Miris, Pelayanan Baznas Tak Manusiawi

PAY/RADAR BEKASI.ID NGEMPER: Sejumlah Penerima manfaat dana zakat harus duduk dilantai saat antri di kantor Baznas Kota Bekasi, kemarin.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pelayanan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Bekasi dikeluhkan para penerima manfaat dana Baznas. Mereka mengeluhkan pelayanan di kantor tersebut tidak memperhatikan unsur kemanusiaan dan kondisi kantor yang kurang representatif.

Ragil (39), salah satu warga yang sedang mengurus bantuan, mengungkapkan, prihatin dengan layanan yang dilakukan petugas Baznas. Lantaran warga yang sedang mengurus kebutuhannya dibiarkan begitu saja tanpa pelayanan yang manusiawi.


“Saya menunggu duduk di lantai sudah 20 menit lebih setelah penyerahan berkas ke petugas jaga di Baznas. Tapi tak kunjung mendapatkan pelayanan,” keluh Ragil kepada awak media, Kamis (28/4).

Menurut dia, banyak warga yang sekarang membutuhkan bantuan Baznas berharap dapat dilayani secara manusiawi. Nyatanya, harapan itu tidak tercermin dalam pelayanannya. Warga dibiarkan begitu saja menunggu tanpa tempat duduk. Dan akhirnya terpaksa duduk di lantai.


“Ya di sini nggak ada kursi. Di bawah ya pada duduk di lantai. Capek habis nya sudah dua puluh menit lebih berdiri. Bahkan ada yang duduk di meja. Karena nggak ada kursi,” keluhnya lagi.

Hal senada disampaikan Watin (45) saat sedang mengurus proposal kegiatan keagamaan di Baznas Kota Bekasi. Dirinya justru heran kepada para pengurusan yang sudah lama, tapi tidak bisa mensosialisasikan sekolah Baznas hanya milik sekelompok orang saja.

“Ya jangan ada kesan mereka (masyarakat) seperti pengemis. Padahal ada hak – hak mereka di dana zakat yang dikumpulkan Baznas Kota Bekasi itu,” ungkapnya.

Informasinya, pemasukan dana zakat, infaq, sedekah dan lainnya yang masuk ke Baznas Kota Bekasi mencapai puluhan miliar rupiah per tahun. Termasuk di dalamnya ada zakat, infak dan sedekah yang dikumpulkan dari para birokrat/PNS Pemkot Bekasi.

Hingga kini, lembaga vertikal itu masih menumpang kantor di Islamic Center Bekasi. Berbagi ruang dengan di komplek Muzdalifah.

Terpisah, Ketua Baznas Kota Bekasi Ismail Hasyim menepis tudingan kantor yang dipimpinnya memberi pelayanan tidak manusiawi kepada warga yang mengurus kebutuhannya di Baznas.

“Di atas banyak tempat duduknya. Sudah disiapkan kursinya. Sebenarnya sudah dibagi antrean, siang hari cuma orang terlalu cepat jadi antre,” kata Ismail kepada RADARBEKASI.ID (Radar Bekasi Group), Kamis (28/4).

Menurutnya, antrean terjadi karena warga dari empat kecamatan langsung datang di waktu bersamaan untuk meminta tanda tangan guru ngaji agar bisa dicairkan.

“Itu langsung orang bank-nya. Kita juga sudah lakukan sosialisasi untuk membagi waktunya. Tapi tetap aja antre karena belum waktunya. Karena hari ini adalah hari terakhir,” terangnya.

Terkait, gedung kantor Baznas yang kurang representatif, Ismail mengakui untuk mengatasi masalah itu pihaknya sudah melayangkan pengajuan untuk gedung Baznas Kota Bekasi.

“Ya mudah-mudahan tahun ini ajuan kita direalisasikan. Mau ditaruh dimana, kita nggak apa-apa asalkan gedungnya layak,” tegasnya.

Terpisah, Ketua Komisi IV DPRD Kota Bekasi, Daradjat kardono mengaku kecewa dan miris melihat kondisi tersebut. Apalagi yang antre dan duduk di lantai mayoritas merupakan guru ngaji.

Menurutnya, tidak semestinya memperlakukan guru ngaji seperti itu. Seharusnya pihak Baznas Kota Bekasi lebih menyiapkan fasilitas tempat duduk jika mengundang guru ngaji 4 Kecamatan secara langsung.

“Ya saya sih miris ngeliatnya. Karena itu guru ngaji yang pada duduk di lantai, tidak manusiawi. seharusnya mereka (Baznas) menyiapkan tempat duduk yang layak jangan sampai guru ngaji antre duduk di lantai,” katanya.

Dia menegaskan, kondisi ini harus menjadi perhatian pihak Baznas. “Kepada Baznas kalau ngundang orang banyak fasilitasnya disiapkan benar-benar jangan sampai memperlakukan guru ngaji seperti itu. Saya harap baznas harus memperbaiki jika mengundang orang banyak. Apalagi itu guru ngaji,” tegasnya. (pay)