Berita Bekasi Nomor Satu

Jelang Lebaran, Kasus Suspek Campak di Kota Bekasi Tembus Seribuan

ILUSTRASI: Suspek Campak. FOTO: SHUTTERSTOCK

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Kasus suspek campak di Kota Bekasi melonjak pada awal 2026. Dinas Kesehatan setempat mencatat 1.414 kasus hingga pekan ke-9 tahun ini. Temuan itu memicu kewaspadaan pemerintah daerah, terutama menjelang libur Lebaran saat mobilitas warga meningkat.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Bekasi, Vevie Herawati, mengatakan pihaknya masih melakukan proses verifikasi dan pengujian laboratorium untuk memastikan jumlah kasus yang benar-benar terkonfirmasi.

 

“Dinkes terus melakukan verifikasi dan uji laboratorium untuk memastikan jumlah kasus konfirmasi positif,” ujar Vevie, Kamis (12/3).

 

Temuan ratusan hingga ribuan kasus suspek dalam waktu singkat ini membuat pemerintah daerah meningkatkan langkah mitigasi. Salah satu langkah awal yang dilakukan adalah penyelidikan epidemiologi atau pelacakan kasus di wilayah yang ditemukan pasien dengan gejala campak.

Melalui langkah tersebut, petugas kesehatan berupaya mengidentifikasi sumber penularan sekaligus memutus rantai penyebaran di tingkat lingkungan.

Selain itu, pemerintah daerah juga mempercepat cakupan imunisasi Measles Rubella (MR) melalui puskesmas dan posyandu. Program ini difokuskan untuk menjangkau anak-anak yang belum menerima imunisasi lengkap.

“Khususnya menyisir anak-anak yang status imunisasinya belum lengkap,” kata Vevie.

Langkah pencegahan lain yang dilakukan adalah mendistribusikan vitamin A dosis tinggi kepada balita. Pemberian vitamin tersebut bertujuan meningkatkan daya tahan tubuh anak sekaligus mencegah komplikasi serius apabila anak terinfeksi campak.

Dinkes juga memastikan kesiapan fasilitas layanan kesehatan, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit daerah, agar mampu menangani pasien dengan gejala campak sesuai standar medis.

Campak sendiri dikenal sebagai penyakit yang sangat mudah menular. Virus dapat menyebar melalui udara, percikan air ludah, maupun bersin dari penderita. Karena tingkat penularannya sangat tinggi, imunisasi menjadi satu-satunya perlindungan paling efektif.

Vevie mengingatkan masyarakat untuk memastikan anak mendapatkan imunisasi sesuai jadwal. Imunisasi campak atau MR diberikan pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan saat anak memasuki usia sekolah dasar.

“Imunisasi adalah tameng utama untuk mencegah campak,” ujarnya.

Masyarakat juga diminta mewaspadai gejala awal penyakit tersebut. Campak umumnya ditandai dengan demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, serta munculnya ruam kemerahan pada kulit. Gejala biasanya diawali dari bagian belakang telinga atau leher sebelum menyebar ke tubuh.

Jika anak menunjukkan gejala tersebut, orang tua diminta segera membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat. Anak juga disarankan beristirahat di rumah dan mengurangi kontak dengan anak lain untuk mencegah penularan.

“Kurangi interaksi dengan anak lain agar rantai penularan dapat diputus,” kata Vevie.

Lonjakan kasus campak tidak dapat dilepaskan dari dampak pandemi Covid-19 yang terjadi beberapa tahun lalu. Pada masa pandemi, cakupan imunisasi anak sempat menurun karena pembatasan aktivitas masyarakat.

Penasihat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Perwakilan Bekasi, Triza Arif Santosa, menilai kondisi tersebut menciptakan populasi anak yang lebih rentan terhadap penyakit menular.

“Terutama pada saat pandemi Covid-19, kondisi ini menciptakan populasi yang rentan,” katanya.

Menurutnya, campak bukan penyakit ringan. Jika tidak ditangani dengan baik, virus tersebut dapat menimbulkan komplikasi serius pada sistem saraf, mata, saluran pernapasan, hingga sistem pencernaan.

Karena itu, kepekaan masyarakat dalam mengenali gejala sangat penting agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.Kewaspadaan juga harus ditingkatkan menjelang libur Lebaran. Pada periode tersebut, mobilitas masyarakat meningkat tajam, termasuk aktivitas berkumpul dalam keluarga besar.

Dalam situasi seperti ini, risiko penularan penyakit menular seperti campak menjadi lebih tinggi.

Triza mengingatkan agar hanya orang yang sehat berinteraksi dekat dengan bayi atau balita, termasuk saat mencium anak.

“Mencium bayi dan balita hanya boleh dilakukan oleh orang yang sehat,” ujarnya.

Seseorang yang sedang mengalami flu, batuk, atau sakit tenggorokan sebaiknya menghindari kontak dengan anak kecil karena berpotensi menularkan penyakit.

Secara nasional, Kementerian Kesehatan mencatat terdapat 10.453 kasus suspek campak hingga awal Maret 2026. Angka tersebut menunjukkan bahwa penyebaran virus campak masih menjadi tantangan serius di berbagai daerah.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemerintah akan mempercepat program imunisasi sebelum Lebaran. Targetnya, cakupan imunisasi dapat mencapai 95 persen dalam satu hingga dua pekan ke depan.

Angka tersebut dianggap penting untuk membangun kekebalan kelompok atau herd immunity seperti sebelum pandemi. Menurut Budi, tingkat penularan campak sangat tinggi. Satu penderita campak dapat menularkan virus kepada 12 hingga 18 orang lainnya.

Karena itu, percepatan imunisasi menjadi langkah krusial agar lonjakan kasus dapat ditekan, terutama menjelang periode mudik Lebaran ketika pergerakan masyarakat berada pada titik tertinggi.(sur)