RADARBEKASI.ID, BEKASI – Terik matahari mulai menyelimuti Arab Saudi seiring kedatangan gelombang awal jemaah haji Indonesia. Namun, ancaman sesungguhnya diperkirakan baru akan terasa saat puncak haji 2026.
Suhu udara di Makkah diprediksi menembus 45 derajat celsius, bahkan pada hari-hari tertentu bisa mencapai 47 hingga 48 derajat celsius. Kondisi ekstrem itu menjadi ujian berat bagi jutaan jemaah, termasuk ribuan calon tamu Allah asal Bekasi.
Di tengah suasana haru pelepasan jemaah, Pemerintah Kota Bekasi mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan sejak awal keberangkatan.
Kepala Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kota Bekasi, Rian Fauzi, menegaskan bahwa ibadah haji bukan hanya perjalanan spiritual, tetapi juga membutuhkan kesiapan fisik yang matang.
“Hingga saat ini sudah empat kloter jemaah asal Kota Bekasi menuju Madinah. Berarti ada sekitar 1.600 jemaah yang sudah berada di Madinah. Dan tadi malam kloter lima juga sudah masuk asrama haji,” ujar Rian kepada Radar Bekasi, Minggu (26/4).
Menurut dia, angka itu akan terus bertambah seiring pemberangkatan berikutnya. Di antara ribuan jemaah tersebut, banyak yang masuk kategori lanjut usia dan memiliki penyakit penyerta. Karena itu, kewaspadaan menjadi hal utama.
“Kami mengingatkan kepada seluruh jemaah agar selalu menjaga kesehatan dan mengikuti instruksi dari panitia haji. Jangan memaksakan diri bila kondisi tubuh menurun,” tegasnya.
Musim haji tahun ini memang bertepatan dengan awal musim panas di Arab Saudi. Data cuaca menunjukkan suhu udara di Madinah pada Minggu (26/4) mencapai 36 derajat celsius dengan kelembapan 54 persen. Dalam sepuluh hari ke depan, suhu diperkirakan berada di kisaran 33 hingga 41 derajat celsius.
Sementara itu di Makkah, suhu hari ini diprediksi mencapai 38 derajat celsius dengan kelembapan sekitar 70 persen. Dalam beberapa hari mendatang, suhu tertinggi berkisar 35 hingga 39 derajat celsius. Namun angka tersebut diyakini baru permulaan sebelum panas sesungguhnya datang menjelang akhir Mei hingga awal Juni, bertepatan dengan fase puncak ibadah haji.
Saat jutaan jemaah berkumpul di Padang Arafah, panas dari langit dan pantulan tanah akan menjadi tekanan ganda. Tidak sedikit jemaah yang berisiko mengalami kelelahan, dehidrasi, bahkan heatstroke bila tidak mampu menjaga kondisi tubuh.
Staf Ahli Kementerian Haji dan Umrah RI, Ramadhan Harisman, menegaskan bahwa kesiapan fisik adalah modal utama agar jemaah mampu menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah dengan baik.
“Ibadah haji merupakan ibadah fisik yang cukup berat. Dengan suhu yang tinggi, jemaah harus disiplin menjaga kesehatan, mengonsumsi makanan bergizi yang telah disiapkan petugas, serta memperbanyak minum air putih agar terhindar dari dehidrasi,” ujarnya.
Ia juga meminta jemaah mengurangi aktivitas di luar hotel yang tidak berkaitan langsung dengan ibadah wajib. Menurutnya, energi harus disimpan untuk fase paling berat, yakni saat wukuf di Arafah dan pergerakan massal menuju Muzdalifah serta Mina.“Kurangi aktivitas di luar hotel agar kondisi tubuh tetap prima. Fokus utama adalah mempersiapkan diri menjelang puncak ibadah haji,” tambahnya.
Peringatan serupa datang dari tim kesehatan pendamping kloter asal Bekasi. Dokter pendamping Kloter 22 Kota Bekasi, Fuad. Dia menjelaskan bahwa perbedaan cuaca Indonesia dengan Arab Saudi sangat memengaruhi kondisi tubuh jemaah.
“Meski belum mencapai puncak musim panas, kondisi di sana tetap lebih ekstrem dibandingkan suhu di Indonesia. Selain panas, karakter udara yang kering menjadi faktor tambahan yang mempercepat penguapan cairan tubuh,” katanya.
Menurut dia, banyak jemaah tidak sadar sedang mengalami dehidrasi karena keringat cepat menguap dan tubuh tidak merasa terlalu basah. Gejala awal justru sering terlihat dari hal sederhana.
“Dampak paling awal yang umum dialami adalah dehidrasi ringan. Salah satu tanda awal yang sering muncul yakni bibir kering dan pecah-pecah,” jelasnya.
Jika dibiarkan, kondisi itu bisa berkembang menjadi sariawan, luka terbuka, menurunnya selera makan, hingga tubuh makin lemah. Padahal jemaah membutuhkan energi cukup untuk menjalani ibadah yang padat.
“Ketika bibir pecah atau sariawan, jemaah menjadi tidak nyaman saat makan. Dampaknya, asupan energi berkurang dan kondisi dehidrasi bisa semakin parah,” sambung Fuad.
Karena itu, ia mengingatkan seluruh jemaah asal Bekasi untuk disiplin minum air putih meski tidak merasa haus.“Salah satu yang paling penting adalah sering minum. Jangan sampai menunggu haus,” tegasnya.
Selain persoalan cuaca, pemerintah juga menegaskan komitmennya menghadirkan layanan haji ramah lansia, disabilitas, dan perempuan. Program tersebut menjadi bagian dari transformasi pelayanan haji Indonesia agar semakin inklusif dan berkeadilan.
Pendekatan itu tidak hanya menitikberatkan aspek teknis, tetapi juga nilai kemanusiaan. Setiap jemaah, tanpa terkecuali, diharapkan memperoleh pelayanan terbaik dalam menjalankan rukun Islam kelima.
Namun di tengah persiapan tersebut, Kemenhaj juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai modus kejahatan berkedok haji tanpa antre. Pemerintah menegaskan bahwa ibadah haji hanya dapat dilakukan menggunakan visa haji resmi yang dikeluarkan Pemerintah Arab Saudi.
“Perlu kami tegaskan, ibadah haji hanya dapat dilakukan dengan visa haji resmi yang dikeluarkan oleh Pemerintah Arab Saudi,” kata Juru Bicara Kemenhaj Maria Assegaff.
Ia menjelaskan, visa ziarah, visa kerja, maupun visa turis tidak bisa dipakai berhaji. Pelanggaran terhadap aturan itu berisiko dikenai sanksi berat berupa penahanan, denda, deportasi, hingga larangan masuk kembali ke Saudi sampai 10 tahun.
Sebagai langkah pengawasan, pemerintah membentuk satuan tugas penanganan jemaah haji nonprosedural bekerja sama dengan Polri dan Kementerian Imigrasi. Hingga 25 April, sebanyak 13 warga negara Indonesia dengan visa nonprosedural telah dicegah keberangkatannya melalui Bandara Soekarno-Hatta. Kasus serupa juga ditemukan di Bandara Kualanamu, Medan.
Bagi jemaah asal Bekasi, semua peringatan itu menjadi bekal penting sebelum menapakkan kaki di Tanah Suci. Sebab, tantangan haji tahun ini bukan hanya panjangnya perjalanan atau padatnya kerumunan manusia, tetapi juga sengatan panas yang menguji daya tahan tubuh.(mif/wan/ttg/net)











