Akademisi dan Pelacur Intelektual

Assoc.Prof. T. Syahrul Reza (Dosen Senior Institut Ilmu Sosial dan Manajemen  "STIAMI"( Institut Stiami) Jakarta,  Founder-CEO ASEAN Lecturer Community (ALC)-  www.aseanlecturer.com.  )

 

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Belum lama ini channel unpacking Indonesia yang di komandani oleh politisi Zulpan Lindan melakukan diskusi dengan budayawan (juga tokoh Intelektual yang dikenali melalui karya-karya film  berkelas, Eros Djarot. Diskusi mereka sungguh bernash – bermakna sangat mendalam bila di dengar dan disimak dengan seksama


Diawal perbincangan keduanya mulai meneropong fenomena kehidupan berbangsa dan bernegara di Republik tercinta ini, sampai akhirnya mengerucut pada Oligarki kekuasaan politik, ekonomi hingga bukan terlontar – tapi dengan perekanan khusus bung Eros Djarot menyatakan bahwa berlangsungnya pembicaraan ketidak beradaban dalam membangun bangsa melalui kendaraan demokrasi yang “dibelenggu” oleh partai politik diantaranya karena para Professor (saya memakai kaum akademisi) tidak melakukan koreksi dan pencegahan malah ikut larut dalam dan menikmati  “ Pelacur Intelektual “ berkedok demokrasi namun sesunguhnya memperkuat Oligarki.

Pelacur Intelektual


Pernyataan-permyataan bung Eros Jarot yang menghentak tersebut tidak dapat kita elakkan tentu didasari kedongkolan para perilaku, para “elite menara gading” kampus yang ikut-ikutan “ menggadaikan “ marwah intelektualitas untuk mendapat “bagian” atau “serpihan”hedonisme kekuasaan.

Fenomena di atas tidak terlepas dari ramainya praktek pemberian Doktor Honoris Causal bahkan Prefessor (sesuatu yang janggal karena seharusnya jabatan akademik Professor di raih dari Kinerja Ilmiah, Penelitian Publikasi bertaraf International), bukan pemberian yang berbasis Syahwat Politis.

Belakangan ini makin banyak politisi yang memanfaatkan kedudukan dan pengaruh politik untuk melanjutkan pendidikan kejenjang Doctoral, tentu saja sejumlah fasilitas yang terkait dengan jabatan ikut di manfaatkan untuk meraih hasrat yang telah direncanakan dengan seksama.

Akan dibawa kemana Marwah Perguruan Tinggi dan keluhuran ilmu apabila kemudian justeru jadi “barang dagangan” para “penyamun” berjubah dan bertoga ?

Gerakan Kesadaran Peradaban

Dalam diskusi tersebut di atas bung Eros Djarot mengajak para intelektual, cendekiawan akademis, para Professor agar berdiri di garis depan sebagai Mercusuar, penerang arah pembangunan peradaban agar negara di bangun tegak lurus sesuai  panduan konstitusi bukan sesuai kehendak oligarki.

Himbauan, ajakan dan “sentilan” bung Eros Djarot tidaklah terlalu berlebihan, bahkan dapat kita katakan ibarat cahaya di tengah gegap gempita dan hiruk pikuk perebutan kekuasaan dan hegemoni partai-partai politik.

Sebagai ilmuwan, akademisi dan cendekiawan sewajarnyalah ajakan bung Eros Djarot di atas mendapat respon positif dan kita jadikan pemantik Intelektualitas agar Lembaga Kampus tidak terkooptasi oleh kepentingan pendek dan sempit  para “badut” politik yang mengesampingkan etika dan moralitas. (*)