Polsek Bekasi Kota Digugat Rp1,1 Miliar

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Kepolisian Sektor (Polsek) Bekasi Kota digugat secara perdata oleh kuasa hukum tersangka penadah kendaraan hasil curian berinisial SR dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bogor. Kuasa hukum pemohon menilai, penangkapan dan penahanan yang dilakukan tidak sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP). Sementara kepolisian meyakini penyelidikan hingga penangkapan tersangka sudah dilakukan secara profesional, tidak ada salah tangkap.

Kuasa hukum tersangka SR, Irawansyah menyampaikan alasan permohonan pra peradilan diajukan kepada Pengadilan Negeri (PN) Bekasi karena pemohon tidak pernah diperiksa sebagai calon tersangka, dan tidak pernah dilakukan proses penyelidikan terhadap pemohon. Menurutnya, SR tidak pernah menerima surat panggilan pertama dan kedua serta diperiksa. Namun, S tiba-tiba ditangkap pukul 01:00 WIB pada tanggal 6 Maret silam di sekitar tempat tinggalnya, karena diduga keras melakukan tindak pidana pertolongan jahat atau tadah sesuai pasal 480 ayat 1 KUHP.


Alasan berikutnya, proses penangkapan dan penahanan dinilai merupakan tindakan kesewenang-wenangan dan bertentangan dengan asas kepastian hukum. Sebelum dilakukan penangkapan S, Irawansyah menyebut tidak ada pemberitahuan sebelumnya kepada RT dan RW setempat, sehingga membuat kakak korban cemas dan bingung.

Setelah ditangkap, SR dibawa ke kantor Polsek Bekasi Kota untuk dilakukan proses pengambilan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) tanpa Pendampingan dari kuasa hukum. Penahanan SR resmi dilakukan keesokan harinya pada tanggal 7 Maret 2022 berdasarkan surat penahanan.


“Jadi keberatan kami yaitu penetapan tersangkanya dan surat penangkapannya, karena disitu disebutkan untuk kepentingan penyidikan. Ini kan belum pernah ketemu, belum pernah diperiksa, kalau sudah penyidikan berartikan sudah tersangka, kecuali kalau penyelidikan ya,” paparnya, Rabu (20/4).

Pemohon disebut bukan pelaku tindak pidana yang dimaksud, hal ini didasari keterangan kliennya bahwa ia merupakan korban dari pertemanan. Sebelum dilakukan penangkapan, SR menerima telepon dari temannya yang juga dalam kasus ini telah ditetapkan sebagai tersangka, karena temannya mengetahui SR memiliki teman dekat wanita di wilayah Kabupaten Bogor.

Dalam percakapan via telepon tersebut, rekan SR bertanya terkait rencana kedatangan SR hari itu ke rumah kekasihnya. Tidak lama berselang, temannya datang dengan membawa sepeda motor lalu bergerak ke wilayah Bogor, sesampainya di Bogor SR dan temannya berpisah sebelum akhirnya SR kembali di telpon untuk ikut pulang ke Bekasi berboncengan sepeda motor.

Diperjalanan, rekan SR membelikan bahan bakar Rp50 ribu. Setibanya di Bekasi kembali S diberi uang Rp100 ribu tanpa informasi apapun mengenai maksud pemberian uang tersebut. Polsek Bekasi Kota dalam menetapkan tersangka kepada SR juga dinilai tanpa alat bukti yang kuat.

Atas peristiwa ini, Irawansyah menyebut kliennya mengalami kerugian materiil dan immateriil. Kerugian materiil yang dialami berupa kendaraan roda dua pemohon yang saat ini disita oleh pihak kepolisian, pengeluaran operasional selama penahanan SR, dan biaya yang dikeluarkan oleh keluarga SR untuk memperoleh jasa konsultasi dan bantuan hukum, semua ditaksir Rp110 juta.

Sedangkan kerugian immateriil ditaksir Rp1 miliar lantaran kliennya yang berstatus mahasiswa tersebut merasa resah, susah, tertinggal dalam proses perkuliahan, hingga keterhinaan akibat tindakan intimidasi, kekerasan fisik, dan tidak adanya kepastian hukum.

“Dalam gugatannya kita meminta Polsek Bekasi Kota untuk membayar kerugian immateriil sebesar Rp1 miliar rupiah,” tambahnya.

Persidangan di PN Bekasi kemarin ditunda lantaran pihak termohon dalam hal ini Polsek Bekasi Kota tidak hadir. Persidangan dilanjutkan kembali pekan depan.”Intinya sidang hari ini ditunda sampai 27 April 2022 karena pihak Polsek Bekasi Kota tidak hadir, meskipun sudah dipanggil secara patut oleh pihak pengadilan,” tukasnya.

Sebelumnya, pada Jumat (8/4) silam Polsek Bekasi Kota menggelar perkara kasus pencurian kendaraan roda dua di wilayah hukum Polsek Bekasi Kota. Kepolisian menetapkan total tujuh orang tersangka komplotan pencuri kendaraan roda dua, yakni FS (28), DR (22), dan MF (27) sebagai tersangka pencurian.

Sementara empat orang lainnya, yakni BY (25), RV (22), ME (26), dan SR (22) sebagai penadah. Hasil penyelidikan pihak kepolisian menyebut dalam aksinya sejak awal tahun, mereka berhasil menggasak 20 unit kendaraan roda dua dari beberapa tempat berbeda.

Kapolsek Bekasi kota, Kompol Salahuddin membenarkan pemohon adalah salah satu tersangka dalam kasus pencurian yang diungkap oleh Polsek Bekasi Kota saat itu. Saat ini proses penyidikan sudah selesai dilakukan oleh pihak kepolisian dan berkas sudah diserahkan kepada Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Bekasi.

“Untuk kasus SR penyidikannya sudah selesai, dan sudah P21. Besok perkaranya Insyaallah sudah mau disidangkan,” ungkapnya.

Dalam kasus ini, masih-masing tersangka disangkakan pasal 363 ayat 1 KUHP tentang pencurian dan pasal 480 ayat 1 KUHP tentang tindak pidana pertolongan jahat. Salahuddin menegaskan, pihaknya telah bekerja sesuai dengan SOP dalam melakukan penangkapan dan penetapan tersangka.

Pihak kepolisian menghormati hak tersangka bersama dengan kuasa hukum untuk mengajukan pra peradilan di PN Bekasi. Salahuddin juga menegaskan tidak ada peristiwa salah tangkap dalam kasus ini. Saat proses pengambilan BAP, S disebut belum siap dan telah membuat surat pernyataan bahwa ia tidak memiliki pengacara atau kuasa hukum.

“Kita sudah melakukan sesuai prosedur, apalagi sekarang sudah P21, bahkan mau disidangkan. Jadi itu kita profesional banget” tambahnya.

Lebih lanjut, penangkapan SR adalah hasil pengembangan pihak kepolisian setelah mengamankan tersangka utama kasus pencurian kendaraan roda dua. Hasil pengembangan pihak kepolisian menyeret SR sebagai salah satu penadah, diakui oleh rekannya yang juga ikut diamankan saat itu.

Ia menyebut penangkapan terduga pelaku harus segera dilakukan untuk menghindari kegagalan dalam pengungkapan kasus. Petugas telah dilengkapi dengan surat perintah tugas, surat penangkapan, hingga penyitaan barang bukti.

Keterangan empat pelaku yang berstatus sebagai penadah oleh Salahuddin disebut saling berkaitan, menjadi alat bukti kuat bahwa SR terlibat sebagai penadah barang curian. Keempat tersangka terancam hukuman 4 tahun penjara.”Keterangan dia ini didukung oleh oleh pelaku utama dan teman-temannya yang lain. Penadahnya ada empat, jadi dari keempat-empatnya itu saling mengait,” tukasnya. (Sur)