Tahun Baru Hijriah Sebagai Momentum Muhasabah dan Transformasi Diri

Dr. H. Muhammad Soleh Hapudin, M.Si (Penulis FORSILADI Provinsi Banten, Dosen Univ. Esa Unggul Jakarta, Dewan Pakar ICMI Orda Kota Tangerang)

 

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Berakhirnya bulan Dzulhijjah dan datangnya bulan Muharram menjadi penanda tutup tahun bagi umat muslim di seluruh dunia. Tahun baru hijriyah kali ini jatuh pada hari Sabtu, 1 Muharram 1444 H, bertepatan dengan 30 Juli 2022. Bulan Muharram bagi umat Islam dipahami sebagai bulan Hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.. Peristiwa tersebut merupakan momen yang sangat bersejarah bagi umat Muslim karena semenjak itu agama Islam berkembang pesat di sebagian besar daerah Jazirah Arab. Muharram yang diperingati sebagai tahun baru Islam merupakan salah satu dari beberapa bulan mulia (asyhuru hurum) yang dipilih sebagai awal permulaan kalender Islam. “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah adalah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya ada empat bulan haram…” (Qs. At-Taubah : 36)
Tahun Baru Islam merupakan suatu hari yang penting bagi umat Islam karena menandai peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah Islam yaitu memperingati penghijrahan Nabi Muhammad saw. dari Kota Mekkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi. Peristiwa bersejarah itu terjadi pada 1 Muharram tahun baru bagi kalender Hijriyah. Namun Tahun Hijrah Rasulullah SAW dari Mekah ke Madinah itu diambil sebagai awal perhitungan bagi kalender Hijriyah.
Menurut Raghib Al-Isfahani (w 502 H/1108 M), pakar leksikografi Alquran, berpendapat istilah hijrah mengacu pada tiga pengertian. Pertama, meninggalkan negeri yang penduduknya sangat tidak bersahabat menuju negeri yang aman dan damai. Kedua, meninggalkan syahwat, akhlak buruk dan dosa-dosa menuju kebaikan dan kemaslahatan (QS al-Ankabut, 29:26). Ketiga, meninggalkan semua bentuk kemaksiatan, narsisme, dan hedonisme menuju kesadaran kemanusiaan dengan cara mujahadah an nafs (mengontrol hawa nafsu). Sungguh tepat hadis Nabi, “Orang yang berhijrah ialah orang yang meninggalkan segala yang dibenci Allah.” (Riwayat Bukhari)
Pergantian tahun khususnya tahun baru Hijriyah sebaiknya dijadikan sebagai momentum bersama untuk mengintrospeksi (bermuhasabah) diri melakukan transformasi ke arah kondisi yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Perpindahan tersebut antaranya, dari kebatilan menuju kebenaran, kebodohan kepada ilmu pengetahuan, dari sifat malas ke pekerja keras, dan kemiskinan kepada berkecukupan.
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS Al Hasyr;59:18)


Dalam Alquran surat Ar-Ra’du [13] ayat 11 telah ditegaskan, ‘’Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum tanpa dia sendiri mengubah nasibnya.’‘ Ayat ini memberi otoritas kepada segenap manusia untuk berusaha sekuat tenaga dan pikiran, mengerahkan segala potensinya demi kehidupan yang lebih baik. Bukan semata-mata berharap dan hanya bergantung terhadap ‘kekuatan lain’ dalam menjalani hidup.
Memang kita bisa merasakan bedanya peristiwa penyambutan tahun baru Masehi dan tahun baru Islam (Hijriah). Tahun baru Islam disambut biasa-biasa saja, jauh dari suasana meriah, tidak seperti tahun baru Masehi yang disambut meriah termasuk oleh masyarakat muslim sendiri. Sebagai titik awal perkembangan Islam, seharusnya umat Islam menyambut tahun baru Islam ini dengan semarak, penuh kesadaran sambil introspeksi, merenungkan apa yang telah dilakukan dalam kurun waktu setahun yang telah berlalu.
Bagi kita umat Islam di Indonesia, sudah tidak relevan lagi berhijrah berbondong-bondong seperti hijrahnya rasul, mengingat kita sudah bertempat tinggal di negeri yang aman, di negeri yang dijamin kebebasannya untuk beragama, namun kita wajib untuk hijrah dalam makna “hijratun nafsiah” dan “hijratul amaliyah” yaitu perpindahan secara spiritual dan intelektual, perpindahan dari kekufuran kepada keimanan dengan meningkatkan semangat dan kesungguhan dalam beribadah. Dalam menyambut dan memperingati tahun baru Islam, umat Muslim diharapkan memaknainya dengan membuka lembaran baru serta mensyukuri segala nikmat yang telah Allah berikan.
Makna tahun baru Islam memiliki makna bahwa terjadinya perubahan pada sesuatu yang menuju kebaikan, memiliki manfaat untuk seluruh manusia dan untuk semua alam semesta dengan menggunakan semangat damai penuh kasih sayang.Hal ini membuat tujuan Allah SWT menurunkan Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah : 218)
Dalam menyambut tahun baru Islam, kita bisa merenungkan perbuatan kita di tahun-tahun sebelumnya dan merencanakan tujuan di tahun yang baru ini dengan resolusi-resolusi yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Seluruh umat Muslim untuk terus meningkatkan amal sholeh meski di tengah pandemic COVID 19 seperti saat ini. Bersabar dan terus bermuhasabah adalah cara yang paling tepat untuk mengawali datangnya tahun yang baru. Mari kita rayakan tahun baru Islam dengan memperbanyak dzikir, doa, dan munajat, bahkan berpuasa. Semoga Covid-19 dengan beraneka variannya cepat berlalu dan negeri yang kita cintai ini dapat segera pulih dan bangkit.
Semoga mengawali tahun 1444 H nanti, kita dapat merancang hari-hari kita ke depan lebih baik lagi. Tak pernah khawatir mengorbankan apa yang kita miliki untuk kepentingan orang banyak, membela agama dan meledani generasi awal dalam perjuangan mereka bersama Rosulullah SAW, bersama orang-orang sholeh dalam menjalankan syari’at dengan penuh ketaatan. Aamiin ya rabbal ‘alamin. (*)