Oleh: Dahlan Iskan
Manusia Indonesia kelihatannya sudah tidak berdaya menghadapi kebakaran hutan dan kekeringan. Mereka pun pilih bersandar kepada Tuhan.
Di Jakarta sekitar 3.000 orang melakukan salat minta hujan: salat Istisqa’. Di halaman Masjid Al Azhar Kebayoran Baru, pukul 07.00 Senin lalu.
Tidak disebutkan: mereka minta agar hujan diturunkan di mana. Tuhan tentu mahatahu skala prioritas. Terserah Tuhan saja mau diturunkan di mana.
Islam memang mengajarkan salat minta hujan. Pun agama-agama sebelum Islam. Kalau sudah tidak bisa menemukan jalan keluar mereka menyerah kepada Tuhan masing-masing.
Mungkin karena Tiongkok tidak punya Tuhan mereka tidak bisa menyerahkan problem kekeringan kepada selain diri mereka sendiri.
Anda sudah tahu: Tiongkok kini menjadi negara yang paling banyak membuat hujan buatan. Tiongkok terus mengubah kawasan kering di Barat Laut menjadi daerah pertanian.
Lantaran sering membuat hujan Tiongkok memiliki banyak tenaga ahli di bidang perubahan cuaca. Anda masih ingat: di Olimpiade Beijing 2008, Tiongkok melalukan rekayasa cuaca besar-besaran. Bukan bikin hujan buatan, tapi merekayasa cuaca agar tidak terjadi hujan selama olimpiade.
Tapi gudang ilmuwan cuaca tetaplah Amerika Serikat. Di Amerikalah ditemukan ilmu membuat hujan. Anda sudah tahu tokohnya: Vincent J. Schaefer. Ahli kimia dari New York.
Dalam ilmu cuaca ia berteman dan bersaing dengan Irving Langmuir yang sama-sama aktif di laboratoium teknologi milik General Electric.
Irvin kemudian mendapat Nobel Kimia di tahun 1932. Irvinlah yang pertama bikin hujan buatan. Niat awalnya bukan membuat hujan tapi ingin memahami cuaca. Termasuk meneliti mengapa ada hujan, dari mana datangnya hujan, dan faktor apa saja yang bisa menyebabkan hujan.
Ilmuwan memang tidak mengenal istilah ”hujan turun dari langit” –karena di langit tidak ada benih-benih hujan. Ilmuwan kian ahli mengetahui kapan akan ada hujan, seberapa lebat dan di daerah mana saja.
Hujan buatan sendiri kian mudah dilakukan setelah Irvin menemukan bahan baru untuk membuat hujan: perak iodida. Tahun 1940-an. Itu campuran perak dan yodium.
Awalnya Irvin dan tim mencari tahu: campuran kimia apa saja yang bisa membentuk kristal yang mirip dengan kristal es. Kalau hujan terjadi karena ada kristal es di awan, berarti benda yang mirip kristal es bisa menyebabkan hujan.
Jadi kalau Anda lihat mendung di langit tapi tidak terjadi hujan itu karena di dalam mendung tersebut tidak terbentuk kristal es.
Sejak ditemukan campuran perak yodium mulailah ada negara yang memproduksi perah-iodida. Tidak perlu semua negara membuat sendiri perak iodida. India dan Inggris sudah punya pabrik perak iodida untuk mencukupi keperluan dunia.
Indonesia memang penghasil perak yang besar. Yakni sebagai produk sampingan dari tambang emas dan tembaga. Seperti di Freeport dan NTB. Tapi Indonesia tidak punya tambang yodium. Penghasil yudium terbesar adalah Chili dan Jepang.
Air laut memang mengandung yodium tapi kadarnya terlalu rendah. Beda dengan Chili dan Jepang: mereka punya tambang yodium karena air asin bawah tanah mereka beryodium kadar tinggi.
Uni Emirat Arab tidak punya tambang perak maupun yodium. Tapi UEA tergolong negara yang paling sering membuat hujan buatan. Meski orang UEA punya Tuhan, mereka lebih punya uang: lewat hujan buatan mereka mampu mengubah padang pasir jadi lahan sayur dan buah.
Maka bukan karena tidak punya tambang yodium Indonesia sulit bikin hujan buatan. Yang Indonesia tidak punya adalah uang. Bikin hujan buatan itu mahal sekali. Untuk bisa bikin hujan yang mampu memadamkan kebakaran hutan di Kalbar bisa habis Rp 2 triliun.
Jauh lebih murah melakukan salat Istisqa’. Indonesia punya umat Islam terbesar di dunia. (Dahlan Iskan)











