RADARBEKASI.ID, BOGOR – Ki Imang membawa pesan dari kaki Gunung Halimun Salak saat menerima penghargaan pada Metropolitan Awards 2026 di Ballroom Hotel Harris Cibinong City Mall, Kabupaten Bogor, Jumat, 16 Oktober 2026. Ia mengajak masyarakat dan pejabat menanam pohon sebelum bencana terjadi.
Penghargaan tersebut diserahkan oleh Bupati Bogor Rudy Susmanto bersama General Manager Radar Cianjur, Nanang Rustandi.
Relawan konservasi asal Desa Gunung Bunder II, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, itu mengingatkan bahwa menjaga hutan merupakan tanggung jawab bersama.
“Ayo kita menanam, jangan udah longsor kita menanam, sebelum longsor kita menanam,” ujar Ki Imang pada Sabtu, 17 Oktober 2026.
Pria yang akrab disapa Abah Imang tersebut mengajak para hadirin terlibat langsung dalam penghijauan. Ia bahkan menawarkan bibit yang dirawatnya untuk ditanam bersama.
“Semua masyarakat, pejabat, bibit banyak di Pak Imang, mari kita tanam di Gunung Halimun Salak,” katanya.
Menurutnya, gerakan menanam tidak boleh terbatas pada kawasan tempat tinggalnya. Ia juga mengajak masyarakat menghijaukan kawasan pegunungan lain, termasuk memulihkan lahan yang terdampak longsor.
“Bukan di Gunung Halimun Salak saja, di gunung manapun kita tanam, yang longsor, mari kita tanam bersama. Jaga hutan kita untuk kita semua,” tuturnya.
Pesan tersebut lahir dari pengabdiannya selama lebih dari dua dekade. Sejak 2003, Ki Imang menjadi relawan konservasi yang merawat bibit dan menanam pohon di kawasan kaki Gunung Salak.
Dengan keterbatasan biaya, ia bersama istrinya pernah mengumpulkan plastik bekas untuk dijadikan wadah pembibitan. Bibit-bibit itu dirawat sebelum ditanam kembali di kawasan hutan yang membutuhkan penghijauan.
Bagi Ki Imang, manfaat menanam tidak berhenti pada tumbuhnya sebatang pohon. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya menjaga hutan untuk resapan air dan udara yang dinikmati masyarakat luas.
“Hutan kita punya kita, siapa lagi kalau bukan kita yang merawat,” ucapnya.
Di tengah pesan pelestarian tersebut, Ki Imang juga mengungkapkan rasa bangga dan ketidakpercayaannya bisa berdiri di panggung Metropolitan Awards 2026. Kesehariannya yang lebih banyak dihabiskan di kebun terasa berbeda dengan suasana malam penghargaan.
“Pak Imang biasa tiap hari di kebun, sekarang berdiri di sini lihat batik semua,” ungkapnya.
Ia menyampaikan terima kasih kepada jajaran Metropolitan atas penghargaan yang diterimanya. Dengan sederhana, Ki Imang membalas apresiasi itu melalui doa.
“Pak Imang hanya bisa kirim doa, mudah-mudahan jaya selamanya,” tuturnya.
Malam itu, Ki Imang menggunakan kesempatan berdiri di hadapan para tamu untuk mengajak mereka ikut merawat alam. Bibit yang tersedia di tempatnya menjadi undangan terbuka untuk memulai langkah bersama menjaga hutan. (Riza/Metropolitan)











