Berita Bekasi Nomor Satu

Kisah Tim SAR Evakuasi Korban Kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur: Mereka Berhak Hidup

EVAKUASI: Petugas SAR mengevakuasi korban dari dalam gerbong kereta yang ringsek pascakecelakaan di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, Selasa (27/4). Istimewa

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Tragedi kecelakaan kereta di Bekasi Timur menyisakan duka mendalam. Namun di balik itu, ada perjuangan panjang tim penyelamat yang bertaruh tenaga, waktu, dan emosi demi menyelamatkan nyawa yang masih tersisa. Seperti apa kisahnya?

Malam di Stasiun Bekasi Timur, Selasa (27/4/2026), berubah menjadi kepanikan. Benturan keras disusul teriakan minta tolong memecah suasana. Dalam hitungan menit, laporan darurat masuk ke pos siaga SAR Bekasi.

Tim Search and Rescue (SAR) bergerak cepat. Salah satu anggota Kantor SAR Jakarta, Ryan Christian, masih mengingat jelas bagaimana detik-detik awal itu. Tanpa menunggu lama, peralatan disiapkan dan tim langsung menuju lokasi.

BACA JUGA: Tren Kecelakaan Kereta 10 Tahun Terakhir, Kasus Bekasi Timur, KNKT: Masih Diselidiki

“Kami terima laporan itu kecelakaan kereta, saat genting itu kami segera merespons, mempersiapkan peralatan untuk bergerak ke lokasi,” ujarnya.

Setibanya di lokasi, situasi jauh dari kata mudah. Gerbong kereta dalam kondisi ringsek parah. Penumpang terjebak di antara besi yang terlipat. Suara tangis, jeritan, dan rintihan bercampur menjadi satu.

Fokus tim tertuju pada gerbong wanita titik dengan jumlah korban terbanyak.

Di dalamnya, udara terasa sesak. Ruang sempit membuat pergerakan terbatas. Sejumlah korban masih bisa diajak bicara, sementara lainnya tak lagi merespons.

“Kondisinya banyak korban, ada beberapa yang masih bisa diajak komunikasi. Itu yang kami upayakan segera dikeluarkan,” kata Ryan.

BACA JUGA: Korban Tewas Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur Bertambah Jadi 14 Orang

Evakuasi dilakukan perlahan. Petugas membuka bagian demi bagian badan gerbong yang hancur. Di luar, kerumunan warga terus berdatangan, membuat proses penanganan semakin menantang.

Namun ujian terbesar justru ada di dalam gerbong.Korban saling terhimpit. Sebagian yang selamat terjebak di antara tubuh penumpang lain yang telah meninggal dunia. Situasi itu memaksa tim SAR mengambil keputusan sulit.

“Kami keluarkan dulu yang meninggal dunia, baru yang masih bisa diselamatkan,” ujarnya.

Waktu berjalan tanpa terasa. Proses evakuasi berlangsung hingga sekitar 12 jam. Rasa lelah, haus, dan tekanan mental tak terhindarkan. Namun bagi tim SAR, ada satu hal yang terus dipegang. Harapan.

“Secara pribadi, kami berpikir mereka ini berhak untuk bertahan hidup. Tugas kami adalah mengupayakan itu,” ucap Ryan.

Di balik tugas kemanusiaan, ia mengakui peristiwa itu meninggalkan luka batin. Apa yang dilihat dan dirasakan di lokasi bukan hal yang mudah dilupakan.

“Kami juga merasakan sedih. Tapi itu tidak seberapa dibandingkan dengan duka keluarga korban,” katanya lirih.

Tragedi tersebut menelan 16 korban jiwa, seluruhnya perempuan, serta puluhan lainnya mengalami luka-luka. Angka itu menjadi pengingat betapa besar kehilangan yang ditinggalkan.

Kini, evakuasi telah usai. Namun bagi tim SAR, malam panjang itu masih membekas tentang jeritan yang tak hilang, keputusan yang tak mudah, dan keyakinan bahwa setiap nyawa, sekecil apa pun peluangnya, tetap layak diperjuangkan. (rez)