castiah harus ‘mengubur’ impiannya untuk menjadi guru berstatus PNS. Sebab, ia tak bisa lagi berjuang mengikuti seleksi calon abdi negara lantaran terbentur syarat usia.

Kepastian karier serta kehidupan yang terjamin menjadi motivasi Tati Castiah (40), guru honorer SDN Jatiasih IV Kota Bekasi untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). “Sebagai guru PNS itu hidupnya bisa sejahtera, kehidupan kedepannya sudah terjamin. Sudah enak lah pokoknya,” ungkap Tati kepada Radar Bekasi, Rabu (25/11).


Ketika ditemui, perempuan berhijab yang masih mengenakan seragam batik usai memperingati Hari Guru Nasional 2020 dan HUT ke-75 PGRI ini mengaku, sejak mulai mengajar SD sekitar 2010 dirinya langsung mendaftar Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Ia pun begitu semangat belajar agar bisa lolos seleksi.

“Pertama kali memutuskan untuk menjadi guru, saya langsung daftar CPNS. Semangat banget saya berharap bisa lolos, tiap abis ngajar langsung belajar untuk tes seleksi,” tuturnya,


Namun sayangnya, perjuangan pertama kalinya itu gagal. Nilai yang didapat tak mampu membawa ke tahap selanjutnya. Kendati merasa sedih, namun dirinya tetap semangat.

Dua tahun kemudian, Tati kembali mencobanya. Persiapan sejak jauh-jauh hari dilakukan agar bisa mendapatkan hasil maksimal dalam seleksi CPNS tersebut.

“Saya ikut lagi pada 2012. Kali itu saya belajar lebih keras karena kepengin bisa lolos. Soal-soal yang dulu saya pelajarin lagi dan berusaha untuk menerima materi-materi baru,” ceritanya.

Meski sudah mempersiapkan dengan begitu matang, kegagalan kembali menghampirinya. Serupa, karena nilai yang didapat tak mendukungnya untuk mengikuti tahap selanjutnya.

 “Ya Allah itu rasanya nyesek banget, karena harus gagal lagi. Waktu itu sedihnya dobel karena gak lolos untuk kedua kalinya, padahal saya sudah belajar dengan maksimal,” ungkapnya.

Setelah kegagalan kedua itu, Tati sempat tak ingin kembali mengikuti seleksi CPNS. Ia hanya akan menjalani profesi menjadi guru honorer dengan upah tak besar.

Pada 2018, dirinya memutuskan pengin kembali mengikuti seleksi CPNS. Namun tak bisa diikuti lantaran terbentur dengan syarat usianya yang ketika itu sudah 38 tahun.

Dalam Undang-Undang UU 5/2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN) ditetapkan batas usia maksimal yang bisa diangkat menjadi CPNS adalah 35 tahun.

“Sebenarnya keinginan menjadi seorang PNS selalu ada, makanya 2018 saya memutuskan untuk mendaftarkan diri kembali. Tapi sayang pada saat itu umur saya yang menjadi kendala,” katanya.

Ia mengaku sedih karena terhalang syarat usia mendaftar CPNS. Padahal semangatnya untuk bisa menjadi PNS masih sangat besar meski usianya terbilang tak lagi muda.

“Sedih ketika (syarat) umur sudah tidak memungkinkan, tetapi keinginan menjadi seorang PNS masih sangat menggebu-gebu,” ujarnya.

Untuk meningkatkan finansialnya, tahun ini dirinya akan mencoba mendaftar Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun 2020, PPPK akan mendapatkan gaji dan tunjangan yang sama dengan PNS. Dalam aturan berisikan pegawai kontrak, mendapatkan tunjangan keluarga, tunjangan pangan, tunjangan jabatan struktural, tunjangan jabatan fungsional atau tunjangan lainnya.

Harapan di Hari Guru Nasional

Pengalaman sepuluh tahun menjadi guru mengajarkan Tati banyak hal. Dapat berbagi ilmu dengan anak didik, membuatnya sedikit melupakan keinginannya menjadi guru PNS.

“Hari guru kali ini sangat menyentuh hati saya, mengingat bahwa sudah banyak anak yang kita ajarkan dan bekali ilmu. Saat ini sudah banyak yang memiliki profesi di bidangnya masing-masing,” ungkapnya dengan wajah sendu.

Baginya, peringatan Hari Guru Nasional merupakan momen terindah dalam dirinya menjadi tenaga pendidik. Ia punya banyak harapan di peringatan tersebut.

“Harapan saya banyak, tapi saya khususkan semua itu untuk anak-anak murid saya. Saya bangga memiliki mereka dan bisa memberikan bekal kepada mereka. Karena nantinya mereka yang akan membangun bangsa ini,” tutupnya. (dew)