Berita Bekasi Nomor Satu

Gas Asap

 

Oleh Dahlan Iskan

Di samping mengeluh dan marah, apa yang dilakukan orang Singapura selama dapat kiriman asap dari kebakaran hutan di Indonesia?

 

Dari enam orang yang makan bersama saya di salah satu restoran Sichuan Singapura tidak satu pun yang tidak beli penjernih udara. Itu untuk dipasang rumah masing-masing. Harga mesin purifier pun langsung naik dua kali lipat. Yang paling laris merek Xiaomi. Enam orang enam Xiaomi.

 

“Sekarang AC di rumah saya hidup 24 jam sehari,” ujar Robert Lai, sahabat Disway di sana. Ia warga Singapura kelahiran Hong Kong. “Itu karena kami tidak berani buka jendela agar tidak ada asap masuk rumah. Kalau AC tidak menyala ruangan jadi panas,” tambahnya.

“Juga beli purifier?”

 

“Iya.”

 

“Juga merek Xiaomi?”

 

“Iya.”

 

Perubahan hidup lainnya: kian banyak orang yang ke ”bilik O2”. Ukuran biliknya tidak sampai 1×1 meter. Hanya cukup untuk satu orang. Ke dalam bilik itu dimasukkan oksigen murni. Yakni setelah orang masuk ke dalamnya.

 

Ada sekitar 10 stasiun ”bilik O2” di seluruh Singapura. Satu stasiun ada yang punya enam bilik. Awalnya bilik O2 untuk kebugaran paru dan kulit. Juga untuk kelengkapan klinik kecantikan. Tapi sejak ada kiriman asap dari Indonesia, bilik itu juga untuk pasok oksigen tambahan ke dalam paru.

“Satu jam SGD500,” ujar seorang wanita yang sudah beberapa kali masuk bilik O2.

 

Ketika dia mengucapkan itu otak saya berhitung: sebelum ada kiriman asap apakah dia juga bayar O2 sebanyak 500×24 ke alam. Saya tidak berani mengucapkannya.

 

Masih ada kebiasaan baru lainnya orang Singapura: lebih rajin minum madu. Maka madu Selandia Baru jenis Manuka laris –dipercaya mengandung anti oksidan tinggi. “Sudah sebulan tiap hari kami sekeluarga minum madu,” katanyi.

 

Itu belum cukup. Masih harus rajin minum obat herbal dari Tiongkok. Sudah berbentuk kapsul. Ditambah satu obat batuk non herbal –yang warnanya stabilo mencolok.

Tidak hanya paru dan tenggorokan orang Singapura yang terganggu asap. Banyak restoran yang juga batuk-batuk: begitu aplikasi penanda kualitas udara menunjukkan angka 270 psi banyak orang tidak mau keluar rumah: restoran ikut sepi.

 

Maka bertambahlah yang marah-marah di medsos. Marah ke Indonesia. Sebaliknya banyak juga orang Indonesia yang balas marah-marah ke Singapura. Saling berbalas marah.

 

Maka ketika ada berita Indonesia menghentikan pasok gas ke Singapura dibilang itu bagian dari marah-pembalasan dari pihak Indonesia.

Tanggal 24 Oktober kemarin Indonesia memang memangkas pasok gas ke Singapura. Mulai berlaku hari itu juga. Jumlah pangkasannya 31 juta kaki kubik per hari. Yakni dari Natuna 15 juta dan dari Sumatra 16 juta kaki kubik.

 

Gas itu sampai di Singapura untuk pembangkit listrik milik swasta di sana. Jumlah itu bisa untuk menghasilkan listrik 120 MW. Itu memang tidak ada artinya dibanding kebutuhan listrik seluruh Singapura sekitar 8.500 MW.

 

Memangkas pasok gas itu mudah: tinggal menutup atau mengecilkan kran di pipa di percabangan ke arah Singapura. Di bawah laut sana pipa gas itu bercabang-cabang. Tiap percabangan dipasang kran buka-tutup.

Pipa gas dari Indonesia ke Singapura itu datang dari dua arah: dari arah Natuna dan dari arah Sumatera. Ratusan kilometer panjangnya. Yang dari Sumatera datang dari dua arah pula: dari Lampung-Palembang dan dari arah Riau. Di dekat Batam ada cabang pipa ke Batam.

 

Yang dari arah Natuna ke Singapura juga ada cabang ke Batam. Yang dari arah Natuna itu tersambung pula dengan pipa yang dari arah Riau.

 

Di Lampung sana pipa itu tersambung ke arah Cilegon, Jakarta, Cirebon, Semarang, Cepu, Gresik, sampai ke ujung Madura. Di Gresik bercabang ke Surabaya sampai mentok di Probolinggo (Leces).

Idealnya, yang dari arah Lhokseumawe, Aceh, menuju Medan juga tersambung dengan jaringan pipa Riau. Sekarang masih terputus di Bagansiapiapi.

 

Maka ketika pemerintah memutuskan menghentikan pasok gas ke Singapura, petugas tinggal menutup kran di percabangan ke Singapura.

 

Apakah Singapura tidak tambah marah?

 

Saya mengamati itu selama di Singapura. Belum ada reaksi keras dari pihak Singapura. Yang ada baru sebatas pernyataan bahwa penyaluran gas ke Singapura itu ada perjanjian kontraknya. Pun baru diperpanjang tahun 2022. Singapura masih sebatas minta agar semua pihak menghormati kontrak.

Di medsos ada omelan: Indonesia kelihatannya ketularan Donald Trump. Begitu kepentingan dalam negeri terganggu, keputusan sepihak dilakukan.

 

Indonesia memang lagi kekurangan gas. Agak akut. Batam kekurangan gas. Pabrik pupuk Sriwijaya kekurangan gas –untuk diubah jadi amoniak dan akhirnya jadi pupuk. Industri di Jawa Barat menjerit-jerit tidak ada kepastian harga maupun pasokan gas.

 

Indonesia bikin keputusan sepihak. Kali ini semua pihak di Indonesia kelihatannya memuji keputusan Prabowo-Bahlil dalam mengatasi kekurangan gas dalam negeri.

 

Bahwa Singapura teriak-teriak biarkan saja. Toh pasokan gas dari Indonesia itu tidak sampai 1 persen kebutuhan gas Singapura. Karena itu Singapura tidak mau menunjukkan rasa panik untuk menjaga ketenangan kalangan bisnis mereka.

Sebagian besar gas untuk negeri itu didatangkan dari Qatar dan Australia. Qatar sudah lama punya terminal LNG kelas raksasa. Australia punya terminal LNG baru di dekat Darwin.

 

Bagi Singapura kehilangan gas dari Indonesia tinggal menambah permintaan ke Qatar –kalau Iran tidak sedang blokade selat Hormuz. Masalahnya: bagaimana kalau harga gas Qatar lebih mahal dari gas Natuna. Mungkin akan terjadi kompromi. Selisih kemahalan tersebut dibuat sharing pain.

 

Atau Indonesia tidak mau tahu. Pokoknya produksi gas dalam negeri diutamakan untuk keperluan dalam negeri. Bisa juga dalam kontrak memang ada klausul seperti itu.

Apakah Indonesia juga akan berani menyetop pasok gas dari LNG Tangguh ke Tiongkok –lewat terminal LNG di pantai Putian, Fujian? Dengan alasan toh investasi Tangguh sudah terbayar kembali? Dan harga jual gas di zaman Presiden Megawati tersebut dianggap kelewatan murahnya?

 

Juga beranikah menghentikan ekspor gas dalam bentuk LNG ke Jepang –dari terminal LNG Donggi Senoro dekat Luwuk Banggai?

 

Perang sosmed soal asap kelihatannya akan berlanjut ke perang medsos soal gas. Tidak ada pabrik senjata yang diuntungkan ketika yang meletus adalah perang di medsos.(Dahlan Iskan)