RADARBEKASI.ID, BEKASI – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meminta masyarakat tidak melakukan panic buying obat antivirus Oseltamivir di tengah meningkatnya perhatian terhadap influenza A. Obat tersebut tidak untuk dikonsumsi secara massal atau diminum sebagai langkah pencegahan tanpa penilaian medis.
Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes, Lucia Rizka Andalusia, mengatakan kekhawatiran masyarakat muncul seiring cepatnya informasi mengenai peningkatan kasus influenza A beredar di media sosial. Kondisi itu juga diperparah dengan adanya perbedaan ketersediaan oseltamivir di sejumlah wilayah.
Namun, Lucia menegaskan tidak semua pasien influenza membutuhkan obat antivirus tersebut. Sebagian besar kasus influenza yang tidak disertai tanda bahaya dapat ditangani secara mandiri dengan istirahat cukup dan menjaga asupan cairan untuk mencegah dehidrasi.
“Sehingga tidak setiap orang harus mendapatkan obat antivirus atau Oseltamivir ini. Jika menunjukkan tanda bahaya, segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat,” katanya kepada wartawan, Selasa (29/9), dikutip dari Jawa Pos.com.
BACA JUGA: Waspada, Influenza A Meningkat, Anak Berisiko Komplikasi Berat
Ia menerangkan, oseltamivir bukan obat yang digunakan secara massal maupun dikonsumsi sekadar untuk berjaga-jaga. Pemberiannya harus berdasarkan pemeriksaan dan pertimbangan dokter, dengan melihat kondisi pasien.
“Oseltamivir bukan obat yang digunakan secara massal atau diminum untuk jaga-jaga tanpa penilaian medis,” tegasnya.
Lucia menjelaskan, penggunaan oseltamivir terutama ditujukan bagi pasien influenza dengan kondisi tertentu. Di antaranya pasien dengan influenza terkonfirmasi yang mengalami kondisi berat dan dirawat di rumah sakit, pasien dengan penyakit penyerta atau komorbid, serta kelompok yang memiliki risiko komplikasi.
Kelompok berisiko tersebut antara lain anak berusia di bawah dua tahun, lansia berusia di atas 65 tahun, dan ibu hamil.
Dalam penanganan influenza, pengobatan juga diutamakan untuk mengatasi gejala yang muncul dengan tetap mempertimbangkan kondisi masing-masing pasien. Kemenkes juga mengingatkan masyarakat agar tidak menggunakan antibiotik secara sembarangan.
“Juga tidak kami sarankan menggunakan antibiotik jika tidak terdapat infeksi sekunder lainnya,” jelas Lucia.
Di sisi lain, pemerintah memastikan upaya pemenuhan stok oseltamivir tetap dilakukan, terutama untuk pasien yang memang membutuhkan obat tersebut. Kemenkes telah melakukan percepatan importasi dan distribusi untuk menjaga ketersediaannya.
“Pemerintah akan memastikan ketersediaan obat untuk pasien yang membutuhkan. Sekali lagi, untuk pasien yang membutuhkan,” pungkas Lucia. (jpc)











