Berita Bekasi Nomor Satu

Simalakama Banjir vs Pandemi

Ira Peliatwati
Ira Peliatwati
Ira Peliatwati
Ira Peliatwati

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Sudah menginjak akhir kuartal pertama tahun 2021, debit air kali Ciherang belum juga surut. Mungkin hujan di hulu menjadi salah satu penyebab air kiriman masih tinggi. Sementara wilayah yang dilalui, Kali Ciherang, tak semuanya memilki tanggul yang berfungsi sebagai penahan derasnya arus jika meluap. Dan banjir ini, bukan kali petama terjadi, namun tak juga membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi bertindak.

Setidaknya, Pemkab Bekasi lebih berani mengklaim sejak awal tahun 2021, siap hadapi banjir . Apakah sudah dibekali dengan pemanfaatan tehnologi informasi dan komunikasi untuk mitigasi bencana dan mengantisipasi dengan deteksi tinggi muka air di tiap titik yang terintegrasi dengan masing-masing bendungan yang mengaliri seperti Daerah Aliran Sungai (DAS), syphon Cibeet, Bendung Kedung Gede, Bendung Cikarang, Bendung Bekasi dan Bendungan Ir. H. Djuanda atau lebih dikenal dengan nama Jatiluhur?

Sungguh ini merupakan akumulasi pembiaran yang sudah bertahun-tahun tanpa melakukan tindakan, sehingga mengakibatkan banjir besar yang menjadi kado spesial bagi Bupati Bekasi, Eka Supria Atmaja, dan nyaris 90 % dari 23 kecamatan di Kabupaten Bekasi akibat curah hujan yang meningkat dan meluapnya sungai-sungai besar, seperti Citarum, Cibeet, Kali Ciherang, Kali Ulu, Kali Cipamingkis dan Cilemahabang.

Dampak meluapnya Kali Ciherang, sudah selama satu bulan ini merendam sekitar 80 % wilayah Desa Pantai Harapanjaya, dan 30 % Desa Jayasakti, Kecamatan Muaragembong, serta merendam 30 % wilayah Desa Lenggahjaya, Kecamatan Cabangbungin di sisi utara Kabupaten Bekasi, serta beberapa wilayah desa di kecamatan lain.

Lantas apa kabar pandemi selama banjir menggenangi wilayah Kecamatan Muaragembong selama kurun waktu sebulan ini?

Bisa dipastikan, tingkat kepatuhan masyarakat dalam pelaksanaan protokol kesehatan (prokes) telah luntur. Sebab kebutuhan korban banjir terutama pemenuhan kebutuhan sehari-hari warga akan dengan mudah menggampangkan betapa bahayanya Covid-19.
Juga merlupakan bahwa memakai masker, menjaga jarak dan menjauhi kerumunan masih diterapkan selama Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang masih diperpanjang hingga akhir 8 Maret 2021.

Meski data perkembangan kasus Covid-19 di Kecamatan Muaragembong tidak ditemukan kasus aktif (nihil kasus), setidaknya waspada terhadap siapa pun pendatang sangat perlu. Menghargai para pendatang yang telah berniat baik untuk membantu meringankan derita korban dan warga terdampak banjir seperti makan buah simalakama.

Pastinya, terdapat banyak bantuan yang berbentuk bahan makanan, pelayanan kesehatan dan materi apakah bisa dipastikan steril dari virus Covid-19? Wallahualam memang.

Antusiasme warga terhadap bantuan yang datang juga sering melupakan di mana masker, apa lagi jika mereka tengah berada di pengungsian, sebab rumah sudah sejak sebulan lalu terendam dan waktu belum juga menunjukkan surut. Bagi mereka menyelamatkan nyawa keluarga dari bencana lebih oenting timbang masker melawan Corona.

Dikategorikan pengungsi karena rumah tidak bisa digunakan untuk beraktivitas diakibatkanya tinggnya debit air yang merendam, maka warga mengungsi ke tempat yang lebih tinggi dan aman. Ini nampak di sekitar jalan raya Desa Harapanjaya dari arah pertigaan Kampung Balekambang, ada beberapa tenda yang didirikan baik secara mendiri mau pun bantuan dari lembaga.

Warga korban yang masih bertahan hidup pun masih banyak kami temui tetap beraktivitas di rumah mereka meski harus dalam keterbatasan gerak disebabkan ada yang genangan air masih ada di dalam rumah. Maka jika kondisi surut dengan sigap akan segera membersihkan sisa lumpur bekas banjir.

Banyak juga kendala yang dihadapi warga yang bertahan, seperti kebutuhan pokok yang sulit didapat, bersih, akses yang masih terendam, akomodasi yang terbatas, ular yang mengintai tempat yang hangat dan pasokan listrik yang putus nyambung.

Perhatian kepada warga yang menjadi korban, tentunya menjadi baper warga terdampak banjir. Apa bedanya?

Warga terdampak banjir karena rumah bisa jadi tidak terendam tapi petak sawah yang menjadi penopang hidup mereka ke depan ikut terendam. Bagi para petani bisa jadi beberapa petak sawah yang menguning bisa menyebabkan gabah menjadi basah dan berharga murah.

Kegagalan panen juga membayangi petak sawah yang bibitnya sudah menetaskan butiran padi. Belum lagi ratusan hektar kebun yang biasanya mulai menyemai bibit timun suri untuk dipanen awal Ramadhan nanti bisa dipastikan tak akan tertanam lagi.

Beberapa donor yang berdatangan juga memiliki syarat jika terjun di lapangan pasti melengkapi diri dengan masker dan hand sanitizer terkadang mereka lupa membagikan masker sebagai antisipasi pandemi. Sekaligus mengingatkan warga bahwa pandemi belum selesai.

Namun kebaikan seolah dimanfaatkan oleh sebagian oknum untuk menimbun sembako yang dibagikan. Beberapa di antara mereka bahwa mengajak keluarga dan saudara bahkan anak kecil dalam gendongan dengan baju yang sengaja compang camping dan wajah memelas mengaku belum dapat bantuan.

Selama akhir pekan kami menganalisa segerombolan pemain (sebutan yang diberikan aparat desa) yang selalu berkerumun tanpa mengenakan masker mondar- mandir dan komat- kamit seolah sedang sibuk dengan mantera memandang mobil dengan kap terbuka yang terlihat membawa tumpukan karton dan karung yang tertutup dan terikat rapi. Bisanya ketua RT setempat akan menghindari mereka karena malas ribut demi urusan perut.

“Awang ribut ama mpuan, cuma urusan sembako. Mrepetnya kayak petasan renteng, Bu!”, tutur seorang RT saat ditanya kenapa tidak ditegur dengan baik. Sebab hal ini pasti akan merusak citra seluruh warga desa.

Beberapa di antaranya malah berusaha mendekati sopir yang mengawal bantuan tersebut. Kadang upayanya disertai pembenaran gerombolan pemain lainnya untuk menguatkan alibi bahwa bantuan tak pernah mereka dapatkan.

Mungkin alibi mereka akan berhasil dan bisa menyentuh rasa kasihan jika para pendonor tak memiliki kawalan jejaring yang kuat di lapangan. Namun beberapa donor lebih mengupayakan titik-titik kritis yang aksesnya sulit dijangkau dan belum tersentuh bantuan berdasarkan data dan informasi yang bisa dipertanggungjawabkan.

Bisa jadi semua pihak harus saling mengingatkan baik selama berinteraksi sebagai apa pun peran kita ketika berhadapan dengan warga. Mempersenjatai donatur dengan masker yang dibagikan disertai pengetahuan tentang bahaya yang mengintai Covid-19.

Melakukan pembagian berkolaborasi dengan aparat setempat lebih terarah dan berkelompok akan sangat memudahkan dalam mendata sebaran bantuan agar lebih merata bagi kelompok korban mau pun kelompok terdampak banjir.

Pemerintah baiknya lebih mampu mengupayakan penggunaan tehnologi informasi sebagai salah satu cara mitigasi bencana dan mengajarkan tentang literasi kebencanaan yang bisa dilakukan dari pendidikan usia dini hingga pendidikan tinggi baik atau bisa memulai dari kelompok kecil dalam lingkup warga misal Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW) setempat.

Kabupaten Bekasi memang hanya hilir dari berbagai berbagai sungai yang melalui, meski kewenangan terletak di Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum dan BBWS Ciliwung Cisadane sebagai pengelola utama tetap harus berupaya, tanpa saling tuding dan berbuat rasanya tak elok, bukan?!

Kepekaan pemerintah Kabupaten Bekasi terhadap pendangkalan sungai dengan melakukan normalisasi sungai kecil, memperbaiki saluran air dan membangun tanggul penahan secara konsisten, berkesinambungan serta diupayakan berkala. Ini pasti butuh perhatian ekstra juga jika musim hujan tiba.

Keberanian dan keseriusan Pemkab Bekasi dalam merawat sungai, akan teruji dengan merapikan bangunan liar di bantaran sungai. Atau setidaknya membuat wahana wisata air tanpa merusak lingkungan sekitarnya. (*)

Pegiat Literasi Kabupaten Bekasi