RADARBEKASI.ID, BEKASI – Peletakan batu pertama bukan akhir dari pekerjaan Pemerintah Kota Bekasi dalam proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL). Setelah pembangunan dimulai, Pemkot justru dituntut mengawal proyek agar tidak tersendat sekaligus memastikan dampaknya terhadap warga sekitar tidak berubah menjadi persoalan baru.
Ground breaking PSEL dijadwalkan berlangsung hari ini, Rabu (26/8). Ketua Komisi II DPRD Kota Bekasi Latu Har Hary mengatakan, kewajiban dasar Pemkot Bekasi dalam proyek tersebut telah dipenuhi, salah satunya penyediaan lahan.
“Kalau secara tugas dan kewajiban Pemerintah Kota Bekasi sebenarnya sudah dilaksanakan, mulai dari pengadaan lahan,” kata Latu, Selasa (25/8).
Namun, menurut dia, pekerjaan pemerintah tidak boleh berhenti setelah lahan tersedia. Pemkot harus memastikan seluruh tahapan pembangunan berjalan sesuai rencana, termasuk mengantisipasi persoalan yang berpotensi memicu penolakan atau mengganggu warga sekitar.
Komunikasi antara pemerintah, pelaksana proyek dan masyarakat dinilai menjadi kunci. Keluhan sekecil apa pun yang muncul selama pembangunan harus segera ditangani agar tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.
“Sehingga nantinya di kemudian hari isu-isu yang berdampak kepada masyarakat tidak menjadi penghambat utama, sehingga target awal tahun 2028 PSEL itu sudah bisa beroperasi,” tegasnya.
Latu mengingatkan pengalaman saat proses pematangan lahan. Ketika itu, masyarakat sempat mengeluhkan tanah yang tercecer di ruas jalan menuju lokasi pembangunan. Persoalan semacam itu, kata dia, harus menjadi bahan evaluasi agar tidak kembali terjadi selama pembangunan berlangsung.
PSEL bukan satu-satunya teknologi pengolahan sampah yang disiapkan Pemkot Bekasi. Fasilitas pengolahan sampah menjadi energi terbarukan atau Waste to Fuel (WTF) juga akan dibangun.
Kedua fasilitas tersebut diharapkan menjadi bagian dari solusi atas persoalan sampah di Kota Bekasi, baik timbulan sampah baru maupun tumpukan sampah yang selama ini menumpuk di TPA Sumur Batu.
“Sehingga dua hal yang menjadi permasalahan di Kota Bekasi terkait dengan sampah itu bisa diselesaikan dengan dua metode atau teknologi yang akan dibangun,” tambahnya.
Sebelumnya, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto memastikan persiapan ground breaking PSEL terus dilakukan. Agenda tersebut dijadwalkan dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan dan dirangkai dengan apel kebersihan bersama komunitas masyarakat serta para pemangku kepentingan.
Tri menyebut pegiat lingkungan memiliki peran penting dalam pengelolaan sampah selama ini, mulai dari pengembangan Bank Sampah hingga budi daya maggot. Para pegiat tersebut nantinya akan mendapat arahan dalam agenda tersebut.
“Semua nanti akan mendapatkan arahan dari Pak Menko,” katanya.
Tri menargetkan pembangunan fasilitas pengolahan sampah tersebut rampung dalam waktu kurang dari dua tahun. Setelah beroperasi, sampah Kota Bekasi diharapkan dapat diolah menjadi energi listrik.
“Selanjutnya mudah-mudahan dapat secara cepat sesuai dengan target 18 bulan ke depan tentu kita bisa menikmati proses pengolahan sampah menjadi energi listrik,” ujarnya.
Selain PSEL, Pemkot Bekasi juga bekerja sama dengan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) dalam pengolahan sampah menggunakan teknologi pirolisis untuk menghasilkan energi terbarukan.
“Jadi, (sampah) yang baru datang nanti diselesaikan dengan PSEL, yang sekarang menggunung nanti diselesaikan dengan pirolisis,” tambah Tri. (sur)











