Berita Bekasi Nomor Satu

Pencari Kerja Berebut 3.500 Lowongan di Job Fair Kota Bekasi

PENUH: Ribuan pencaker memenuhi sejumlah stan di Job Fair Kota Bekasi. FOTO: SURYA BAGUS/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – – Sebanyak 3.500 lowongan kerja (loker) dari 50 perusahaan sektor manufaktur hingga ritel dibuka dalam Job Fair Kota Bekasi. Tingginya antusiasme masyarakat terlihat dari sekitar 7.000 pencari kerja (pencaker) yang telah mendaftar pada hari pertama. Jumlah tersebut diperkirakan masih akan bertambah hingga kegiatan berakhir hari ini, Rabu (8/7).

Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Bekasi, Dzikron, mengatakan Job Fair yang berlangsung selama dua hari itu menyediakan 3.500 lowongan, termasuk 300 lowongan khusus bagi penyandang disabilitas

“Kemarin itu sudah ada sekitar 7.000 yang mendaftar, tentunya hari ini sama besok kita tunggu,” katanya dalam Job  Fair di Mega Bekasi Hypermall, Selasa (7/7).

Menurut Dzikron, penyediaan lowongan bagi penyandang disabilitas merupakan tindak lanjut amanat undang-undang yang mewajibkan perusahaan mempekerjakan penyandang disabilitas paling sedikit satu persen dari total tenaga kerja.

Selain membuka akses pekerjaan, Disnaker juga akan menyiapkan pelatihan keterampilan bagi penyandang disabilitas agar lebih siap memasuki dunia kerja.

“Karena tuntutan undang-undang itu kan perusahaan harusnya satu persen, jadi kedepannya juga kita akan fasilitasi mulai dari pelatihannya,” ucapnya.

Disnaker juga akan berkoordinasi dengan Disnakertrans Provinsi Jawa Barat untuk menyisir kepatuhan perusahaan dalam memenuhi ketentuan tersebut.

Tingginya jumlah pencaker juga mendorong rencana penambahan frekuensi penyelenggaraan Job Fair. Dzikron mengatakan pihaknya telah berdiskusi dengan Ketua Komisi IV DPRD Kota Bekasi untuk kembali menggelar bursa kerja pada akhir tahun, bertepatan dengan mulai aktifnya lulusan baru mencari pekerjaan.

“Karena saat ini kelulusan anak-anak SMA/SMK, nanti lima bulan biasanya istirahat dulu, setelah itu mencari kerja. Semoga waktunya tidak terlalu mepet kalau diselenggarakan di November atau Desember,” tambahnya.

Meski angka pengangguran mengalami penurunan, namun angka 7,33 persen mesti tetap menjadi perhatian Pemkot Bekasi.

“Menurun bukan berarti hilang kan ?, jadi saya setuju bahwa memang harus lebih sering ada kegiatan ini. Bahkan kalau bisa satu tahun dua kali,” kata Ketua Komisi IV DPRD Kota Bekasi, Adelia.

Berdasarkan pantauannya, pencaker yang datang berasal dari berbagai kelompok usia. Menurutnya, lulusan baru diperkirakan akan lebih banyak mengikuti Job Fair pada akhir tahun.

Selain menambah intensitas penyelenggaraan Job Fair, Adelia juga mendorong agar kuota lowongan bagi penyandang disabilitas terus ditingkatkan.

“Berharap ke depannya lebih banyak lagi kalau memang mau buat Bekasi Keren sesuai namanya, bukan hanya keren untuk satu kaum saja tapi untuk semua,” ungkapnya.

Sulitnya memperoleh pekerjaan menjadi alasan ribuan pencaker memadati lokasi Job Fair. Salah satunya Dwi Kristianti yang telah menganggur selama enam bulan. Ia datang bersama beberapa temannya untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan pengalaman dan latar belakang pendidikannya.

“Menurutnya aku sih (mencari pekerjaan) lumayan sulit juga karena harus sesuai pengalaman, juga kualifikasinya sudah sesuai atau belum,” katanya.

Berbekal pengalaman bekerja sebelumnya dan latarbelakang pendidikan Diploma 3 (D3), ia melamar di beberapa posisi yang ia nilai sesuai kompetensinya seperti bagian administrasi operasional.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Aziz (51), ia datang ke acara Job Fair seorang diri menggunakan kursi roda.

“Jangankan seperti saya yang disabilitas, yang normal saja agak sulit mencari kerja,” ucapnya.

Aziz mulanya adalah seorang guru di sekolah swasta di Jakarta Timur, kecelakaan yang ia alami 2017 lalu membuatnya saat ini harus beraktivitas dengan kursi roda. Dua tahun berhenti mengajar ia lalui sebagai pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjual minuman tradisional khas Betawi.

Ia sempat bekerja di perusahaan swasta selama empat tahun sebelum akhirnya berhenti pada 1 Juli 2026.

“Cukup lama, baru 1 Juli kemarin, mkanya cari kerja lagi,” katanya.

Aziz berharap pemerintah memberikan perhatian khusus pada penyandang disabilitas, dengan membuka kesempatan pekerjaan seluas-luasnya. (sur)