RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pemerintah Kota Bekasi menyoroti pentingnya penguatan edukasi keluarga dan literasi masyarakat menyusul merebaknya fenomena lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) di Kota Bekasi.
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, mengatakan data yang menyebut sekitar 6.000 LGBT tersebar di wilayah Kota Bekasi.sebenarnya telah dirilis sejak beberapa waktu lalu.
Menurutnya, langkah yang perlu dilakukan saat ini bukan sekadar membahas angka, melainkan memperkuat upaya pembinaan melalui pendidikan dan lingkungan sosial.
“Yang paling utama adalah bagaimana kita terus melakukan literasi dan edukasi kepada warga masyarakat agar bisa memperbaiki diri. Saya kira faktor lingkungan menjadi faktor yang paling dominan,” kata Tri, Selasa (16/6).
Tri menegaskan penanganan persoalan sosial tidak bisa dilakukan pemerintah sendiri. Dibutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari unsur pemerintah, DPRD, tokoh masyarakat hingga tokoh agama.
Menurut dia, sejumlah organisasi dan lembaga seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP), Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga), pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), serta pekerja sosial masyarakat akan terus dilibatkan dalam memberikan edukasi dan pendampingan kepada warga.
“Yang paling utama sebetulnya adalah bagaimana kita membangun keluarga-keluarga yang sehat,” ujarnya.
Selain itu, Pemkot Bekasi juga masih mengkaji informasi mengenai adanya komunitas yang berencana masuk ke lingkungan pendidikan untuk memberikan pemahaman terkait kesetaraan kepada siswa.
Tri mengatakan pemerintah akan melihat lebih jauh bentuk kegiatan dan materi yang akan disampaikan sebelum mengambil keputusan.
“Saya kira hal itu masih kami kaji. Nanti akan kami lihat sejauh mana proses dan bentuk kegiatannya,” ucapnya.
Terkait koordinasi dengan MUI mengenai isu tersebut, Tri mengaku belum menerima informasi secara khusus. Namun, Pemkot Bekasi bersama MUI, Puspaga, dan Forum Komunikasi Pondok Pesantren terus menjalankan sosialisasi mengenai pola hidup yang baik kepada masyarakat.
“Yang saat ini kami lakukan bersama MUI, Puspaga, Forum Komunikasi Pondok Pesantren, dan berbagai komponen lainnya adalah melakukan sosialisasi mengenai pola hidup yang baik,” pungkasnya. (rez)









