Berita Bekasi Nomor Satu

Penonton Bergoyang di Primaria Fest Bekasi, Doa untuk NTT dan Kalimantan Mengalir

NDX A.K.A tampil di panggung Primaria Fest di Lapangan Parkir Transera Park, Bekasi, Jumat (21/8/2026) malam. FOTO: EKO ISKANDAR/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI — Panggung Primaria Fest di Lapangan Parkir Transera Park, Bekasi, Jumat (21/8/2026) malam, tak hanya menyuguhkan hiburan musik. Sejumlah musisi yang tampil turut menyisipkan pesan solidaritas untuk warga terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan.

Festival yang mengusung Indonesian Bounce Music (IBM) itu menghadirkan sejumlah nama, di antaranya NDX A.K.A sebagai headliner, DNA, Tenxi, Juan Reza, OM Lorensa, OM Abidin, serta Pemandu Karaoke Sedih.

Penampilan lintas genre membuat suasana festival semakin meriah. Penonton diajak bernyanyi, bergoyang, dan berinteraksi langsung dengan para musisi yang tampil.

Tenxi

Musisi Tenxi mengaku senang bisa kembali tampil di Bekasi. Baginya, penampilan tersebut menjadi pengalaman yang menyenangkan karena ia baru untuk kedua kalinya datang ke Kota Bekasi.

“Seru, seneng banget, pastinya. Aku jarang ke Bekasi, ini baru yang kedua kali,” kata Tenxi.

Menurutnya, perkembangan musik di kalangan anak muda saat ini semakin terbuka. Musisi muda memiliki lebih banyak ruang untuk berkarya dan memperkenalkan karya mereka kepada publik.

Ia menilai kemudahan teknologi turut membuat anak muda lebih berani bermusik. Bahkan, proses berkarya kini dapat dilakukan dari rumah tanpa harus menunggu memiliki fasilitas besar.

“Lebih banyak anak-anak muda mulai bermusik dan berani nunjukkin karya-karyanya. Karena mungkin dulu di generasi atasku musik itu kayak harus keren dulu, sekarang dari rumah aja bisa bermusik,” ujarnya.

Sementara itu, Juan Reza turut membawa isu kemanusiaan ke tengah kemeriahan festival. Musisi asal Flores tersebut mengajak masyarakat mendoakan sekaligus membantu warga NTT yang terdampak gempa.

Juan mengatakan keluarganya di Ende turut merasakan dampak gempa. Kondisi rumah keluarganya mengalami kerusakan akibat guncangan.

Juan Reza (tengah).

“Kondisi keluarga saya di Ende itu rumahnya retak-retak, pecah-pecah, hancur,” kata Juan.

Dampak gempa, lanjut dia, juga dirasakan kerabatnya di sejumlah daerah lain seperti Lembata, Maumere, dan Nagekeo. Sebagian anggota keluarganya bahkan harus mengungsi karena rumah mereka rusak dan tidak lagi dapat ditempati.

“Kalau di keluarga ada yang di Lembata, ada yang di Maumere, yang dari Nagekeo itu memang betul-betul ada yang sampai mengungsi juga, sampai rumahnya hancur sampai nggak bisa tinggal lagi, nggak punya rumah,” tuturnya.

Juan mengaku belum dapat langsung pulang ke NTT karena masih memiliki sejumlah pekerjaan yang harus diselesaikan. Karena itu, ia memilih membantu dari jauh dengan membuka donasi untuk warga terdampak.

Ia juga berencana menggandeng sejumlah musisi di Yogyakarta untuk menggelar aksi solidaritas dan menggalang bantuan bagi masyarakat NTT yang masih menghadapi dampak gempa serta kemungkinan gempa susulan.

“Kalau saya belum sempat ke sana karena tugas yang harus saya jalankan masih banyak. Jadi kita hanya bisa melakukan open donasi dari jauh. Kita galang dana di setiap tempat,” ujarnya.

Juan juga menyampaikan apresiasi kepada penonton di Bekasi yang telah ikut berdonasi dan mendoakan warga NTT.

“Saya berterima kasih kepada teman-teman yang sudah berdonasi untuk NTT Flores. Karena saya juga orang Flores, keluarga saya juga terkena dampak. Berkat kalian semua sangat berarti bagi kita di sana,” katanya.

Pesan solidaritas juga disampaikan Yonanda Frisna Damara atau Nanda NDX A.K.A. Menurutnya, konsep Primaria Fest memberikan ruang bagi berbagai genre musik untuk tampil dalam satu panggung sehingga penonton dapat menikmati pertunjukan yang beragam.

“Malam hari ini kita tampil di Bekasi di Primaria Fest. Pastinya konsep ini membawa nuansa berbeda dibandingkan konsep lain,” kata Nanda.

NDX A.K.A.

Ia mengatakan keberagaman genre menjadi salah satu kekuatan festival tersebut. Musik dinilai dapat menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai kalangan.

“Menurutku konsep di Bekasi sangat baik karena berbagai genre ditampilkan menjadi satu pada malam hari ini. Jadi, penonton bisa puas. Karena musik itu indah,” ujarnya.

Di atas panggung, Nanda mengajak penonton menyisipkan doa untuk warga yang terdampak bencana gempa bumi di NTT dan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan.

“Semoga doa kita bisa meringankan beban mereka,” ucapnya.

Primaria Fest Bekasi dirancang sebagai festival yang tidak hanya berfokus pada pertunjukan musik. Konsepnya mengedepankan interaksi antara artis, komunitas, dan penonton melalui sesi sing along serta berbagai aktivitas yang melibatkan audiens secara langsung.

Perpaduan koplo modern, bounce music, hingga penampilan interaktif membuat festival tersebut menjadi ruang hiburan sekaligus pertemuan berbagai karakter musik. (oke)