Berita Bekasi Nomor Satu

Mengerikan! Api Melahap 520 Hektare Bromo, Wisata Ditutup Total

TITIK API MELUAS- Kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semer uterus meluas. Hingga saat ini 520 Ha Lahan di Bromo terbakar.

BEKASI.ID, JAKARTA– Kepulan asap masih menggantung di langit kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, Minggu (9/8). Hampir sepekan sejak titik api pertama muncul pada Senin (3/8), kobaran belum sepenuhnya jinak. Api justru merambat melintasi kawasan yang membentang di empat kabupaten: Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang.

Kebakaran yang bermula dari Blok Bantengan, Senduro, Kabupaten Lumajang, itu perlahan meluas. Tiupan angin kencang membuat api bergerak cepat, sementara vegetasi sabana yang mengering menjadi bahan bakar alami yang membuat kobaran semakin mudah menjalar.

Kondisi tersebut membuat Balai Besar TNBTS mengambil langkah tegas. Seluruh pintu masuk kawasan wisata dan pendakian ditutup sementara mulai Sabtu (8/8) pukul 22.00 hingga waktu yang belum ditentukan.

Penutupan berlaku di lima pintu masuk, yakni Cemoro Lawang di Kabupaten Probolinggo, Wonokitri di Kabupaten Pasuruan, Jemplang dan Coban Trisula di Kabupaten Malang, serta Senduro di Kabupaten Lumajang.

BACA JUGA : Disdamkarmat Kabupaten Bekasi Masih Kekurangan Personel dam Armada

Kepala TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha mengatakan, wisatawan yang sudah membeli tiket melalui aplikasi booking online tidak perlu khawatir kehilangan biaya. Pengelola menyediakan pilihan penjadwalan ulang maupun pengembalian dana.

“Pengajuan reschedule maupun refund dapat dilakukan dengan mengisi formulir yang disampaikan melalui admin aplikasi booking online TNBTS,” kata Rudi kepada Radar Bromo Grup Jawa Pos.

Api Meluas

Pergerakan api menunjukkan betapa cepat kebakaran berkembang dalam kondisi cuaca kering dan angin kencang. Petugas TRC BPBD Kabupaten Probolinggo Jumadi menyebut kobaran kembali membesar pada Sabtu (8/8) sekitar pukul 16.00.

Petugas gabungan langsung bergerak melakukan pemadaman manual menggunakan gebyok. Upaya tersebut diperkuat mobil pemadam kebakaran yang mengerahkan fire truck menuju titik kebakaran.

Namun, angin kencang menjadi tantangan tersendiri. Api dengan cepat menjalar dari satu hamparan vegetasi kering ke area lainnya.

“Api mulai kembali membesar Sabtu (8/8) sekitar pukul 16.00,” ujar Jumadi.

Luas kawasan terdampak pun bertambah signifikan. Pada Sabtu pukul 12.00, lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 205 hektare. Dalam waktu 12 jam, luasnya bertambah 315 hektare sehingga total mencapai sekitar 520 hektare.

Api juga terpantau di Argosari, Kabupaten Lumajang, serta Argowulan, Kabupaten Pasuruan. Sebelumnya, pada 5 Agustus, kobaran sempat memasuki wilayah Poncokusumo, Kabupaten Malang, sebelum akhirnya berhasil dipadamkan.

Wisatawan Mulai Membatalkan Kunjungan

Penutupan kawasan TNBTS ikut memukul aktivitas ekonomi masyarakat yang menggantungkan pendapatan dari sektor wisata. Salah satunya pelaku usaha jasa jip Bromo.

Adi, pemilik jasa jip asal Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, mengaku telah memiliki empat rombongan yang dijadwalkan menggunakan jasanya pada Minggu (9/8). Namun, kebakaran membuat salah satu rombongan memilih membatalkan perjalanan.

“Satu rombongan ini ada empat jip dengan total wisatawan 18 orang,” kata Adi.

BACA JUGA : Barang Eksekusi Eks Hotel Sultan Disimpan di Dua Gudang Cikarang

Tiga Helikopter Dikerahkan

Memasuki hari keenam kebakaran, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak bersama Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni turun langsung memantau penanganan.

Upaya pemadaman dilakukan melalui jalur darat dan udara. Tujuh fire truck dikerahkan, termasuk dua unit bantuan dari Mojokerto dan Surabaya. Mobil tangki juga disiapkan untuk memasok kebutuhan air dalam penanganan di darat.

“Ada tujuh fire truck yang kami turunkan. Dua di antaranya dari Mojokerto dan Surabaya, serta mobil tangki suplai air yang melakukan penanganan darat,” terang Emil.

Dari udara, tim mengerahkan drone sprayer dan tiga helikopter water bombing. Helikopter mengambil air dari Ranu Pane dan Ranu Regulo untuk kemudian menjatuhkannya ke titik-titik kebakaran yang sulit dijangkau petugas.

Emil mengatakan, petugas juga menemukan titik api baru di kawasan Pananjakan dan Dingklik, di luar perimeter kebakaran sebelumnya. Titik-titik tersebut langsung ditangani untuk mencegah kobaran kembali meluas.

“Sementara untuk memadamkan api yang besar memang harus pakai water bombing, terutama titik yang tidak bisa dijangkau secara manual,” jelasnya.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan tiga helikopter water bombing direncanakan melakukan 30 sortie penerbangan. Hingga saat ini, 17 sortie telah dilaksanakan.

Namun, upaya pemadaman masih menghadapi tantangan cuaca. Modifikasi cuaca belum dapat dilakukan dalam waktu dekat.

“Berdasarkan koordinasi dengan BMKG, modifikasi cuaca belum memungkinkan dilakukan hingga sekitar 10 hari ke depan,” kata Raja. (gus/hn/sad/fud/biy/idr/wan/ttg)