RADARBEKASI.ID, BEKASI – Toren berkapasitas 1.000 liter diletakkan di belakang rumah Acep Surya di Desa Karangindah, Kecamatan Bojongmangu, Kabupaten Bekasi. Isinya air bersih, tetapi bukan berasal dari sumur maupun jaringan perpipaan.
Menurut bapak dua anak ini, air bersih tersebut dibeli seharga Rp50 ribu per 1.000 liter dari pemasok air tangki swasta. Air itu menjadi persediaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari minum, memasak, mandi, hingga mencuci.
“Beli air 1.000 liter buat tiga hari sampai seminggu,” ujarnya kepada Radar Bekasi, Rabu (13/8/2026).
Acep sudah bertahun-tahun membeli air. Pasalnya, air dari sumur bor di desanya tidak layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Jika dihitung sebulan, pengeluaran untuk air bisa mencapai Rp200 ribu atau lebih. Bagi warga yang juga menjalankan usaha warung ini, biaya tersebut bukan angka kecil.
“Harga air per liter Rp50 ribu, kalau tiga hari sampai seminggu habis, sebulan bisa Rp200 ribuan sampai lebih,” katanya.
Kisah Acep bukan cerita tunggal. Di Bojongmangu, toren berkapasitas besar sudah menjadi pemandangan lazim. Kecamatan yang dihuni sekitar 30 ribu jiwa itu menghadapi persoalan air bersih yang tak kunjung benar-benar selesai di usia 76 tahun Kabupaten Bekasi yang jatuh pada Jumat (15/8/2026).
Ketika kemarau datang, masalahnya bahkan berlipat. Air semakin sulit diperoleh, sementara penjual air juga kesulitan karena sumber air dari sungai ikut mengering. Bantuan air bersih menjadi andalan warga.

Secara geografis, Bojongmangu memiliki tantangan tersendiri. Data Badan Pusat Statistik mencatat wilayah ini berada pada ketinggian sekitar 90,17 meter di atas permukaan laut. Kontur tersebut ikut memengaruhi ketersediaan air tanah.
Sementara itu, Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kecamatan Bojongmangu, Kandi Sunarya, mengatakan persoalan air bersih terjadi hampir di seluruh enam desa, yakni Bojongmangu, Karangindah, Karangmulya, Medalkrisna, Sukabungah, dan Sukamukti. Pengeboran sumur dalam pun tidak otomatis menyelesaikan persoalan.
“Sumur pun kalau dibor 100-150 meter kadang nggak nemu. Kalau keluar pun nggak bisa dipakai, kayak asin, ada minyak-minyaknya,” kata Kandi.
Karena itu, toren berukuran besar menjadi pemandangan lazim di rumah warga. Rata-rata kapasitasnya mencapai 1.000 liter.
“Kebanyakan sudah terbiasa beli air,” ujarnya.
Ironisnya, jaringan perpipaan sebenarnya telah masuk ke sebagian wilayah Bojongmangu. Pipanisasi dari sumber air Sungai Cibeet dan Kali Cipamingkis disebut telah menjangkau sekitar 60-70 persen wilayah. Namun persoalannya ada pada debit.
“Sebetulnya pipanisasi PDAM 60-70 persen sudah menjangkau. Airnya keluar kecil, jadi suplai airnya,” katanya.
Kandi punya gagasan pembangunan bendungan atau pintu air di Sungai Cihoe, sekitar perbatasan Cipamingkis antara Desa Medalkrisna dan Serangbaru. Menurutnya, air sungai dapat ditahan dan dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga maupun pertanian.
“Pintu air bisa ditahan air, bisa nahan ribuan kubik, bisa nahan puluhan kilometer. Cihoe kan dalam, kalau ditahan air lumayan banyak,” ujarnya.

Sekretaris Kecamatan Bojongmangu, Endan Setiaganda, menambahkan persoalan air membutuhkan penanganan bertahap. Ia mengaku belum pernah membahas solusi permanen untuk mengatasi masalah air.
Khusus musim kemarau, selama ini hanya bantuan air bersih dari Perumda Tirta Bhagasasasi melalui BPBD dan perusahaan.
“Penangananya baru jangka pendek saja,” ujarnya.
Pipanisasi Belum Merata
Direktur Utama Perumda Tirta Bhagasasi, Reza Luthfi Hasan, mengatakan wilayah Bojongmangu yang berada di dataran tinggi membuat pelayanan air bersih memiliki tantangan tersendiri. Kondisi sumber air baku juga belum selalu mendukung kebutuhan pelanggan.

Reza mengungkapkan, pipanisasi telah sampai ke wilayah Bojongmangu. Namun, diakui, belum menjangkau seluruh wilayah.
“Kalau pipanisasi sambungan langganan sebagian wilayah sudah masuk, hanya saja belum merata,” ujarnya.
Untuk jangka panjang, kata Reza, peningkatan pelayanan membutuhkan investasi pengembangan. Salah satunya dengan menambah mesin penekan air agar distribusi ke pelanggan lebih lancar dan debit air meningkat.
Buat Penampungan
Ketua DPRD Kabupaten Bekasi, Ade Sukron, meminta pemerintah daerah menyiapkan langkah khusus untuk mengatasi sulitnya akses air bersih di Kecamatan Bojongmangu.
Menurut Ade, pemerintah perlu menyiapkan titik penampungan air sebagai cadangan. Penampungan milik masyarakat juga dapat dimaksimalkan untuk memenuhi kebutuhan warga.
“Salahsatu poinnya, pemerintah perlu memiliki tempat-tempat penampungan air atau memaksimalkan penampungan-penampungan air punya masyarakat sebagai tempat bila terjadi kondisi kritis di masyarakat,” ujar Ade.

Ia mengakui, pengeboran belum tentu menjadi solusi untuk mengatasi persoalan air di Bojongmangu. Sebab, pencarian sumber air tanah di wilayah tersebut tidak mudah.
“Karena ketika kami mengarahkan untuk dilakukan pengeboran ternya kondisinya sangat sulit ditemukan mata air. Maka ini harus perlu sudah menjadi perencanaan bila terjadi kekeringan di Bojongmangu,” ujarnya.
Ade mengusulkan fasilitas publik seperti sekolah dan tempat ibadah dapat dijadikan titik penampungan. Air yang tersedia nantinya dapat didistribusikan kepada warga. (oke/and)











