RADARBEKASI.ID, BEKASI – Ancaman penyakit hewan mengintai di tengah cuaca ekstrem dan musim kemarau panjang yang dipicu perubahan iklim. Badan Karantina Indonesia (Barantin) meminta peternak meningkatkan kewaspadaan.
Deputi Bidang Karantina Hewan Barantin, Sriyanto, menjelaskan perubahan cuaca yang drastis dapat memicu virus atau bakteri yang sebelumnya tidak berbahaya menjadi lebih aktif dan mudah menular.
“Karena dengan perubahan iklim tadi, mungkin ada beberapa jenis virus bakteri yang selama ini tidak begitu aktif. Begitu ada perubahan iklim, bisa lebih patogen dan sebagainya,” ujar Sriyanto di Balai Uji Terap Teknik dan Metode Karantina Hewan, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Kamis (3/9/2026).
Dalam upaya pengawasan, Barantin membagi ancaman penyakit hewan ke dalam tiga kelompok utama. Pertama, Penyakit Lintas Negara (Transboundary Animal Diseases/TADs), yakni penyakit yang sangat cepat menular dan dapat berpindah antarnegara dalam waktu singkat. Contohnya adalah flu burung, Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada sapi dan kambing, serta African Swine Fever (ASF) pada babi.
Kedua, penyakit baru (emerging disease), yaitu penyakit yang sebelumnya tidak pernah ditemukan atau belum pernah menjadi masalah, tetapi kemudian muncul akibat perubahan lingkungan dan cuaca.
Ketiga, penyakit lama yang muncul kembali (re-emerging disease), yakni penyakit yang sebelumnya pernah ditemukan dan berhasil dikendalikan, tetapi kembali mewabah. Salah satu contohnya adalah Newcastle Disease atau tetelo pada ayam.
“Bisa jadi karena ada perubahan genetik dan sebagainya. Yang sebelumnya mungkin tidak menjadi masalah, muncul kembali,” katanya.
Berdasarkan data kesehatan hewan dunia, lanjut Sriyanto, kasus penyakit ternak di berbagai negara masih tergolong tinggi dalam lima tahun terakhir. Kondisi tubuh hewan yang melemah akibat cuaca panas dan kekeringan juga dapat mempercepat penularan penyakit apabila tidak dicegah sejak dini.
Oleh karena itu, Barantin akan memperketat pemeriksaan di pelabuhan dan bandara untuk mencegah masuknya penyakit hewan dari luar negeri ke Indonesia.
“Begitu ada informasi ada wabah di suatu negara, kita harus mulai mengantisipasi. Jangan sampai wabah penyakit di negara itu masuk ke negara kita,” tutupnya. (ris)











