Berita Bekasi Nomor Satu

Perang di Timur Tengah Bisa Ganggu Industri dan Pekerjaan Buruh

BERI KETERANGAN: Presiden KSPSI, Andi Gani Nena Wea, memberikan keterangan kepada wartawan. FOTO: ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Kalangan buruh di Kabupaten Bekasi mulai mewaspadai keberlangsungan pekerjaan sebagai dampak konflik di Timur Tengah antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea, menyoroti potensi dampak konflik tersebut terhadap industri nasional, khususnya yang berkaitan dengan kegiatan ekspor dan keberlangsungan pekerjaan para buruh di Indonesia.

“Yang kami khawatirkan adalah adanya penurunan pesanan dari luar negeri karena perang, sehingga pengiriman logistik dari Indonesia ke negara tujuan menjadi terganggu,” kata Andi, Senin (9/3).

Menurutnya, hingga kini dampak konflik di kawasan Timur Tengah itu belum dirasakan secara signifikan oleh sektor industri dalam negeri.

Ia menjelaskan, konflik yang berlangsung lama berpotensi menghambat distribusi barang ekspor dari Indonesia ke berbagai negara tujuan. Jika hal itu terjadi, produk yang telah diproduksi untuk pasar luar negeri bisa menumpuk di dalam negeri.

“Kalau perang ini berkepanjangan, yang kami khawatirkan terjadi penumpukan stok barang ekspor di Indonesia. Ini tentu menjadi ancaman bagi buruh ke depan,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi perkembangan situasi, lanjut Andi, KSPSI juga berkoordinasi dengan jaringan serikat pekerja internasional yang berada di bawah naungan International Trade Union Confederation (ITUC), federasi serikat pekerja global yang memiliki anggota di ratusan negara.

Melalui komunikasi tersebut, kata dia, pihaknya berupaya memantau situasi global sekaligus mencari langkah antisipatif agar aktivitas ekspor Indonesia tidak mengalami gangguan serius.

“Kami terus melakukan komunikasi dengan teman-teman serikat buruh dunia. Sampai sekarang memang belum terjadi gangguan yang berat, tetapi kalau perang ini berlangsung satu sampai dua minggu ke depan, saya yakin akan ada pengaruh yang cukup besar,” jelasnya.

Ia menambahkan, sejumlah negara di kawasan konflik maupun wilayah sekitarnya merupakan pasar ekspor penting bagi industri nasional. Jika distribusi logistik terganggu, proses produksi di dalam negeri juga berpotensi terdampak.

Andi menyebut Ukraina sebagai salah satu negara tujuan ekspor produk sepatu dari Indonesia. Apabila konflik meluas dan jalur distribusi terganggu, barang yang telah diproduksi berpotensi tertahan di dalam negeri.

“Ketika sudah ada kontrak dengan perusahaan sepatu di Indonesia dan barang hendak dikirim, lalu perang terjadi, tentu stoknya akan tertahan. Ini dampak yang langsung terasa,” katanya.

Selain mempengaruhi ekspor, konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah juga berpotensi menimbulkan dampak lanjutan terhadap industri global, terutama pada sektor energi serta distribusi logistik internasional.

Karena itu, ia berharap konflik tersebut tidak berlangsung lama agar tidak menimbulkan tekanan terhadap sektor industri nasional maupun kesejahteraan pekerja.

“Kami mendorong agar perang ini tidak berlangsung lama karena akan sangat berpengaruh terhadap industri, termasuk ekspor Indonesia ke wilayah yang terdampak konflik,” pungkas Andi. (ris)