Berita Bekasi Nomor Satu

Pemkot Bekasi Waspadai Lonjakan Harga Pangan Jelang Nataru

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kenaikan harga pangan menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026. Ancaman kekeringan di sejumlah daerah sentra produksi menjadi salah satu faktor yang perlu diantisipasi, terutama terhadap pasokan dan harga kebutuhan pokok.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bekasi, inflasi Oktober 2026 tercatat 0,31 persen secara bulanan (month to month), 2,21 persen sepanjang tahun (year to date), dan 2,91 persen secara tahunan (year on year).

Cabai merah menjadi komoditas penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,15 persen. Disusul nasi dengan lauk sebesar 0,06 persen, tomat 0,05 persen, sewa rumah 0,04 persen, dan cabai rawit 0,03 persen.

Sementara itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran mencatat inflasi tertinggi sebesar 0,65 persen dengan andil 0,07 persen. Nasi dengan lauk menjadi penyumbang utama pada kelompok tersebut.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPPP) Kota Bekasi Satia Sriwijayanti Anggaraini mengatakan, pihaknya telah melakukan sejumlah langkah untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan pangan. Salah satunya melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) bekerja sama dengan Bulog.

Pemkot juga menyediakan sembako murah setiap akhir pekan di kawasan Car Free Day (CFD). Selain itu, pengawasan harga dan ketersediaan barang terus dilakukan untuk mencegah penimbunan maupun pembelian berlebihan.

“Berjalan dan kita masih stabil, ketersediaan juga masih tercukupi,” kata Satia.

Pemkot juga menyalurkan bantuan pangan dari pemerintah pusat kepada masyarakat kelompok desil 1 hingga 5 untuk menjaga akses pangan warga berpenghasilan rendah.

Tekanan pasokan tetap perlu diwaspadai. BPS mencatat produksi cabai merah mengalami penurunan di sejumlah sentra, seperti Lombok Timur, Cianjur, dan Banyuwangi. Sementara produksi cabai rawit menurun di Jember, Sampang, dan Brebes.

Di sisi lain, sejumlah daerah mencatat peningkatan produksi. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah untuk memastikan kelancaran distribusi dan menjaga harga pangan tetap terkendali menjelang Nataru.(sur)