RADARBEKASI.ID, BEKASI – Kesempatan berhaji tak selalu datang dalam rencana yang utuh. Bagi Ghathafan Raziki Yulamlam remaja asal Depok, perjalanan ini justru lahir dari kehilangan. Di usianya yang baru 16 tahun masih duduk di bangku kelas 2 SMA ia menggantikan sang ayah untuk menunaikan ibadah ke Tanah Suci. Seperti apa kisahnya?
Pagi itu terasa berbeda bagi Afan. Di tengah kesibukan menyiapkan keberangkatan, ada perasaan haru yang tak bisa disembunyikan. Remaja kelahiran Jakarta, 8 Februari 2010 itu akan segera berangkat ke Tanah Suci, sebuah perjalanan yang awalnya bukan untuk dirinya.
Di rumahnya, koper sudah tersusun rapi. Sebagian bahkan telah lebih dulu dikirim melalui KBIH. Kain ihram, baju koko, hingga perlengkapan pribadi telah dipersiapkan. Namun, di balik semua itu, tersimpan cerita yang tak sederhana.
Keberangkatan Afan adalah kelanjutan dari niat sang ayah, Lutfi Yulamlam, yang telah lebih dulu berpulang tiga tahun lalu. Nama sang ayah sebelumnya tercatat sebagai calon jemaah haji. Namun takdir berkata lain.
“Awalnya harusnya ayah saya yang berangkat. Tapi beliau sudah meninggal,” ujar Avan pelan.
Proses pengalihan keberangkatan pun tidak mudah. Sang bunda, Ani Hidayati (43), harus mengurus berbagai administrasi, termasuk ke Kementerian Agama. Usia Afan yang saat itu belum memenuhi syarat sempat menjadi kendala.
Namun harapan itu kembali muncul. Saat menimba ilmu di pondok pesantren di Serang, Afan menerima kabar yang mengubah segalanya.
“Waktu itu saya dapat kabar sudah bisa berangkat. Alhamdulillah visanya juga sudah keluar,” katanya.
Kini, Afan akan berangkat bersama sang bunda. Perjalanan ini bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga tentang ikatan keluarga yang tetap hidup meski salah satu telah tiada.
Persiapan pun dilakukan sejak jauh hari. Afan mengikuti manasik haji di KBIH Alhamidiyah untuk memahami rangkaian ibadah yang akan dijalani di Tanah Suci.
“Sudah beberapa kali ikut manasik, jadi sudah cukup paham. Tinggal persiapan akhir saja,” tuturnya.
Selain perlengkapan, kondisi fisik juga menjadi perhatian. Afan menjaga pola makan, rutin berolahraga, dan memastikan waktu istirahat cukup.
Rencananya, Afan dan sang bunda akan bertolak ke bandara pada Kamis (23/4) dini hari. Jadwal keberangkatan mereka diperkirakan
Di usianya yang masih belia, sebagai siswa kelas 2 SMA dan anak pertama dari dua bersaudara, Afan memikul tanggung jawab besar. Ia tak hanya menjalankan rukun Islam kelima, tetapi juga membawa harapan dan doa sang ayah yang belum sempat terwujud.
“Semoga diberi kelancaran, kesehatan, dan bisa menjalankan ibadah dengan baik. Semoga jadi haji yang mabrur,” ucapnya.
Bagi Afan, perjalanan ini bukan sekadar langkah menuju Tanah Suci. Ini adalah cara untuk menuntaskan sebuah niat, menjaga sebuah amanah, dan mengenang sosok ayah yang kini hanya bisa ia doakan. (rez)











